Site icon nuga.co

Universitas Al-Azhar Dibakar

Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, dibakar demonstran dalam bentrokan antara Ikhwanul Muslimin, pendukung presiden terguling Mohamad Morsi, dengan tentara yang menewaskan empat orang dan lebih dari tiga ratus orang ditangkap.

Jaringan televisi Al-Jazzera, Sabtu, 28 Desember 2013, malam waktu Kairo, menayangkan “breaking news” secara “live” dengan fokus bentrokan brutal antara kedua pihak, dengan latar gedung kampus yang dilalap api.

Rreporter lapangannya, Hamid Sulthan, sembari menunjuk gedung yang terbakar mengabarkan, para demonstran terus melempari tentara dengan bom molotov, batu dan apa saja yang bisa mereka lakukan. Tentara melepaskan tembakan dengan peluruh tajam kea rah demonstran.

Demonstrasi pendukung Ikhwanul Muslimin, menurut Al Jazzera, tidak takut dengan tembakan tentara kearah mereka. Mereka meneriakkan dikembalikannya Morsi sebagai presiden.

Ikhwanul Muslimin, dalam pekan ini, telah diklaim oleh Pemerintah ad-interim Mesir sebagai kelompok teroris. Dan konflik politik Mesir ini telah meluas dan merembet ke Universitas Al Azhar.

Seorang mahasiswa Al Azhar terbunuh dalam aksi itu. Mahasiswa Al Azhar yang tewas bernama Khaled el-Haddad. Polisi menyatakan Haddad merupakan pendukung kelompok Ikhwanul Muslimin yang baru saja dinyatakan sebagai organisasi teroris.

Gedung Universitas Al Azhar yang terbakar yakni gedung milik Fakultas Perdagangan dan Fakultas Pertanian. Polisi menyatakan, mahasiswa pendukung Ikhwanul Muslimin berada di balik aksi pembakaran.

“Mereka adalah mahasiswa teroris,” sebut pernyataan yang dikeluarkan stasiun televisi milik Pemerintah Mesir, seperti dikutip Reuters, Minggu , 29 Desember 2013..

Ikhwanul Muslimin membantah tuduhan pihak kepolisian. Mereka menuduh balik pihak kepolisian yang memicu kebakaran.

“Aparat melakukan kekerasan terhadap mahasiswa untuk menutup mulut mereka,”sebut pernyataan dari Ikhwanul Muslimin.

Seperti diberitakan kantor berita “Reuters,” bentrokan tidak hanya terjadi di wilayah Kairo tapi juga di empat kota lainnya di Mesir. Kementerian Kesehatan melaporkan, 87 orang mengalami luka-luka dalam bentrokan ini.

Korban tewas pertama merupakan seorang pendukung Ikhwanul Muslimin. Dia ditembak mati di wilayah Damietta, Nile Delta. Korban tewas kedua merupakan seorang pria yang tewas terbunuh di wilayah Minya, yang menjadi basis kelompok Islam radikal di Kairo.

Korban tewas ketiga dilaporkan berasal dari Kairo, namun Kementerian Dalam Negeri Mesir tidak menjelaskan lebih lanjut kronologi kematiannya. Korban tewas terakhir tewas dalam bentrokan yang terjadi di wilayah Aswan.

Kementerian menambahkan, aparat keamanan Mesir menangkap sedikitnya 265 pendukung Ikhwanul Muslimin dari seluruh wilayah Mesir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 28 orang berjenis kelamin perempuan.

Bentrokan terus terjadi di wilayah Mesir terutama pasca penggulingan Mohamed Morsi dari kursi Presiden Mesir pada 3 Juli lalu. Pendukung Morsi yang juga pendukung Ikhwanul Muslimin terus melakukan unjuk rasa menyerukan pembebasan Morsi yang kini tengah menjalani persidangan di pengadilan setempat.

Sejak Selasa lalu, kelompok Ikhwanul Muslimin dinyatakan sebagai organisasi teroris setelah serangan bom bunuh diri yang menewaskan enam belas orang di kantor polisi setempat. Ikhwanul Muslimin sendiri mengecam serangan tersebut dan menyalahkan kelompok radikal yang berasal dari Semenanjung Sinai.

Exit mobile version