Site icon nuga.co

Ponsel Pintar Bisa Bikin Bodoh Penggunanya

Anda pikir smartphone bisa memicunya penggunanya tamah pintar.

“No.” Buang jauh-jauh pemikiran itu.

Kalau Anda berpikir penggunaan ponsel pintar bisa menjadikan Anda lebih pintar, banyak tahu dan sok hebat, maka jauhkan pendapat itu.

Sebab, sebuah studi terbaru dari peneliti di Universitas Waterloo, Kanada, telah menyimpulkan ponsel pintar justru bisa membuatnya pemakainya menjadi bodoh.

Penelitian terbaru itu, yang ditujukan untuk mengetahui apa saja dampak buruk ponsel pintar bagi para penggunanya, terutama mereka yang sangat aktif menggunakannya, menemukan hasil mengejutkan tentang menurunnnya tingkat kecerdesan pemakainya.

Dalam tes yang diikuti puluhan responden dari semua tingkatan usia itu, rata-rata peserta mengalami penurunan kemampuan verbal, berhitung, serta pemahaman sesuatu dan menganalisa permasalahan.

Pengguna yang sudah tergantung dengan fungsi smartphone memiliki tingkat kecerdasan yang rendah, sulit menganalisa, menghitung atau bahkan mengingat.

“Penelitian kami membuktikan bila frekuensi penggunaan smartphone tinggi berkaitan dengan tingkat kecerdasan yang rendah,” ujar Gordon Pennycook, ilmuwan dari Universitas Waterloo dalam keterangan resminya.

Menurut Pennycook, smartphone membuat penggunanya lebih malas. Malas untuk mengingat, atau melakukan perhitungan sederhana yang seharusnya bisa dilakukan tanpa bantuan ponsel.

Selain membuktikan dampak buruk pemakaian ponsel, riset tersebut juga menyimpulkan bahwa pengguna yang pintar ternyata menghabiskan waktu lebih sedikit dengan smartphone dan mesin pencari Google.

Dalam penelitian lainnya, pengguna smartphone yang rajin ber”twitter” ria, didapati memiliki kejiwaan yang labil. Mereka memiliki sikap pemarah atau memaki dalam bahasa yang “kotor.”

Dan apa yang biasa dilontarkannya melalui media sosial itu ternyata menimbulkan efek buruk.

Berdasarkan riset, prilaku itu bisa memicu serangan jantung.

Penelitian terbaru tentang efek twitter ini dirilis para peneliti dari Univeritas Pennsylvania.

Mereka menyimpulkan adanya ikatan kuat antara tweet bermuatan negatif dengan penyakit jantung. Sebaliknya, cuitan bernada positif justru dianggap bakal memberikan dampak baik untuk kesehatan.

Para peneliti mengumpulkan kicauan publik yang dibuat sepanjang dua tahun.

Beberapa cuitan bernada negatif kemudian diambil, dan dilihat korelasinya dengan dampak emosional terhadap pengguna.

“Twitter merupakan jendela ke kondisi mental masyarakat yang berguna dalam analisis epidemiologi,” kata Johannes Eichstaedt, pemimpin penelitian tersebut. Seperti dikutip dari Science Daily

Penelitian itu ditulis dalam jurnal Psychological Science yang diterbitkan 20 Januari 2015.

Eichstaedt menganggap dengan memantau kicauan pengguna mereka bisa lebih mudah memantau kondisi mental masyarakat. Pasalnya, banyak orang justru lebih terbuka di media sosial ketimbang saat pemeriksaan medis.

Namun tak semua ahli sepakat dengan hasil riset tersebut. H. Andrew Schwartz selaku dosen dari Sekolah Teknik dan Ilmu Terapan Komputer dan Informasi, menilai bahwa hasil riset itu keliru.

Kicauan marah dianggap sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyakit jantung. “Itu berarti, jika banyak tetangga Anda marah, Anda mungkin akan meninggal karena penyakit jantung,” ungkap Schwartz, seperti dikutip dari Telegraph.

Pun begitu bukan pertama kalinya kicauan Twitter dipakai untuk bahan riset. 2013 lalu sekelompok ilmuwan dari Johns Hopkins University membuat sebuah metode yang merekam sejumlah cuitan.

Hal ini dilakukan untuk melihat peredaran penyakit flu secara real time.

Sumber : Science Daily

Exit mobile version