Site icon nuga.co

Dunia Kutuk Kebiadaban Militer Mesir

Pembantaian berdarah di dua kamp konsentrasi demonstran Ikhwanul Muslim yang menentang penggulingan Presiden Mohammad Morsi, Rabu siang waktu Kairo, menjadikan situasi di Mesir berkembang dengan cepat. Dunia tercengang, berang, mengutuk dan berkesimpulan tindakan militer terhadap demonstrasi damai sebagai pemberangusan etika demokrasi serta tidak beradab.

Dari dalam negeri Mesir terdapat dua kutub berbeda di pemerintahan menanggapi aksi berdarah-darah itu. Wakil Presiden Mohamed ElBaradei menyatakan mundur. Pengunduran diri peraih Nobel Perdamaian ini terjadi tak lama setelah ratusan orang dikhawatirkan tewas setelah polisi membubarkan para pengunjuk rasa pendukung Muhammad Mursi.

“Saya merasa semakin sulit menanggung beban tanggung jawab atas keputusan yang tidak saya setujui dengan konsekuensi yang saya takutkan,” kata ElBaradei. Tokoh oposisi itu menambahkan, hati nuraninya tak bisa menerima jatuhnya korban jiwa akibat bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa.

” Pembubaran para pendukung Mursi yang menduduki Lapangan Rabaa al-Adawiya dan Al-Nahda sejak 3 Juli lalu. Akibat pembubaran itu, bentrokan terjadi di Kairo dan sejumlah kota, dan dikhawatirkan menewaskan ratusan orang.

Berlainan dengan El Baradai Perdana Menteri interim Mesir Hazem al-Beblawi memuji aparat polisi,r yang menurutnya mampu ‘menahan diri’ dalam menangani para pendukung presiden terguling Mohamed Morsi. PM Beblawi menyatakan bahwa Mesir tetap berkomitmen untuk menggelar pemilu.

Pernyataan ini disampaikan setelah ratusan orang, termasuk 43 polisi tewas dalam bentrokan di Rabaa. Aparat Mesir membersihkan kamp para pendukung Morsi di alun-alun Rabaa Al-Adwiya yang didirikan sejak beberapa minggu terakhir.

Dalam pernyataannya seperti dilansir AFP, Kamis, 15 Agustus 2013, Beblawi membenarkan penggunaan kekerasan oleh aparat Mesir dalam membubarkan pendukung Morsi. Menurutnya, selama ini para loyalis Morsi kerap menyebar teror dan kekacauan bagi warga lainnya.

Berlainan dengan kondisi di dalam pemerintahan Mesir. Publik Dunia menaganggap pembantaian itu sebuah tragedy. Untuk pertama kalinya Amerika Serikat lewat Menteri Luar Negerinya, John Kerry mengutuk pertumpahan darah di Mesir. Dia menyatakan, kekerasan ini merupakan pukulan serius untuk rekonsiliasi Mesir.

“Menyedihkan,” ujar Kerry, dalam konferensi pers seperti dikutip Reuters, Rabu malam waktu setempat atau Kamis dini hari WIB Dia menegaskan, semua pihak di Mesir harus menghindari kekerasan dan berpartisipasi untuk memulihkan arah politik Mesir.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengutuk tindakan kekerasan yang dilakukan aparat bersenjata di Mesir.

“Sebagai buntut kekerasan hari ini, Sekjen mendesak semua orang Mesir untuk memusatkan upaya rekonsiliasi,” kata Ban Ki-moon melalui juru bicaranya, Martin Nesirky, seperti dilansir dari AFP.

PBB belum memiliki data pasti mengenai jumlah korban tewas akibat bentrok aparat keamanan Mesir dengan para demonstran. “Tampak ratusan orang tewas atau terluka dalam bentrokan antara pasukan keamanan dan demonstran,” kata Nesirky.

Ban, dia melanjutkan, menyesalkan langkah represif pemerintah Mesir dalam merespon para demonstran pendukung Presiden Mohamed Morsi.

Jumlah korban dari konflik politik berkelanjutan di Mesir telah lebih dari 300 orang, sebagaimana dikutip CNN dan AFP dari otoritas setempat. Korban berjatuhan setelah pihak keamanan Mesir memaksa para demonstran pendukung Presiden terguling Mesir Muhammad Mursi meninggalkan tenda-tenda yang didirikan di Rabaa al-Adawiya dan Al-Nahda Square

Exit mobile version