Site icon nuga.co

Tentara Kuasai Kardasa Dari Ikhwanul

Setelah mengepung selama dua hari, militan Ikhwanul Muslimin gagal mempertahankan “kota” Kardesa, dikawasan Giza, pinggiran Kairo. Tentara bersama polisi Mesir dikerahkan untuk mengambialih kembali otoritas “kota” Kardesa setelah selama sebulan lebih dikuasai militan.

Usai merebut Kardesa, tentara dan polisi melakukan pembersihan dengan mengejar para pentolan Ikhwanul Muslimin dan menangkapi para pendukungnya. Menurut kantor berita resmi Mesir, “Mena,” militant bersenjata yang menyandera Kardasa kini menghindarkan dari penangkapan dengan menyusup ke tengah masyarakat.

Penyusupan ini dimungkinkan karena Kardasa sendiri dihuni oleh pendukung setia Ikhwanul selama puluhan tahun. Secara historis Kardasa adalah “perkampungan” Ikhwanul. Dan “Mena” memperkirakan polisi dan tentara tidak akan mudah untuk menangkapi militant itu.

Media lokal Mesir menyebutkan, militer merebut Kardasa pada Jumat 20 September 2013 waktu setempat. Tetapi, menurut sumber militer Mesir, keadaan di Kardasa belumlah stabil.

Pasukan gabungan antara militer dan polisi menyerbu Kardasa sejak Kamis 19 September. Kota ini menjadi target dari otoritas keamanan Mesir setelah terjadi gelombang perlawanan besar terhadap Pemerintah Mesir sejak digulingkannya Presiden Mohamed Morsi pada Juli.

Dalam aksi pembersihan militer Mesir hanya bisa menahan 85 orang dalam penyerbuan. Sebanyak 21 orang dari 85 yang ditahan tersebut dituntut karena melakukan penyerangan ke pos polisi pada 14 Agustus yang mengakibatkan 11 petugas tewas. Sementara sisanya hanya akan dituntut akibat terlibat dengan organisasi teroris.

Jumlah yang ditangkap polisi tidak sebanding dengan upaya operasi yang mereka lakukan. Karena dalam penyerbuan itu seorang Jenderal Polisi, Wakil Kepala Polisi Kairo, tewas tertembak.

Dan menurut laporan “AFP,” jumlah militant yang mempertahankan kota Kardasa jumlah ratusan, dan pengikut Ikhwanul yang mendiami Kardasa, dan pengikut Ikhwanul yang mendiami Kardasa jumlahnya ribuan.

Kardasa dikenal sebagai salah satu kota bertensi panas di Mesir. Petugas kerap menerima serangan tiba-tiba dari penduduk setempat yang mendukung Ikhwanul Muslimin. Salah satu korban perlawanan penduduk Kardasa yakni petinggi Kepolisian Mesir, Jenderal Nabel Farraq.

Selain melakukan penangkapan terhadap pelaku kericuhan, militer Mesir juga menyita pasokan senjata ilegal yang mereka temukan setelah penyerbuan usai. Senjata yang disita di antaranya senjata api, roket, dan beberapa granat.

Sementara itu, awal pekan ini, tentara Mesir, telah mengambilalih kendali kota kecil Delga di Provinsi Minya yang juga, selama lebih dari satu bulan dikuasai kelompok pendukunh Morsi dan Ikhwanul Muslimin.

Militer menembakkan gas air mata dan menggeledah rumah-rumah untuk mencari para tersangka pembakar gereja dan peneror warga dan menahan sekitar 56 orang serta menyita sejumlah senjata dari para tersangka itu.

Selain itu, militer juga menutup 32 akses keluar masuk kota dan menerapkan jam malam di siang hari. Kantor berita MENA melaporkan kota Delga yang berpenduduk 120.000 orang, yang selama 31 hari dikuasai para loyalis mantan presiden Mohammad Morsi.

Sejak dikuasai kelompok pro-Morsi ini, tiga gereja dibakar, puluhan rumah warga Kristan dihancurkan, dan dua orang pemeluk Koptik dibunuh. Demikian peneliti Inisiatif Mesir untuk Hak Personal, Ishal Ibrahim.

“Setidaknya 100 keluarga pergi meninggalkan kota ini karena khawatir akan keselamatan jiwa mereka,” kata Ibrahim lewat akun Twitter-nya.

Penyerbuan kota Delga ini masih merupakan rangkaian operasi pembersihan para pengikut Mohammad Morsi dan Ikhwanul Muslimian yang dilakukan militer sejak menggulingkan Morsi pada 3 Juli lalu.

Exit mobile version