Site icon nuga.co

Gunung Sinabung Meletus, Warga Panik

Gunung Sinabung meletus. “Alamat-lah Medan menjadi abu.” Pesan itu disampaikan sembari bercanda, dengan mengutip sebuah lagu “melayu,” yang sangat popular di awal tahun enampuluhan, oleh kontributor “nuga.co” di Medan Arminsyah, Minggu pagi, 15 September 2013.

Sebenarnya, Arminsyah tidak bercanda penuh. Gunung Sinabung, yang terletak di Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, meletus lagi pada pukul 03.00 WIB, Minggu dinihari. Gunung ini pernah meletus di tahun 2010 yang menyebabkan ribuan orang mengungsi penduduk di dua kecamatan, Naman Teran dan Payung harus berada di pengungsian selama berminggu-minggu.

Menurut “email” yang dikirim Arminsyah, letusan Sinabung kali ini tidak sedahsyat pada tahun 2010. Tapi penduduk sangat tekejut di dinihari itu dan langsung mengungsi karena ketakutan dengan debu dan lahar yang disemburkannya.

Sudah ribuan yang mengungsi, tulis Arminsyah dalam laporannya. Bahkan penduduk di daerah-daerah yang tidak terkena dampak letusan pada 2010 juga ikut mengungsi dalam letusan kali ini.

Badai debunya cukup hebat. Faktor inilah yang mengakibatkan warga panik dan berupaya mengungsi ke Ibu Kota Kabupaten Karo di Kabanjahe, yang terbilang cukup aman. Dalam pengungsian itu terjadi kepanikan yang menimbulkan tabrakan beruntun yang melibatkan sepeda motor dan dua unit minibus.

Tabrakan itu terjadi saat proses evakuasi korban di sekitar perempatan Jalan Udara dan Jalan Besar Jamin Ginting Kota Berastagi di Minggu dini hari.

Akibat insiden itu, pengendara sepeda motor terpaksa dilarikan ke klinik yang berlokasi tak jauh dari lokasi kecelakaan. Sementara kedua penumpang minibus dipastikan selamat, namun bagian samping depan kedua mobil, mengalami kerusakan cukup parah.

“Yang naik kereta tadi mungkin patah kakinya. Soalnya dibopong tadi dia jalan ke rumah sakit sambil kesakitan. Kalau yang mobil, cuma mobilnya saja rusak. Sopirnya ada yang luka cuma enggak parah. Penumpangnya selamat semua,”tambahnya.

Suasana lalu lintas di sekitar kota Berastagi, memang agak sedikit semraut pasca letusan Gunung Sinabung. Banyak warga yang mencoba menyelamatkan diri menuju Kabanjahe dan Berastagi, yang dianggap lebih aman. Namun ironisnya, banyak warga yang mengabaikan rambu lalu lintas, yang menyebabkan terjadinya kecelakaan.

Redy Tarigan warga Desa Perbesi, Kecamatan Tiga Binanga, mengatakan, warga yang tertidur pulas langsung berhamburan keluar rumah begitu mengetahui Gunung Sinabung kembali meletus. Warga panik, karena letusan kali ini, bukan hanya menimbulkan gempa, tapi juga abu vulkanik yang menyesakkan nafas.

“Sudah tidur tadi kami, tapi ada gempa. Semua langsung lihat ke gunung. Karena memang beberapa hari ini ada kabar kalau gunung mau meletus. Habis gempa tadi langsung banyak debu. Makanya semua langsung lari. Ini kita sedang di jalan mau ke Kabanjahe. Numpang-numpanglah sama yang punya mobil,” kata Redy.

Hal yang sama dikatakan Bisman Sinuraya, warga Jalan Darat, Kota Berastagi. Ia menuturkan suasana Kota Berastagi menjadi sangat riuh pasca-letusan. Banyak warga dari sekitar kaki gunung, melewati rumahnya untuk menuju Kota Kabanjahe. Di Berastagi sendiri, kondisi hujan abu tidak separah pada 2010. Namun hujan abu cukup mengganggu pernafasan mereka.

“Enggak separah kemarin memang. Cuma sesaklah. Banyak kali tadi yang sudah lewat sini. Kalau kami belum mengungsi. Belum ada pemberitahuan dari petugas desa. Tapi kita sudah siap-siap,” jelasnya.

Hingga saat ini belum ada informasi terkait luas wilayah yang terkena dampak letusan. Begitu pula dengan korban jiwa yang jatuh akibat letusan tersebut. Petugas pos pengamatan Gunung Sinabung belum dapat memberikan data yang jelas terkait aktivitas gunung tersebut.

Namun wilayah kaki Gunung di sekitar Kecamatan Naman Teran dan Payung menjadi daerah yang paling parah terkena dampak muntahan debu vulkanik dan dampak letusan.

Petugas Pos Pemantauan Gunung Sinabung, Armen Putra, mengatakan, letusan terjadi sekitar pukul 03.00 WIB dini hari tadi. Namum pihaknya belum dapat memastikan luas daerah terdampak letusan.

“Tadi sekitar pukul 03.00 WIB, dan memuntahkan abu vulkanik ke sejumlah desa di sekitar kaki gunung. Antara lain beberapa desa di Kecamatan Naman Teran dan Kecamatan Payung,” ujarnya menjelaskan.

Armen juga mengatakan, pihaknya saat ini tengah berupaya mengumpulkan data, sehingga belum dapat dipastikan adanya korban jiwa dalam letusan kali ini.

“Saya belum bisa bicara banyak. Ini masih kita kerjakan.Kita juga masih fokus pada evakuasi,” sebutnya sambil menutup pembicaraan.

Sebelumnya, Gunung Sinabung yang berada di Kecamatan Naman Teran, pernah meletus pada 2010. Tidak ada korban jiwa dalam letusan tersebut, namun pemerintah pusat sempat mendapatkan perhatian cukup besar, akibat jumlah pengungsi mencapai puluhan ribu orang. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun melawat ke lokasi-lokasi pengungsian, untuk melihat langsung korban letusan.

Exit mobile version