Site icon nuga.co

Jarang Bercinta? Mis V Anda Bisa Mengecil

Apakah Anda seorang wanita yang telah punya pasangan hidup?

Dan apakah juga Anda termasuk wanita yang jarang berhubungan intim.

Kalau jawabannya iya, maka ada kemungkinan organ kewanitaan Anda mengecil.

Mengecil?

Ya, seperti ditulis laman “daily star,” hari ini, Kamis, 01 Februari.

Menurut laman itu, bercinta dengan pasangan, tidak hanya memberi sensasi bahagia. Tetapi, juga menghadirkan ragam manfaat menyehatkan seperti membakar dua ratus kalori.

Bahkan, manfaat bercinta juga bisa membuat wajah terlihat lebih muda.

Namun, bagaimana jika sebaliknya?

Apa yang terjadi pada tubuh, jika Anda jarang bercinta dengan pasangan?

Ditemukan bahwa wanita yang jarang bercinta, bisa mengalami vagina atrophy. Kondisi tersebut, berupa pengecilan dinding organ kewanitaan pada wanita.

Hal ini bisa terjadi akibat menurunnya produksi estrogen yang biasanya dihasilkan tubuh saat bercinta.

Dengan begitu, tubuh yang kekurangan estrogen akan beradaptasi dengan membuat dinding vagina mengecil.

“Melakukan aktivitas seksual, baik itu solo ataupun berdua dengan pasangan, akan membuat peredaran darah ke miss V semakin lancar dan membuat jaringannya elastis,” tulis peneliti.

Maka dari itu, saat tubuh wanita orgasme, atau minimal bergairah saat melakukan momen bercinta, peredaran darah menuju area intimnya bisa semakin lancar. Kondisi ini, sama halnya seperti tubuh yang sedang berolahraga.

“Bercinta, atau pun meningkatkan gairah dengan masturbasi dapat membuat sisi neuropsikis tubuh membaik. Bahkan, ia berpotensi memperbaiki fungsi kognitif tubuh,” ungkap ahli terapis seks, dr. Nicole Prause.

Selain itu, bercinta secara rutin dapat menurunkan kadar stres pada wanita. Aktif bercinta dengan pasangan juga membuat risiko infeksi, dinding menipis dan kondisi kering pada vagina bisa dicegah.

Selain itu faktor dehidrasi juga bisa memengaruhi alat vital wanita itu.

Saat tubuh sedang sakit, ternyata miss v pada kaum wanita turut alami perubahan. Area intim tersebut akan beradaptasi mulai dari stres hingga dehidrasi akibat flu atau demam.

Dilansir dari laman Glamour, perubahan pada miss v dipengaruhi dari kesehatan tubuh. Selain itu, kondisi miss v juga bergantung pada obat-obatan apa yang dikonsumsi selama menjalani sakit pada tubuh tersebut.

“Beberapa penyakit yang membuat tubuh dehidrasi, juga membuat vagina dehidrasi. Artinya, saat berhubungan intim, area intim tidak bisa menghasilkan lubrikasi seperti pada umumnya,” ujar spesialis kandungan dan konsultan fertilitas, Peter Rizk, M.D.

Di sisi lain, sistem imun akan memberi respons pada virus yang hadir di tubuh, seperti flu atau demam, dengan cara membuat pembuluh darah menjadi lebih elastis, yang memicu peningkatan sekresi atau cairan yang mengandung sel darah putih.

Hal itu membuat vagina mengeluarkan cairan berwarna putih yang mengandung sistem imun, yang berperan untuk menjaga kondisi vagina tetap seimbang.

Namun, kondisi itu akan berubah saat tubuh mendapat asupan beberapa jenis obat seperti dekongestan dan antihistamin.

Keduanya terbukti membuat lapisan membran di tubuh, termasuk miss v, menjadi kering secara keseluruhan.

Antibiotik juga berperan cukup banyak dalam kondisi kesehatan area intim. Di mana, bakteri vagina dapat ikut terbunuh bersamaan dengan terbunuhnya bakteri lain oleh antibiotik.

Kondisi ini meningkatkan risiko adanya infeksi bakteri seperti jamur infeksi dan vaginitis.

Exit mobile version