Site icon nuga.co

Mengejutkan, Lelaki Pendek Itu Lebih Setia

Lelaki pendek itu lebih setia.

Benarkah?

Paling tidak, itulah kesimpulan dari sebuah studi para sosiolog dari New York University  yang  mempublikasikan hasil penelitiannya mengenai loyalitas pria dalam pernikahan.

Tak tanggung-tanggung, penelitian ini mengambil sampel data Panel Study of Income Dynamics, sebuah proyek University of Michigan yang mengumpulkan informasi keluarga di AS selama lima dekade.

Hasil penelitian ini mengungkapkan kenyataan yang mengejutkan.

Pria tinggi yang memiliki postur tinggi dengan nilai lebih  tampan tak bisa dipercaya dan  berpotensi tinggi selingkuh.

“Lelaki  dengan karakter tubuh tinggi, berkulit coklat, dan tampan  memang mudah mendapatkan pasangan. Namun, pria bertubuh pendek ditemukan sangat setia pada pasangan mereka,” tulis hasil hasil penelitian itu seperti yang ditulis laman situs “women day,” Kamis, 13 Oktober 2016..

Studi yang berkonsentrasi mempelajari kehidupan pria di rentang usia dua puluh tiga hingga empat puluh lima tahun itu  menemukan bahwa pria pendek, yang tinggi tubuhnya tidak lebih  dari seratus tujuh puluh  sentimeter, menikah lebih telat ketimbang pria tinggi.

Namun, tingkat perceraian pasangan suami istri di mana tubuh suami masuk dalam kategori pendek lebih bertahan dan bahagia hingga maut memisahkan.

Intinya, potensi pernikahan pria pendek untuk bercerai sangat rendah daripada pernikahan pria bertubuh tinggi.

Selain itu, studi juga mengungkapkan bahwa penghasilan pria pendek lebih besar dan mereka bersedia berbagi tugas rumahtangga untuk meringankan beban istri.

Kondisi yang serupa, tulis hasil studi, jarang terlihat dalam pernikahan sebagian besar pria tinggi.

Penelitian mengakui bahwa pria tinggi memang lebih mudah mendapatkan istri dan mereka menikah lebih cepat ketimbang pria pendek.

Namun, pria pendek bekerja lebih keras agar mendapatkan penghasilan besar untuk menutupi kekurangan fisik.

Memang, seperti ditulis lebih lanjut oleh laman situs  “family share,” tidak semua hal terbaik datang dari sesuatu atau seseorang yang sempurna.

Sebab, ketidaksempurnaan yang saling melengkapi bisa melahirkan kebahagiaan.

Sebuah studi yang dihelat oleh University of Texas di Austin, Amerika Serikat, menemukan bahwa kepuasaan dalam hubungan asmara dan loyalitas pasangan tergantung dari bagaimana Anda membandingkan mereka dengan mantan-mantan pada masa lalu.

Dalam lingkup berkencan, banyak orang sering membandingkan pasangan terbaru dengan kelebihan dan kekurangan mantan.

Kecerdasan, kesehatan, sifat baik, daya tarik, mandiri, dan level finansial merupakan faktor-faktor yang paling sering dinilai dan dibanding-bandingkan.

Studi ini menyimpulkan bahwa menemukan seseorang yang memenuhi standar kesempurnaan tinggi merupakan pekerjaan yang sia-sia.

“Pertimbangan acap kali berdasarkan kompatibilitas ketimbang kecocokan. Hal ini telah memotivasi sebagian besar orang dalam mencari pasagnan,” jelas Daniel Conroy-Beam, ketua penelitian.

“Kami mendemonstrasikan bahwa pertimbangan dalam mencari pasangan telah membentuk perasaan dan kebiasaan dalam hubungan.’

“Hal ini memengaruhi bagaimana kita merasa bahagia dengan pasangan berdasarkan usaha yang kita dedikasikan dalam hubungan tersebut,” urainya.

Penelitian ini melibatkan pria dan wanita yang telah menjalin hubungan dengan pasangan masing-masing selama minimal tujuh tahun.

Mereka mempelajari 27 sifat yang memengaruhi hubungan yang dianggap ideal.

Hasilnya, responden mengaku merasa lebih bahagia ketika pasangan mereka lebih mencintai mereka ketimbang mereka mencintai pasangan, meski pasangan tersebut tidak termasuk dalam kategori pasangan ideal.

“Kepuasan dan kebahagian tidak sejernih dan setransparan seperti apa yang kita pikir,” imbuhnya.

Hubungan yang harmonis, kata Conroy-Beam, tidak memerlukan pasangan yang sempurna.

Sebab, hubungan yang harmonis hanya membutuhkan seseorang yang menghargai dan setia pada Anda.

Hasil penelitian ini semakin menguatkan penemuan di dua tahun lalu yang dipublikasikan oleh Journal of Personality and Social Psychology.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pasangan Anda mungkin saja tidak ideal di waktu sekarang, tetapi akan menjadi ideal ketika hubungan langgeng dalam periode jangka panjang.

Exit mobile version