Site icon nuga.co

Film Porno Bikin Anak Muda Impoten

Sebuah seruan datang dari seorang terapis seks Angela Gregory yang meminta kepada para anak muda untuk tidak “bermain-main” dengan “tontonan” film porno.

Lantas apa akibatnya?

“Impoten,” tegas Angela seperti dimuat di laman situs “daily mail,” Kamis, 18 Agustus 2016.

Angela menunjuk bukti peningkatan kasus anak muda yang mengalami impotensi atau disfungsi ereksi  di Inggris.

Dalam hal ini, ponsel disebutnya sebagai biang keladi karena membuat anak muda bisa mengakses film porno di internet dengan mudah.

Angela Gregory membeberkan pula  banyak pasein anak muda yang datang ke kliniknya dalam kasus impotensi.

Dan  dia terus mengimbau anak muda untuk berhenti mengakses film porno

“Apa yang saya lihat selama 16 tahun terakhir, terutama lima tahun terakhir adalah peningkatan jumlah anak muda yang mengalami impotensi.”

“ Padahal beberapa tahun lalu, pengalaman kami merujuk masalah disfungsi ereksi itu kepada orang-orang yang lebih tua karena berkaitan dengan diabetes atau penyakit kardiovaskuler,” katanya, seperti ditulis  Dailymail.

Yang menarik, para pemuda ini sehat secara fisik.

“Jadi salah satu pertanyaan pertama saya mengenai pornografi dan kebiasaan masturbasi karena itu dapat menjadi penyebab masalah mereka dalam mempertahankan ereksi dengan pasangan,” ujarnya.

Masalah ini ditayangkan dalam film dokumenter baru dengan BBC Newsbeat, “Brought up on Porn”.

Kisah ini bermula dari keterangan seorang pemuda bernama Nick yang pertama kali mulai menonton film porno di laptop saat berusia lima belas tahun.

Lama-lama Nick menderita dan ia pun meminta bantuan dokter karena merasa kecanduan porno. Tapi dia akhirnya sembuh sendiri dengan niat 100 hari tanpa menonton film porno.

“Pada puncaknya saya mungkin menonton sampai dua jam porno setiap hari. Makin menonton, makin saya ingin mendapatkan materi yang ekstrem.

Hingga saya akhirnya dikelilingi perempuan tapi saya merasa tidak terangsang sama sekali, meskipun benar-benar tertarik dengan gadis itu dan ingin berhubungan seks dengannya,” ujarnya.

Menurut sebuah studi dalam Journal of Sexual Medicine dua tahun silam, satu dari setiap empat pasien disfungsi ereksi berada di bawah usia empat p[uluh.

Dan sebuah studi baru di Behavioural Sciences Journal mengklaim, kecanduan film porno mirip seperti kecanduan narkoba yang dapat menurunkan gairah seksual.

Studi terbaru lainnya yang ditemukan dalam New York Magazine, mengungkap bahwa pria yang kecanduan nonton film porno menunjukkan banyak praduga atau kemungkinan seksualitas mereka (pria) akan menjadi lebih sensitif.

Mengutip laman Hello Giggles,  para penulis studi melihat adanya rangsangan seksual visual secara teratur setiap hari.

Hasil penelitian yang terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu pria bebas yang tidak memiliki pengawasan menonton film porno, pria yang menonton setidaknya dua jam dalam seminggu, dan pria yang menyaksikan film porno lebih dari dua jam seminggu.

Secara rinci pria yang menonton film porno berdurasi pendek menggambarkan memiliki hubungan seks yang heteroseksual.

Sedangkan, pria yang menonton film porno lebih sering di rumah dilaporkan perilaku seksualnya paling terangsang dan benar-benar memiliki keinginan tinggi untuk bercinta dengan pasangannya.

“Terlebih, pasangan yang menonton film porno dilaporkan tingkat hasrat seksual mereka lebih tinggi,” ujar peneliti.

Film porno memang jadi sumber perdebatan antara pasangan sejak adanya media cetak. Pertunjukan seks kecil mulai bermunculan di bagian kota yang terpencil, namun sekarang film porno tak lagi sulit dicari.

Penelitian menyatakan bahwa sembilan puluh dari pornografi dinikmati online, dan  sepuluh  melalui DVD.

Pria rata-rata menonton film porno selama empat puluh  menit tiga kali dalam seminggu. Seperti yang dilansir dari situs Lovepanky, penelitian menemukan bahwa tidak ada efek negatif yang muncul dari pria yang menonton film porno.

Saat wanita menemukan film porno di komputer atau ponsel pasangannya, kemungkinan besar akan memicu pertengkaran.

Walaupun setiap hubungan berbeda, namun banyak wanita yang merasa bahwa menonton porno adalah pengkhianatan, bahwa pasangannya menontonnya karena mendambakan wanita lain.

Padahal kenyataan, pria sangat sulit menolak godaan menonton porno, bukan karena bosan dengan pasangannya.

Pria menonton porno bukan karena tidak menghargai pasangannya, bukan juga karena menganggap pasangannya tak menarik.

Ada hubungan antara pria dan film porno yang memang tak bisa dipisahkan karena pria ‘terprogram’ untuk mencari variasi seksual.

Penelitian yang dilakukan pada seekor tikus menunjukkan bahwa tikus jantan hanya akan setia kepada 1 tikus betina untuk beberapa waktu saja.

Setelah beberapa lama, ia akan bosan. Bagaimanapun sang tikus betina mencoba menggoda, tikus jantan takkan tertarik. Namun saat peneliti memasukkan tikus betina yang baru, tikus jantan langsung tertarik.

Film porno adalah cara pria menyalurkan fantasi tentang pengalaman seksual baru. Tapi bukan berarti mereka tidak mencintai dan tidak peduli terhadap pasangannya.

Menonton film porno tak ada hubungannya dengan koneksi emosional atau tentang perasaannya terhadap pasangannya.

Memang, hubungan seks  dapat memenuhi kebutuhan seksual pria, namun pria yang berhubungan seks secara rutin pun tetap akan mencari pornografi saat ada kesempatan.

Film porno bersifat adiktif. Pria adalah makhluk visual dan mereka memberi respon terhadap gambar lebih cepat daripada wanita.

Menonton material pornografi memancing otak pria untuk melepaskan dopamine, senyawa yang memberikan efek serupa dengan narkotika.

Exit mobile version