Site icon nuga.co

Pengungsi Sinabung Membludak

Pengungsi Sinabung mengamankan ternaknya ke atas mobil angkutan

Pengungsi Gunung Sinbaung selama dua hari terakhir membludak dari enam ribu jiwa menjadi lebih dari tujub belas ribu orang dari tujuhbelas desa dan empat dusun yang dinyatakan berada dalam lingkaran tingkat “awas,” usai erupsi yang bergelombang Sabtu dan Minggu, akhir pekan lalu.

Arminsyah, wartawan “nuga.co,” dari Medan, Sumatera Utara, Selasa siang melaporkan dari Kabanjahe, Kabupaten Karo, kondisi Sinabung sepanjang hari ini dalam kondisi tenang.

Kemungkinan, gunung api yang diam selama empat ratus tahun itu, sedang mengambil ancang-ancang untuk melepaskan gelembung erupsinya yang menyebabkan menyebarnya abu vulkanik hingga mencapai Medan, Kuala Namu dan juga diterbangkan angin sampai ke Bakongan dan Tapaktuan di Aceh Selatan.

Sejak pagi, menurut laporan Arminsyah, para pengungsi ada yang datang dan ada juga yang pulang. “Ada yang bertahan di desanya, padahal jaraknya Cuma tiga kilometer. “Mereka bertahan karena mengamankan produksi pertaniannya.

Seperti, Karen Sembiring, yang ditemui Arminsyah di Desa Bekerah terlihat sedang mengeluarkan jagung pipilan dari gudangnya untuk dijemur.”Kalau saya tidak amankan jagung ini dari mana sumber kehidupan saya,” kata Karen.

Ia mengatakan akan menggiling jagungnya itu bila kering dan mengamankan ke gudang-gudang di Kabanjahe. “Saya akan jual jagung ini untuk b iaya hidup,” ujarnya dengan serius.

Arminsyah yang mengutip data dari staf BNPB di Kabanjahe mengabarkan, jumlah pengungsi akibat letusan Gunung Sinabung yang tercatat secara keseluruhannya berjuml;ah 17.713 orang. Bertambahnya pengungsi akibat peningkatan status awas Gunung Sinabung sehingga penduduk desa-desa di radius lima kilometer harus diungsikan.

Pengungsi ini berasal dari tujuh belas desa di dalam radius lima kilometer dan empat desa arah bukaan kawah yang rawan lontaran materiaul gunung. Mereka mengungsi di tiga puluh satu pos pengungsian.

“Belum semua masyarakat di daerah tersebut mengungsi karena beberapa pertimbangan seperti masih merasa aman, menjaga rumahnya, ternak, lahan pertanian dan sebagainya,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, yang dikutip Arminsyah untuk “nuga.co,” hingga siang ini.

BNPB memastikan bahan makanan untuk pengungsi masih cukup hingga tiga hari ke depan. Sedangkan bantuan BNPB berupa logistik dan peralatan senilai Rp 3,93 miliar sebagian telah tiba di Karo.

Sementara itu di Jakarta, seperti dikutip “nuga.co,” dari Kantor Berita Antara, Presiden SBY menggelar rapat terbatas terkait letusan Gunung Sinabung. Presiden SBY ingin mengetahui kondisi terkini dari bencana alam tersebut.

“Tolong saya diupdate perkembangan terkini oleh saudara Menko Kesra dan nanti kepala BNBP,” ujar Presiden SBY di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa, 26 November 2013..

Setelah mendapat laporan, SBY ingin pihak terkait mengambil langkah-langkah untuk mengatasi atau mencegah terjadinya korban jiwa dan harta benda atas apa yang terjadi di Gunung Sinabung.

“Tolong dilaporkan kepada saya, apa yang telah kita lakukan untuk membantu masyarakat kita lebih tenang ketika menghadapi dan mengalami musibah bencana alam yang tergolong dahsyat,” imbuhnya.

Kemarin, Senin, 25 November, Gubernur Sumatera Utara) Gatot Pujo Nugroho memperingati Hari Guru di lokasi pengungsian Bencana Gunung Api Sinabung, di Kabanjahe, Kabupaten Karo. Di tengah cuaca terik dan terpaan abu vulkanik, peringatan hari guru itu dilaksanakan dengan sederhana.

“Terimakasih, walaupun dalam suasana bencana seperti ini, para guru masih menunaikan kewajibannya mengajar anak-anak kita,” ujar Gatot sembari memberi bunga sebagai ungkapan terima kasih kepada para guru di Zentrum GBKP Kabanjahe..

Dalam kesempatan itu, Gatot meminta para guru untuk tak putus semangat menunaikan kewajiban mengajar meski saat ini sedang menghadapi situasi yang sulit.

Dikatakannya, pihaknya terus berupaya memenuhi kebutuhan dasar warga yang pengungsi. Sementara pemerintah setempat mengkoordinasikan anak-anak pengungsian bisa tetap belajar di sekolah-sekolah sekitar lokasi pengungsian. Proses belajar-mengajar hendaknya tetap berlanjut walau dalam suasana yang sulit.

“Anak-anak kita tetap harus belajar, terima kasih atas tanggungjawab dan keikhlasan bapak-ibu guru sekalian,” ujar Gatot.

Gatot yang juga pernah melakoni profesi pengajar selama 25 tahun ini pun tak menyia-nyiakan waktu dengan memberikan motivasi bagi para pelajar. Kepada anak-anak yang hadir, Gatot menjelaskan bahwa meskipun saat ini Gunung Sinabung menganggu manusia, hewan dan tumbuhan, namun kelak letusan gunung akan bermanfaat bagi kehidupan.

“Hikmah dari ini, setelah letusan, tanah menjadi semakin subur secara jangka panjang,” ujar Gatot.

Exit mobile version