Site icon nuga.co

Perubahan Penis Saat Usia Lelaki Menua

Lelaki mana yang bisa membantah “pop”nya pembahasan mengenai ukuran penis

Ya, pembahasan penis memang sesuatu yang amat menarik.

Namun, bagaimana jika pambahasan itu adalah tentang potensi penis yang menyusut atau mengecil?

Samantha Evans, seorang penulis dan pakar kesehatan seksual meyakini, seiring bertambahnya usia, ukuran penis memang bisa menyusut.

Kendati demikian, dalam artikel yang dimuat dilaman Daily Star, Samantha menyebut, pilihan diet dan gaya hidup juga amat mempengaruhi perubahan pada penis.

Perubahan yang dimaksud juga menyangkut soal tingkat kesuburan pria, atau pun seberapa keras ereksi pada penis.

“Seiring bertambahnya usia, penisnya mungkin menyusut ukurannya akibat deposit plak lemak di arteri kecil yang mengurangi aliran darah.”

“Kondisi ini dikenal dengan nama arteriosclerosis. Proses yang sama juga terjadi pada pembuluh darah yang mengelilingi jantung.”

Menurut Samantha, penumpukan kolagen inelastis (jaringan parut) di dalam selubung fibrosa yang mengelilingi ruang ereksi, menyebabkan ereksi yang lebih lemah.

Dia lalu mengatakan, penuaan bukan satu-satunya faktor risiko, sebab kebiasan merokok juga bisa sangat merusak penis.

Menghisap rokok dapat menyebabkan turunnya kadar testosteron dalam tubuh pria, yang memiliki efek pada anggota tubuh lain, termasuk penis.

Terkait penyusutan ukuran penis ini, laman Men’s Health mengutip penjelasan dokter Mary Samplaski.

Ahli urologi dan Direktur divisi infertilitas pria di University of Southern California ini mengatakan, “sebenarnya tidak ada alat medis untuk mengukur penyusutan penis.”

“Apa yang kita tahu adalah bahwa merokok dan usia dapat menyebabkan penurunan produksi testosteron,” kata Samplaski.

Masalah kesehatan membatasi aliran darah ke penis, sehingga pria akan lebih sulit untuk ereksi.

Senada dengan itu, Samantha pun mengatakan, merokok memang merusak pembuluh darah.

Kerusakan itulah yang meningkatkan pembentukan plak di dalam arteri hingga menghalangi aliran darah.

Dalam kondisi tersebut, aliran darah ke seluruh tubuh menjadi tak sempurna, termasuk ke organ penis.

Selain itu, masalah ereksi pun bisa bersifat psikologis atau fisik. Hal ini pun kerap dikaitkan dengan kelelahan, stres, kecemasan, atau depresi.

Kondisi kesehatan seperti diabetes, penyakit jantung, dan masalah tiroid juga bisa menghancurkan ereksi.

Lebih lain, terkadang masalah penis merupakan gejala dari masalah medis yang mendasari pembuluh darah dan jantung, misalnya diabetes, kolesterol tinggi, atau tekanan darah tinggi.

Nah, jika saat ini penis Anda terasa lebih lembek saat ereksi, mungkin sudah waktunya Anda untuk berkonsultasi ke dokter.

Perubahaan penis juga terjadi pada usia tua.

Menurut ahli urologi Brian Steixner, MD, direktur Institute of Men’s Health for the Jersey Urology Group, setiap pria perlu mengantisipasi kemungkinan perubahannya

Brian Steixner telah melakukan penelitian terhadap beberapa pria berusia tujuh tahun.

Pria-pria tersebut diminta untuk berjalan dengan telanjang disepanjang ruang ganti, hasilnya skrotum mereka nampak terkulai.

Kendurnya penis tersebut disebabkan karena hilangnya masa otot dan inilah yang disebut dengan sindrom ‘Splash Down’.

Berkat kemajuan teknologi kedokteran estetika, kondisi ini bisa diatasi dengan prosedur scrotoplasty untuk mengencangkan kembali otot-otot di sekitar skrotum.

Berkurangnya kolagen pada kulit juga membuat penyusutan pada bagian penis. Sebenarnya penyusutan ini juga terjadi pada kulit di seluruh tubuh. Penyusutannya berlangsung perlahan-lahan.

Semakin tua, metabolisme tubuh akan melambat yang mengakibatkan berat badan gampang naik.

Kenaikan berat badan inilah juga berhubungan dengan menyusutnya ukuran penis. Penimbunan lemak di perut juga membuat penis semakin “tenggelam”.

 

Steixner menemukan fakta bahwa pada usia paruh baya pria akan rentan terkena penyakit peyronie, yaitu kondisi penis yang tampak asimetris akibat pembentukan plak fibrosa atau jaringan parut di sepanjang batang penis.

Pemicunya sebenarnya sederhana, yakni trauma berulang, misalnya karena benturan saat olahraga atau aktivitas seksual, sehingga akan terbentuk scar di penis.

Bengkoknya penis akan semakin buruk di usia akhir 60-an. Beruntung pada saat ini kondisi tersebut bisa dikoreksi dengan suntikan botox untuk melepaskan akumulasi plak.

Risiko disfungsi ereksi akan bertambah seiring berjalannya usia. Penis adalah organ tubuh yang penuh dengan pembuluh darah yang berfungsi membawa darah menuju penis sehingga terjadi ereksi.

“Disfungsi ereksi sama seperti ‘serangan jantung’ pada penis. Mencegahnya dilakukan sama seperti mencegah serangan jantung, yakni menjaga pola makan dan berolahraga,” kata Steixner.

Saat berada di usia tua, sensitivitas penis akan mengalami penurunan. Penurunan ini juga disebabkan karena fungsi saraf pada penis yang semakin menurun yang berakibat pada sulitnya orgasme dan ereksi.

Paling tidak Anda akan butuh waktu lama untuk mencapai klimaks dibanding di usia keemasan Anda.

 

Exit mobile version