Site icon nuga.co

Sikap Optimisme Bisa Perpanjang Usia

Tim peneliti dari Harvard University, seperti ditulis laman situs “real simple,” hari ini,  Kamis, 29 Desember 2016,  menyimpulkan  mereka yang memiliki sikap optimis dan berpikiran positif dalam memaknai hidup  bisa  hidup lebih tenang dan panjang umur.

“Berusaha mengambil sisi positif akan menurunkan risiko kematian akibat penyakit kanker, jantung, dan juga infeksi,” tulis “real simple,” seperti kesimpulan peneliti.

Menurut para peneliti, kajian ini adalah salah satu studi langka yang melihat kaitan antara optimisme dan manfaat kesehatan.

Studi lain menyebutkan bahwa sifat berpikiran positif akan menurunkan risiko penyakit jantung.

Studi yang dilakukan tim dari Harvard itu menganalisa data lebih dari tujuh puluh ribu  wanita.

Para responden menjawab pertanyaan tentang kesehatan dan status kesehatan mental, termasuk pola pikirnya dalam kondisi tertentu.

Lalu, kesehatan mereka diikuti selama 8 tahun.

Selama periode studi itu, mereka yang masuk dalam kelompok orang yang optimis risikonya meninggal karena penyakit turun dua puluh sembilan persen.

Secara khusus, risiko meninggal akibat penyakit infeksi turunlima puluh dua persen, dan stroke turun empat puluh persen.

Bahkan setelah faktor kesehatan seperti depresi dan gaya hidup sehat diperhitungkan, ternyata mereka yang optimis tetap memiliki peluang panjang umur lebih besar.

Para ahli mengatakan, optimisme berpengaruh langsung pada biologi. Misalnya saja meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan laju penuaan sel, dan menurunkan kadar peradangan.

Walau selama ini Anda termasuk orang yang sering pesimis, namun pola pikir positif bisa dipelajari dan dilatih.

Masih menurut tim, hendaknya kita jangan terlalu lama menyimpan rasa sakit hingga menimbulkan dendam.

Menyimpan rasa dendam kepada seseorang tidak ada manfaatnya.

Dendam kepada seseorang justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

Sebaliknya, memberikan maaf akan membuat hati lega dan membuat energi positif dalam diri Anda.

“Kita semua memiliki orang-orang yang tidak kita suka, apakah berdampak buruk dengan menyimpan perasaan marah pada mereka?” ujar Psikolog, Seth Meyers yang menyambut gembira hasil kajian Harvard itu.

Menurut Meyers, ada beberapa alasan mengapa menyimpan rasa dendam itu tidak baik bagi kesehatan.

Berdasarkan sebuah studi, menyimpan rasa dendam dan berpikir negatif, tidak bagi kesehatan mental.

Menyimpan rasa dendam juga dapat meningkatkan rasa cemas hingga frustasi. Penelitian yang diterbitkan di Jurnal Psychological Science menemukan bahwa berpikiran negatif bisa memicu stres.

Denyut jantung dan tekanan darah Anda akan lebih tinggi daripada mereka yang mau memberikan maaf.

Rasa dendam ternyata tak hanya berdampak buruk bagi pikiran, melainkan kesehatan fisik.

Para peneliti dari Medical College of Georgia menemukan bahwa orang yang mengaku menyimpan rasa dendam selama bertahun-tahun berisiko terkena  penyakit jantung, tekanan darah tinggi, nyeri lambung, dan sakit kepala.

Ketika Anda memilih untuk bermusuhan kepada seseorang, coba tanyalah pada diri anda sendiri, apakah seseorang ini penting bagi kehidupan Anda.

Bicarakan lah terus terang ketika Anda merasa terluka atau sakit hati. Jangan dipendam terlalu lama di hati. Ini bisa membantu Anda melupakan rasa sakit yang pernah ada.

Anda juga bisa kembali fokus terhadap hal yang lebih penting di kehidupan Anda.

Memaafkan mungkin sulit untuk Anda. Coba lah untuk melupakan rasa sakitnya terlebih dahulu. Energi negatif dalam diri Anda akan hilang serta membuat sehat jiwa dan raga.

Masih menurut tim peneliti marah, bisa meningkatkan risiko serangan jantung lima kali lipat, dan stroke hingga tiga kali lipat.

Peneliti Amerika Serikat yang menelusuri literatur medis mengatakan kemarahan kerap mendahului serangan jantung dan bisa menjadi pemicu.

Para peneliti menggunakan data dari sembilan studi dan melibatkan responden ribuan orang.

Mereka mengidentifikasi bahwa orang yang berisiko tinggi tersebut berada dalam periode berbahaya sekitar dua jam setelah meluapkan kemarahan. Artinya, dua jam pertama setelah seseorang meluapkan kemarahan, risiko serangan jantung dan stroke meningkat.

Namun mereka mengatakan, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami kaitan marah dengan risiko serangan jantung dan stroke.

Penelitian lanjutan juga diperlukan untuk menemukan strategi melawan stres dan menghindarkan serangan jantung.

Sekolah Kesehatan Masyarakat Harvard mengatakan, orang yang marah satu kali dalam satu bulan memiliki risiko serangan jantung rendah.

Temperamen tinggi berdampak terhadap kesehatan seseorang secara kumulatif. Semakin sering seseorang tersebut marah maka risiko mengalami serangan jantung dan stroke semakin tinggi.

 

Exit mobile version