Site icon nuga.co

Olahraga Keras Bisa Turunkan Libido Lelaki

Sebuah tulisan panjang di media terkenal “new york times,” hari ini, Kamis, mengingatkan para “penggemar” olahraga untuk tidak ngotot menghabiskan waktunya memeras otot dan keringat karena memiliki dampak besar bagi “kekuatan” libidonya.

“Pria yang berolahraga dengan keras mungkin memiliki libido rendah daripada pria yang berolahraga ringan,” tulis “new york times” yang mngutip sebuah hasil penelitian terbaru.

Menurut tulisan itu, selama bertahun-tahun, para ilmuwan dan orang-orang dengan gaya hidup aktif berdebat apa dan bagaimana olahraga bisa memengaruhi hasrat seksual dan reproduksi manusia.

Tetapi, kebanyakan penelitian berpusat pada wanita.

Penelitian-penitian terdahulu menemukan bahwa ketika atlet wanita, seperti pelari maraton, berjam-jam intens selama berjam-jam, risiko mereka terhadap disfungsi menstruasi, meningkat.

Nampaknya, hal disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon yang berhubungan dengan stres fisik dan sering memengaruhi minat wanita pada seks dan kemampuan untuk hamil.

Hanya sedikit yang diketahui tentang efek olahraga, terutama olahraga berat, pada libido dan kesuburan pria.

Ada petunjuk bahwa, dalam jumlah moderat, aktivitas fisik dapat meningkatkan produksi hormon testosteron, yang secara teoritis artinya meningkatkan gairah seks.

Penelitian kecil lainnya, di sisi lain, menemukan bahwa latihan fisik yang panjang dan melelahkan mungkin menumpulkan kadar testosteron dalam aliran darah manusia, baik dengan segera maupun dalam jangka panjang.

Tetapi studi hanya memeriksa perubahan hormon yang berhubungan dengan latihan, yang dapat diukur dengan mudah, bukan perbedaan emosi seksual dan perilaku, yang lebih sulit untuk diukur.

Untuk studi baru yang telah diterbitkan dalam Medicine & Science in Sports & Exercise ini, para peneliti di University of North Carolina di Chapel Hill memutuskan untuk meneliti kehidupan seks orang-oramg yang aktif.

Mereka memulai dengan mengembangkan kuesioner berdasarkan penelitian psikologi sebelumnya dalam perilaku seksual pria.

Misalnya, dengan mengajukan pertanyaan, seberapa sering mereka memikirkan dan melakukan hubungan seks.

Para ilmuwan juga menciptakan kuesioner terpisah dengan pertanyaan rinci tentang kebiasaan olahraga, termasuk seberapa sering dan intens orang-orang itu berolahraga setiap minggu.

Sebuah rangkaian akhir pertanyaan yang diajukan adalah tentang kesehatan umum dan sejarah medis.

Kemudian para peneliti menghubungi klub-klub olahraga dan komunitas media olahraga seperti berjalan, bersepeda dan triathlon untuk mengajak anggotanya berpartisipasi dalam kuesioner.

Hampir 1.100 orang dewasa yang aktif secara fisik menyelesaikan semua pertanyaan. Sebagian besar atlet berpengalaman yang telah berpartisipasi selama bertahun-tahun dalam pelatihan dan kompetisi.

Para ilmuwan mengelompokkan mereka berdasarkan tingkat dan intensitas latihan, apakah mereka berolahraga mingguan dalam waktu pendek atau lama dan apakah intensitasnya ringan, sedang atau sangat intens.

Mereka juga dikategorikan sesuai dengan jawaban mereka tentang kehidupan seks, apakah libido mereka relatif tinggi, sedang atau rendah.

Akhirnya, peneliti membandingkan kebiasaan olahraga dengan kehidupan seks mereka.

Dari situ terlihat pola yang jelas. Orang-orang yang berolahraga secara rutin dengan intensitas atau durasi sedang, cenderung memiliki libido lebih tinggi dibanding rekan-rekannya yang berolahraga rutin dalam waktu lama dan intensitas tinggi.

“Sebagai akibatnya, olahraga berat dikaitkan dengan libido rendah,” kata Anthony Hackney, seorang profesor fisiologi olahraga dan nutrisi di University of North Carolina yang memimpin penelitian.

Studi ini tidak bisa digunakan untuk menyatakan bahwa pola yang ditunjukkan oleh para relawan, mewakili sisa gender mereka. Jenis penelitian juga tidak bisa memberitahu kita apakah terlalu banyak latihan benar-benar menyebabkan libido rendah.

Penelitian hanya melihat tautan antara keduanya dan tidak meneliti mengapa olahraga berat mungkin cenderung meredam libido pria.

Dr. Hackney berharap bisa melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pada titik manakah olahraga benar-benar bisa menurunkan libido pria.

Penelitian lanjutan akan memerlukan waktu lama dengan lebih banyak relawan. Sementara ini, Dr. Hackey menyarankan agar pria lebih memilih olahraga rutin dengan durasi dan intensitas sedang.

Exit mobile version