Site icon nuga.co

Lelaki Masa Kini Jadi Lebih “Keibuan.”

Menjadi ayah?

Hasil survei terbaru, seperti ditulis laman situs media terkenal “today,” Senin, 08 Agustus 2016, bisa membuat lelaki sangat bahagia.

Masih menurut “today,” lelaki “zaman sekarang”  tidak keberatan untuk  berbagi peran dengan istri dalam mengasuh anak-anak di rumah.

Survei yang mengikut dua ribuan lelaki yang telah menjadi ayah, menghasilkan,  sebagian besar ayah merasa sangat bahagia ketika membantu istri memasak makanan untuk anak-anak, membersihkan rumah, dan menggendong anak hingga mereka tertidur.

Lebih dari setengah mereka yang di survey  mengaku mereka mahir mengganti popok bayi.

Selain itu, presentasi besar juga terlihat pada jumlah ayah yang berbelanja keperluan rumahtangga.

Lalu, lebih kurang dua puluh enam persen ayah ikhlas dan senang kebagian tugas memasak dan menyiapkan makanan.

“Sekarang, para ayah sangat dekat dengan anak, berbeda dengan generasi pendahulu,” jelas Dana Glazer, seorang sutradara film documenter The Evolotution of Dad dan ayah dari tiga anak.

Namun, tidak semua negara dan budaya menerima bahwa ayah lebih banyak terlibat dalam urusan domestik.

“Masih banyak pria berkeluarga yang dinilai dari berapa nominal penghasilan yang dia bawa ke rumah,” imbuhnya.

Soal finansial dan pekerjaan, hasil survei memperlihatkan bahwa tugas utama ayah tetap menafkahil keluaraga.

Namun, ada perbedaan yang menarik antara rumahtangga modern dan dahulu. Sekarang, suami dan istri berbagi tanggung jawab kebutuhan keluarga secara adil.

Kompensasinya adalah pihak suami bersedia mengerjakan tugas domestik secara adil pula.

Kondisi yang demikian banyak ditemukan pada rumahtangga modern. Menariknya, justru membuat hubungan suami istri semakin kuat dan komunikasi pada anak pun tercipta menyenangkan.

Untuk Anda tahu sebagian besar lelaki yang jadi ayah masa kini relah mengurangi jam  tidur,  akrab dengan tangisan anak, tak keberatan dengan  tanggunan finansial bertambah, dan mengurangi waktu bersama teman-teman

“Itu  rutinitas baru kaum pria yang baru saja menjadi ayah,” tulis “prevention.”

Kehadiran anak, tak bisa dimungkiri mengubah kehidupan suami dan istri Tanggung jawab pun semakin berat untuk pria sebagai tulang punggung keluarga.

Namun, Anda para ayah baru, jangan khawatir. Sebab, memiliki peran baru sebagai ayah akan membuat hidup Anda jadi lebih baik dari sebelumnya.

Misalnya, meningkatnya produksi hormone oksitosin. Hormon oksitosi atau hormon cinta pada pria menunjukkan peningkatan pada tubuh pria setelah mereka menjadi ayah.

Sebuah studi yang digagas oleh  Bar-Ilan University di Israel, menunjukkan bahwa interaksi yang hangat dengan anak, menjadikan hormon oksitosin di tubuh pria lebh produktif.

Selain itu, hubungan dan komunikasi antara ayah serta anak yang baik memberikan dampak positif pada perkembangan karakter si kecil yang memiliki pengaruh besar di masa depannya.

Otak ayah bekerja persis sama dengan otak ibu Merawat dan membesarkan anak menciptakan gelombang yang mempengaruhi pergerakan baru dalam otak pria.

Pergerakan itu sama dengan yang terjadi di otak wanita saat menjadi ibu.

Pola kognitif dan hubungan emosional menjadi lebih aktif serta merilis sejumlah hormon bahagia dalam tubuh pria.

Studi yang sempat diproduksi oleh University of Oregon, AS, mempelajari pergerakan otak 89 orangtua baru saat mereka menonton video berisi bayi mereka.

Peneliti melihat pergerakan otak yang memproses reaksi emosional bekerja lebih baik. Selain itu, bagian otak yang bertugas memahami dinamika lingkungan sosial, bergerak positif dan menciptakan emosi bahagia.

Studi ini dipublikasikan dalam the Proceedings of the National Academy of Sciences.

Menurut uraian yang dipublikasikan dalam jurnal Social Neuroscience, terjadi sebuah perubahan signifikan pada otak seorang pria bersamaan dengan kali pertama mereka memeluk sang buah hati.

“Perbandingan perubahan pergerakan otak pada pria, sebelum dan sesudah menjadi ayah terlihat signifikan.”

“ Perubahan itu mayoritas terjadi pada bagian otak yang mengatur emosi, semangat, motivasi, dan pengambilan keputusan,” tulis Esther Landhuis, seorang peneliti asal Amerika Serikat.

Lalu, Pilyoung Kim, seorang direktur di Family and Child Neuroscience Lab di University of Denver, mengatakan bahwa  para ayah yang mengalami perubahan pergerakan otak ini, tidak akan mengalami frustrasi dan stres berkaitan dengan kelahiran anak.

Sebaliknya, pria justru menjadi lebih bahagia dan semakin bahagia saat anak-anak mencapai usia dewasa. Perubahan pergerakan otak berdampak besar pada motivasi mereka menjalani peran sebagai tulang punggung keluarga.

Interaksi antara ayah dan anak, menurut hasil studi, merupakan fundamental solid yang menguatkan hubungan ayah anak.

Kondisi yang demikian mempengaruhi karakter pria karena hasil dari fungsi kognitif yang berkaitan dengan kemampuan ayah dalam bersosialisasi di lingkungan sekitarnya.

Berdasarkan artikel di The Independent, yang menganalisa hasil temuan ini, menuangkan fakta bahwa seorang pria jadi lebih piawai dalam multitasking, memiliki empati yang tinggi, dan rentan pikun, seiring pertumbuhan si kecil.

Exit mobile version