Site icon nuga.co

Ternyata, Bentuk Tubuh Buah Pir Rentan Penyakit

LUPAKAN berbangga-bangga dengan bentuk tubuh bagaikan buah pir. Bentuk tubuh, terutama wanita yang merujuk seperti J Lo, dengan bokong merangsang dan mengundang decak kagum. Ternyata, menurut penelitian, bentuk tubuh yang sering disebut dengan aduhai ini rentan didatangani penyakit. Dan ternyatan pula  mereka yang memiliki bentuk tubuh seperti buah pir tidak lebih baik daripada yang memiliki bentuk seperti buah apel.

Penelitian terbaru mengingatkanbentuk  tubuh tipe buah pir  termasuk kelompok yang rentan mengalami penyakit degeneratif, paling tidak untuk sebagian orang yang sudah berisiko tinggi.

Selama ini banyak dikesankan tubuh berbentuk buah apel yaitu dengan penyimpanan lemak terbesar berada di daerah perut, memiliki risiko lebih besar terkena penyakit degeneratif seperti diabetes dan penyakit jantung dibanding mereka yang mempunyai tubuh berbentuk buah pir, yaitu mereka yang cenderung menyimpan lemak di daerah bokong, pinggul, dan paha.

Pemikiran ini didasari oleh lemak di perut merupakan penyebab dari diabetes tipe 2, terutama bagi wanita. Hal ini didukung oleh beberapa penelitian, salah satunya ilmuwan dari Athens University, Yunani.

Tapi  para peneliti dari University of California Amerika menemukan fakta berbeda. Riset terbaru mereka menyatakan, lemak yang tersimpan pada bokong, yang dikenal juga dengan istilah jaringan adiposa glutea, mensekresi kadar protein yang dapat memicu inflamasi dan resistensi insulin.

Hal ini umumnya terjadi pada mereka yang memiliki sindrom metabolik, yaitu merujuk pada kelompok dengan faktor risiko sehingga dapat melipatgandakan risiko penyakit jantung dan peningkatan risiko diabetes.

Studi yang dipublikasi  oleh  Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism ini melibatkan 45 orang pasien dengan sindrom metabolik awal. Mereka merupakan orang yang memiliki paling tidak faktor risiko untuk sindrom metabolik, termasuk obesitas, hipertensi, resistensi insulin, kadar trigliserida tinggi, dan kadar HDL (kolesterol baik) rendah.

Sedangkan untuk kelompok kontrolnya, para peneliti melibatkan 30 orang dengan faktor risiko yang lebih sedikit untuk sindrom metabolik. Kedua kelompok meiliki umur dan jenis kelamin yang sama.

Dalam penelitian ini, para peserta diukur tekanan darah, kadar kolesterol, kadar gula darah, dan kadar protein C-reaktif mereka. Kadar protein yang disekresi oleh jaringan lemak (chemerin, resistin, cisfarin dan omentin 1) diukur dalam darah dari sampel lemak subkutan yang diambil dari bokong. Lemak subkutan ditemukan tepat di bawah kulit, berkebalikan dengan lemak visceral yang ditemukan di sekitar organ di perut.

Hasilnya, dalam kedua sampel lemak yang diambil dari peserta dengan sindrom metabolik, ditemukan kadar protein chemirin yang lebih tinggi dan kadar omentin 1 yang lebh rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol.

“Kadar chemirin yang tinggi berkaitan dengan empat dari lima karakteristik dari sindrom metabolik sehingga berpotensi menyebabkan sindrom metabolik. Karena kehadirannya juga menjadi indikator dari inflamasi dan resistensi insulin,” ujar Ishwarlal Jialal, penulis utama studi, serta profesor patologi dan laboratorim obat dari University of California  Davis.

Sedangkan protein omentin berkaitan dengan kadar HDL, serta memiliki hubungan negatif dengan kadar gula dan trigliserida yang merupakan faktor risiko untuk perkembangan sindrom metabolik.

Menurut Jialal, meskipun hasil penelitian mengindikasikan tubuh tipe pir tetap memiliki risiko, tetapi hal ini tak perlu membuat Anda memusingkan bentuk tubuh . Karena strategi terbaik untuk panjang umur adalah dengan menjalani kehidupan yang sehat dengan menjaga berat badan normal serta berolahraga teratur. (Sumber Utama Everydayhealt)

Exit mobile version