Site icon nuga.co

Orang Tua Banyak Hilang Keseimbangan

Banyak kajian yang membeberkan dampak buruk pemakaian gadget pada anak dan remaja, dimana,  menurut penelitian memiliki dampak  buruk pada anak

“Kebiasaan bermain gadget juga bisa meningkatkan stres pada anak.”

Menurut penelitian yang dilaporkan oleh Science Daily, estimasi orangtua memakai gagdget secara intens adalah selama tiga jam setiap hari.

Ternyata, kebiasaan itu membuat orangtua kehilangan keseimbangan membagi waktu personal, bisnis, dan waktu untuk diri sendiri.

Alhasil, banyak orangtua secara tidak sadar menderita depresi serta rasa tidak bahagia yang berkepanjangan.

Kondisi tersebut pun akhirnya membuat orangtua jadi mudah marah pada anak dan cenderung tidak peduli pada kebutuhan emosional anak.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Journal of Developmental and Behavioral Pediatrics menguraikan bahwa pemakaian gadget telah mendominasi waktu yang seharusnya dihabiskan untuk keluarga dan anak-anak.

Hasil studi tersebut berdasarkan sesi wawancara bersama 35 responden secara mendalam dan dilakukan lebih dari satu tahun.

“Kami menemukan bahwa orangtua kesulitan membagi waktu karena setelah pulang kantor pun mereka masih terhubung dengan pekerjaan lewat email dan aplikasi chatting,” terang Jenny Radesky, M.D.

Kondisi itu, kata Radesky, membuat banyak orangtua yang tidak benar-benar ada untuk anak meski saling berdekatan.

Studi juga mengungkapkan bahwa mayoritas responden mengatakan, tekanan kerja semakin tinggi karena tak juga berhenti meski sudah pulang kerja.

Kondisi ini karena banyak orangtua modern yang terus terhubung dengan pekerjaan dan bisnis lewat ponsel pintar.

Ketika bekerja dan telah memiliki keluarga, banyak orang yang sulit untuk menyeimbangkan antara kehidupan pribadi dengan kehidupan profesional.

Berdasarkan jajak pendapat terbaru yang dihelat surat kabar Washington Post, semakin banyak orangtua di Amerika Serikat memilih untuk berhenti kerja demi mengasuh buah hati mereka.

Jajak pendapat tersebut mengungkapkan bahwa ibu dan  ayah di Amerika Serikat menyatakan mereka mengubah pola kerja dan bahkan berhenti kerja untuk merawat buah hati.

Hasilnya jajak pendapat itu menemukan bahwa tantangan untuk menemukan sarana perawatan dan penitipan anak yang terjangkau dan dapat diandalkan telah membentuk karier jutaan orangtua di negara tersebut.

Sebanyak tiga perempat populasi orangtua yang memiliki anak usia di bawah delapan belas tahun menyatakan perawatan dan penitipan anak di area tempat tinggal mereka mahal.

Beberapa bahkan sulit menemukan lokasi penitipan anak.

Menurut data Biro Sensus Amerika Serikat, rata-rata biaya penitipan anak telah meningkat

Banyak orangtua berpikir lebih baik salah satu dari mereka tinggal di rumah untuk merawat anak ketimbang gaji yang digunakan untuk membayar penitipan anak.

Kini, orangtua bekerja akan merasa lebih tenang jika menitipkan buah hati ke nenek atau kakeknya.

Cara ini juga menjadi solusi paling memungkinkan jika tak ada pengasuh di rumah.

Namun, dampak yang muncul kemudian, anak menjadi lebih dekat dengan neneknya, bahkan tak bisa dipisahkan.

Orangtua perlu membantu anak melakukan penyesuaian jika masalah ini terjadi.

Lakukan negosiasi dengan anak agar ia tak selalu ingin bersama neneknya. Berikan juga pujian jika anak melakukan hal yang baik. Orangtua sebaiknya juga menjaga emosi, jangan memarahi anak

Anak lebih intim dengan nenek atau kakeknya karena minimnya waktu bersama kedua orangtuanya.

Namun, jangan lantas merasa bersalah karena Anda dan suami bekerja.

Orangtua bekerja bisa tetap membangun kedekatan dengan anak meski waktunya singkat.

Salah satu cara efektif adalah memanfaatkan waktu sebelum berangkat kerja.

Sebelum kerja, lakukan kegiatan bersama, seperti memberi makan, memandikan, atau mengantar anak ke sekolah.

Di sela-sela pekerjaan, bangun komunikasi dengan anak, sekadar menelepon menanyakan aktivitas anak. Pulang kerja, sempatkan menikmati waktu bersama dengan anak.

Orangtua juga perlu mencari waktu yang tepat untuk meninggalkan anak sementara.

Umumnya,  anak berusia dua tahun yang sudah mengenal teman sebaya secara mental siap ditinggalkan sementara.

Mereka juga sudah mengerti bahasa komunikasi.

Semakin sering berkomunikasi, ikatan antara orangtua dan anak semakin terjaga, meski anak lebih sering meluangkan waktu bersama nenek atau kakeknya.

Exit mobile version