Site icon nuga.co

Stok dan Harga Masker di Singapura Resahkan Warga

Singapura, kini tidak hanya disibukkan dengan kabut asap yang masih menyelimuti negara, tapi juga panik menghadapi kecaman warganya yang mengeluhkan k esulitan mendapatkan masker. Sejak dua hari lalu, stok masker di apotik dan pertokoan di Negara Pulau itu ludes.

Kontributor “nuga.co,” Ainul Jasmi melaporkan, pemerintah sedang mencari kaki tangan pedagang yang pedagang yang membuat masker hilang dari peredaran dan mengmabil keuntungan dengan menaikkan harga masker. Mereka menyebut tindakan itu tidak bermoral.

“Ini saatnya saling membantu, bukannya mencari keuntungan sendiri,” tulis Ainul mengutip pernyataan bernada marah Menteri Lingkungan SingapuraVivian Blakrishnan, di situs Channel News Asiia

Harga masker khusus kabut asap memang meningkat tajam pekan ini. Kenaikan harga seiring dengan semakin parahnya kondisi kabut asap di Singapura. Warga Singapura juga harus dilanda ketakutan habisnya stok masker di negaranya. Menghadapi maslah tersebut, Pemerintah Singapura membagikan masker gratis pada warga yang tidak mampu.

“Saat ini Singapura sedang krisis, tindakan para pedagang itu akan diingat rakyat. Jika kondisi sudah normal mereka pasti mendapat balasannya,” tegas Balakrishnan.

Kabut asap tahun ini merupakan yang terparah yang pernah dialami Singapura. Negeri Singa itu pun mendesak Indonesia mengatasi kebakaran hutan di Sumatera yang menjadi asal kabut asap.

Singapura mulai gerah terhadap tuduhan bahwa perusahaan perkebunan sawit milik warganegaranya dan terdaftar di negaran pulau itu ikut membakar lahan gambut di Sumatera yang menyebabkan kabut asap terburuk sepanjang sejarah.

Kegerahan Singapura atas tuduhan perusahaan milik warganya ikut mengirim kabut asap ke negaranya akan dibuktikan lewat janji menghukum perusahaaan yang terlibat dalam membakar lahan gambut itu.. Namun, mereka meminta Indonesia menyerahkan buktinya terlebih dahulu.

“Saya sudah meminta Jaksa Agung mempelajari jika nantinya memang ada perusahaan kita yang terlibat pembakaran hutan,” ujar Menteri Luar Negeri Singapura K. Shanmugam seperti dikutip AFP.

“Namun semua itu tergantung dengan bukti yang diserahkan Indonesia. Mereka yang harus melakukan penyelidikan di lapangan karena itu bukan wilayah kami,” lanjutnya.

LSM lingkungan, Greenpeace, mengakui perusahaan Singapura dan Malaysia terlibat pembakaran hutan di Pulau Sumatera.“Citra satelit dari NASA menunjukkan ratusan titik api di wilayah konsesi milik perusahaan Indonesia, Singapura dan Malaysia,” sebut pernyataan yang dikeluarkan Greenpeace.

Pemerintah Indonesia menyatakan sudah menemukan delapan perusahaan yang terlibat pembakaran hutan, sedangkan 14 perusahaan lainnya masih dalam penyelidikan. Saat ini perusahaan asing yang terbukti melakukan pembakaran baru yang berasal dari Malaysia.

Untuk mengidentifikasi perusahaan-perusahaan Singapura yang ikut memproduksi asap, Menteri Luar Negeri Singapura K Shanmugan mengatakan, pihaknya akan meminta klarifikasi pihak Indonesia.

Seperti diketahui sebelumnya, kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera diduga disebabkan oleh pembukaan lahan kelapa sawit baru. Beberapa perusahaan Singapura dan Malaysia yang beroperasi di wilayah Sumatera, diyakini terlibat dalam kebakaran tersebut.

Akibat kebakaran itu, asap dari sisa kebakaran terbawa angin dan menyelimuti wilayah Singapura dan Malaysia. Mendengar tuduhan tersebut, Shanmugam pun berniat untuk meminta bukti dari Pemerintah Indonesia secepat mungkin, agar bisa memprosesnya.

Tuduhan adanya dua perusahaan yang memiliki kaitan dengan Singapura dengan pembakaran lahan gambut membuat Singapura tersengat. Kedua perusahaan itu antara lain, Sinar Mas Agro Resources and Technology dan Asia Pacific Resources International.. Perusahaan ini diketahui memiliki perkebunan yang berada di wilayah titik api.

Tetapi Menteri Lingkungan Hidup Singapura Vivian Balakhrishnan mengatakan, saat bertemu dengan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia Balthasar Kambuaya, tidak ada dari delapan perusahaan yang diidentifikasi sebagai pelaku pembakaran tersebut berasal dari Singapura.

“Kami membutuhkan klarifikasi dan pernyataan dari Indonesia lengkap dengan buktinya, karena perusahaan yang dituduh sudah membantah keterlibatan mereka,” ujar Shanmugam, seperti dikutip The Straits Times, Senin.

“Mereka mengatakan siap untuk membawa penyelidik ke perkebunan. Jadi siapa yang harus kami percayai? Sebelum kami bertindak, bukti-bukti harus diserahkan dan Indonesia harus memberikan bukti-bukti itu,” tegasnya.

Sebelumnya, Shanmugam membuka peluang untuk membawa perusahaan-perusahaan yang terbukti terlibat pembakaran ke dalam pengadilan internasional. Saat ini, Jaksa Agung Singapura tengah mempelajari adanya kemungkinan tersebut

Exit mobile version