Site icon nuga.co

Kecanduan Film Porno Itu Seks Kompulsif

Ada kecanduan film porno?

Sudah kelewatan?

Artinya menghabiskan waktu banyak?

Nah, berarti Anda menjadi seseorang dengan perilaku seks kompulsif.

Tahu apa itu seks kompulsif?

Sulit mengendalikan hasrat.

Ya, segala sesuatu yang berlebihan tentu berdampak buruk, termasuk kecanduan seks.

Menurut penelitian, salah satu hal yang membuat orang dengan adiksi seks sulit sembuh adalah akses yang mudah ke situs-situs pornografi.

Kecanduan seks, yakni ketika seseorang sulit mengendalikan pikiran, perasaan, atau perilaku yang terkait seks, bisa dialami siapa saja.

Sebuah studi memperkirakan satu dari dua puluh lima orang dewasa muda mengalami kecanduan jenis ini.

Peneliti dari Univeristas Cambridge mengklaim, kecanduan seks diperparah oleh mudahnya kita mengakses gambar-gambar porno di internet.

Kemudahan tersebut menjadikan seseorang dengan perilaku seks kompulsif lebih sulit mengendalikan hasratnya.

Dalam penelitian, para ahli menguji para pecandu seks dan pria sehat untuk membandingkan respon mereka saat melihat gambar porno.

Pemindaian otak mengungkapkan, pecandu seks mengalami perubahan perilaku berupa penurunan efek saat terus menerus ditunjukkan gambar porno yang sama. Terjadi penurunan aktivitas di otak yang terkait dengan ganjaran (rewards).

Jika stimulus semakin berkurang, maka perasaan senang pun terus menurun sehingga seorang pecandu seks akan mencari gambar baru untuk mendapatkan rasa kesenangan yang sama.

Para ahli membandingkan hal itu dengan peminum kopi yang mendapatkan semacam “gebrakan” kafein saat minum kopi dan sensasi itu terus berkurang sehingga mereka harus minum kopi lebih banyak lagi.

Efek kebiasaan itu juga terjadi pada pria sehat yang terus menerus ditunjukkan video porno yang sama. Tetapi ketika mereka diperlihatkan video yang baru, level ketertarikan dan rangsangan kembali lagi.

Hal itu menunjukkan, seorang pecandu seks akan terus menerus mencari gambar porno baru untuk mendapatkan efek yang sama.

“Untuk orang yang memiliki perilaku seks kompulsif, hal ini menjadi pola perilaku yang sulit mereka kontrol, hanya fokus pada gambar porno,” kata ketua peneliti Dr.Valerie Voon.

Dalam penelitian lain, Voon mengungkapkan, ada tiga area otak pencandu seks yang lebih aktif jika dibandingkan orang yang normal.

Area otak itu, ventral striatum, dorsal anterior cingulate dan amygdala, juga akan aktif pada pecandu narkoba saat diberikan stimulus narkoba.

“Memang tidak jelas hal pertama apa yang memicu kecanduan seks. Tetapi gambar porno yang terus menerus ada di internet membuat mereka terus kecanduan dan sulit mengatasi rasa kecanduan itu,” katanya.

Anda mungkin termasuk orang yang sering dibuat kagum oleh adegan-adegan dalam film porno alias film biru.
Bagaimana tidak, tokoh-tokoh dalam film tersebut memiliki bentuk tubuh aduhai, hasrat bercinta yang seolah tidak pernah padam, dan tentu saja permainan cinta dengan durasi yang sangat lama. Namun, itu semua sebenarnya hanya ada dalam film.

Semua adegan yang Anda lihat tidak menggambarkan apa yang terjadi dalam kehidupan nyata.

Misalnya, hanya ada sedikit wanita yang bisa menghadapi dan juga menikmati ukuran penis yang terlalu besar.

Menurut Seymore Butts, salah satu sutradara film porno, cukup banyak aktris film porno yang sebenarnya kesakitan saat beradegan seks dengan bintang porno yang memiliki penis besar.

“Saya biasanya mengedit wajah aktris yang tampak kesakitan karena itu mengganggu. Itu bisa menghilangkan fantasi penonton,” kata Butts.

Banyak orang yang iri dengan performa para aktor film porno karena mampu berhubungan seksual dalam waktu yang sangat lama.

Padahal, sebelum kamera mulai merekam, mereka sudah mengonsumsi pil atau injeksi penis agar bisa bertahan lama.

Selain itu, pengambilan gambar juga memiliki jeda sehingga para pemainnya bisa beristirahat dan tentunya meraih ereksi kembali. Artinya, tidak ada pemain yang melakukannya secara nonstop.

Permainan seks yang terus-menerus selama bertahun-tahun karena pembuatan film ternyata berdampak negatif pada organ vital para aktor.

Sebagian ada yang tidak bisa ejakulasi saat bercinta, bahkan ada yang sudah kebal dengan obat antiimpotensi yang sering mereka minum saat berakting.

Memang ada bintang porno yang bermain film murni untuk seks, tetapi jumlahnya bisa dihitung jari.

Menurut Butts, berdasarkan pengalamannya, para pemainnya melakukan adegan karena uang, lalu karena ingin mendapat sanjungan, lalu kebebasan, baru karena seks.

Sebagian besar dari pemain itu tidak menikmati seks. Ada pula pemain yang sebenarnya lesbian sehingga tidak menikmati hubungan seksual dengan pria, dan sebagainya.

Namun, mereka melakukannya karena memang itu pekerjaannya, dan mereka sudah belajar bagaimana memalsukannya.

Masih diperdebatkan apakah para wanita bisa ejakulasi?

Namun, dalam film porno, apa yang Anda lihat bukan apa yang terjadi sebenarnya.

Untuk mendapatkan adegan “ejakulasi”, sering kali aktrisnya mengeluarkan urine, atau sutradara harus menghentikan pengambilan gambar agar aktris bisa mengisi vagina mereka dengan air.

Exit mobile version