Site icon nuga.co

Ternyata Memaki Itu Punya Yang Efek Sehat

Memaki itu punya efek baik bagi kesehatan.

Dan itulah yang ditulis laman kesehatan “healthy,” hari ini, Selasa, 17 Oktober.

Memaki sehat?

Ya, sebagian besar orang bisa jadi memilih menghindari perbuatan tersebut.

Selain dianggap tidak sopan, orang yang gemar memaki kerap dicap kasar dan tidak punya perasaan.

Namun, menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Cambridge, orang yang suka memaki justru lebih dipercaya dibandingkan orang yang lebih berhati-hati dalam berkata-kata

Studi tersebut membandingkan pola kejujuran antara kelompok orang yang sering memaki dengan kelompok yang sangat menyaring ucapannya.

Seluruh partisipan juga disodorkan beberapa kata umpatan dan diminta memilih kata-kata yang paling sering dan seberapa sering mereka gunakan.

Setelah itu, dengan menggunakan metode khusus, seluruh partisipan diberi pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengukur tingkat kejujuran mereka.

Hasilnya, mereka yang lebih banyak menggunakan kata-kata makian dinilai lebih jujur dan dapat dipercaya dibandingkan dengan kelompok yang berseberangan.

Alasannya karena orang yang kerap memaki, tidak berpikir panjang dalam berbicara. Karena itu dianggap lebih bisa bertutur apa adanya, termasuk soal isi dari bahan pembicaraan.

Dengan demikian, tipe orang seperti ini dinilai lebih bisa dipercaya.

Sebaliknya, orang yang sangat berhati-hati dalam melontarkan kata-kata dinilai berpotensi menyembunyikan banyak fakta agar terlihat manis di muka lawan bicaranya.

Jadi, perumpamaan “Jangan menilai buku dari sampulnya” benar adanya. Orang yang kerap memaki tak harus dicoret dari daftar pertemanan.

Walau demikian, bukan berarti budaya tersebut boleh dipertahankan. Jujur dan bertutur baik tetap dapat berjalan beriringan, bukan?

Dam memaki itu  bisa  membantu kita menyalurkan emosi negatif sehingga berdampak baik bagi kesehatan fisik dan psikis.

Jangan memandang rendah mereka yang sering memaki. Memaki ternyata memiliki dampak positif bagi kesehatan, asal tidak dilakukan terus menerus.

Emma Byrne, seorang peneliti dan penulis buku ‘Swearing Is Good for You‘ menemukan fakta bahwa memaki membantu kita menyalurkan emosi negatif sehingga berdampak baik bagi kesehatan fisik dan psikis.

Nenek moyang kita diyakini sudah menggunakan kata makian untuk mengekspresikan kemarahan tanpa kekerasan fisik.

Dengan memaki, seseorang bisa merasa lebih nyaman dan ketegangannya berkurang, sehingga ia tidak perlu melakukan tindakan lain yang tak terkendali.

Dengan turunnya ketegangan dan emosi, hal yang merugikan tidak perlu terjadi.

Bayangkan bila kita tidak bisa melepaskan amarah dengan memaki, mungkin tangan dan kaki yang akan berbicara, dan itu menimbulkan kerugian lebih besar.

Makian jelas tidak akan membuat Anda gagah. Namun penelitian menunjukkan bahwa memaki bisa meningkatkan toleransi kita terhadap rasa sakit fisik maupun emosi, juga mengurangi frustasi.

Saat memaki, tubuh kita akan memproduksi hormon adrenalin yang meminimalisir sinyal rasa sakit dalam otak.

Hal ini tentunya akan mampu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap rasa sakit, baik secara fisik maupun psikis. Memaki memungkinkan kita untuk merasa lebih baik.

Memaki ternyata mengaktifkan bagian otak tertentu yang tidak ditempati kata lain. Bahkan menurut Byrne, memaki bisa membantu penderita stroke untuk belajar bicara kembali.

“Bila seseorang mengalami stroke di sisi kiri otaknya, ada kemungkinan ia akan kehilangan kemampuan bicara,” ujarnya.

Namun karena memaki melibatkan bagian otak yang mengatur emosi dan bahasa, maka kemampuan bicara itu lebih mudah dipulihkan. “Banyak pasien otak yang bisa mengekspresikan kata makian dengan jelas,” kata Byrne.

Pasien-pasien ini tidak bisa mengucapkan kalimat “saya marah” atau “saya gembira”. Tapi mereka bisa mengucapkan makian.

Pernah ada anggapan bahwa memaki merupakan tanda kecerdasan seseorang. Namun hal itu tidak selamanya benar, karena banyak orang tolol juga bisa memaki, bahkan dengan gampang.

Lebih tepat bila disebut bahwa memaki dengan kata yang lebih beragam namun pas pada situasinya membutuhkan kemampuan otak yang lebih cerdas.

Namun seperti halnya IQ seseorang yang tidak berubah seiring waktu, kemampuan seseorang untuk memaki juga statis.

Artinya, kita tidak bisa mengajarkan seseorang untuk memaki dengan lebih kreatif pada waktu yang tepat.

Walau begitu, tidak tepat juga mengatakan bahwa hanya orang bodoh yang memiliki perbendaharaan kata makian sedikit.

Nyatanya penelitian yang dilakukan Marist College tahun lalu menemukan bahwa mereka yang lebih sering memaki akan memiliki lebih banyak kata makian.

Bedanya, mereka yang cerdas mampu menciptakan dan menggabungkan kata-kata makian menjadi sesuatu yang memiliki arti unik.

Nah, jika anda ingin menyalurkan emosi negatif, memaki adalah solusi yang bisa dilakukan. Namun, kita tetap harus memperhatikan situasi dan kondisi yang tepat untuk memaki.

Exit mobile version