Site icon nuga.co

Kini, Memori Yang Ada di Otak Bisa Dihapus

The Guardian, media Inggris terkenal, dalam rubrik “sain”nya, hari ini, Selasa, 22 Agustus, menulis laporan menarik tentang “ketakutan” yang hinggap di setiap orang ternyata bisa dihapus jika Anda menginginkannya.

“Ketakutan itu adalah produk otak. Dan ia bisa dihapus jika Anda punya keinginan,” tulis “the guardian,  mengutip riset terbaru dari  University of California, Riverside

“Memori manusia yang dianggap tidak berguna, seperti pengalaman traumatis, ketakutan, dan kecemasan, juga dapat dihapuskan.”

Riset yang dilakukan Jun-Hyeong-Cho, asisten profesor neurologi di University of California, Riverside, memberi tanda bahwa keinginan untuk menghapus memori bisa jadi kenyataan.

Cho dan koleganya, Woong Bin Kim, melakukan penelitian dengan tikus yang telah direkayasa genetika.

Dengan tikus itu, keduanya bisa merunut jalannya sinyal dari area otak yang memproses suara sampai ke amygdala.

Amygdala sendiri adalah bagian yang berfungsi merekam pengalaman emosional, seperti rasa takut, cinta, cemas, dan benci.

“Tikus itu istimewa karena bisa menandai jalur sinyal ke amygdala sehingga kita bisa tahu perubahan ketika tikus takut dengan suara tertentu,” kata Cho.

Jalur di sini seperti saluran telepon. Tiap saluran membawa pesan tertentu. Bedanya, bukan ke telinga manusia tetapi ke amygdala.

Dalam eksperimen awal, tikus diekspos dengan suara bernada tinggi yang disertai setrum pada kaki serta suara dengan nada rendah.

Cho melihat, ikatan sel saraf pada jalur sinyal yang mengantarkan “pesan” nada tinggi menjadi lebih kuat. Sebaliknya, jalur yang mengatarkan nada rendah tak berubah.

Ketika tikus berulang kali diekspos dengan suara nada tinggi tanpa setrum kaki, tikus ternyata tidak menunjukkan ekspresi ketakutan.

Namun, ikatan sel saraf pada jalur sinyal yang membawa sinyal suara bernada tinggi ternyata tetap kuat. Ini berarti rasa takut itu sebenarnya tetap ada.

Hilangnya ekspresi ketakutan itu disebut “fear extinction”. Meski istilahnya demikian, rasa takut itu tetap bisa muncul kembali suatu waktu.

Dalam eksperimen selanjutnya, peneliti melakukan teknik optogenetika. Caranya, menyisipkan gen pada sel saraf yang berada pada jalur sinyal nada tinggi.

Ketika berada di dalam sel, gen mampu merespon cahaya. Itu memudahkan ilmuwan mendeteksi perubahan aktivitas sel saraf.

Ketika tikus diekspos ulang pada suara bernada tinggi, ikatan pada jalur sinyal nada tinggi tetap lemah. Itu menunjukkan ketakutan benar-benar hilang.

“Ini benar-benar bisa menghapus ingatan. Kami tak melihat kembalinya rasa takut,” ungkap Cho

Menanggapi riset itu, Peter Giese, profesor neurologi di King’s College London, mengungkapkan bahwa masih terlalu dini untuk menerapkan hasil riset itu pada manusia.

Aplikasi optpgenetika sekarang tidak beretika. “Bagaimana kita bisa menerapkan pada manusia, itu masih belum jelas bagi saya,” katanya.

Meski demikian, ia mengatakan, hasil riset merupakan kemajuan dalam memahami “fear extinction” dan pentingnya kekuatan ikatan sel saraf dalam membangun ingatan.

Untuk mengaplikasikan penghapusan memori, perlu juga dipikirkan dampaknya. Apakah mungkin manusia hidup normal jika sejumlah kenangan hilang?

Masalah juga muncul karena sejumlah riset mengungkap bahwa amygdala ternyata bukan pusat rasa takut.

Selain masalah penghapusan rasa takut, “the guardian,” pada hari yang sama juga menurunkan tulisan tentang seseorang pelupa dan pra anggapan  merasa kurang cerdas.

Dari hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Neuron bahkan  menyatakan sebaliknya.

Riset Blake Richard dan Paul Frankland mengungkap, melupakan sesuatu dalam taraf tertentu adalah sehat dan membuat Anda lebih pintar.

Sebab, otak dirancang untuk tidak membiarkan terjadinya kelebihan penyimpanan informasi.

Menurut dua peneliti dari University of Toronto, Kanada, tersebut, ingatan seseorang tidak diharapkan untuk mengantarkan informasi yang akurat, namun informasi yang berguna dalam pembuatan keputusan cerdas pada masa depan.

“Merupakan hal penting bagi otak untuk melupakan detail tidak relevan sehingga dapat fokus pada seseuatu yang tengah berjalan untuk membantu membuat keputusan di dunia nyata,” kata Blake Richards seperti ditul;is  Science Alert

Dalam penelitiannya, Richard dan Frankland menemukan bukti pelemahan koneksi sinapsis saraf secara perlahan serta tanda adanya neuron baru yang menimpa ingatan lama.

“Kami menemukan cukup bukti dari penetitian belakangan ini bahwa ada mekanisme yang mendorong kehilangan ingatan,” kata Frankland.

Menurut mereka, terdapat dua alasan mengapa otak melupakan sebagain ingatan yang dimiliki manusia.

Pertama, hal itu dapat membantu manusia dalam menyesuaikan situasi baru dengan melepaskan beberapa ingatan yang tidak dibutuhkan.

Kedua, lupa membua manusia mengeneralisasi masa lalu untuk membuat keputusan. Dalam konsep kecerdasan buatan, kondisi itu disebut dengan regularisasi.

“Jika anda mencoba untuk menavigasi dunia dan otak anda secara konstan membawa berbagai memori yang saling bertabrakan, akan lebih sulit bagi anda membuat keputuan yang tepat,” kata Richards.

Jumlah ingatan yang dilupakan akan bergantung pada seberapa cepat perubahan lingkungan di sekitar. Semakin cepat lingkungan berubah, semakin cepat otak melupakan ingatan masa lalu.

“Inti ingatan adalah menjadikan Anda orang yang cerdas yang bisa membuat keputusan mengingat situasinya, dan aspek penting dalam membantu Anda melakukannya adalah melupakan beberapa informasi,” pungkasnya.

Exit mobile version