Site icon nuga.co

Depresi Bisa di Cek Lewat Seluler Google

Anda menderita depresi?

Kesulitan untuk mengeceknya?

Nah, seperti dikabarkan laman “silicon beats,” Kamis, 24 Agustus,  Anda tak perlu lagi sibuk bila meyakini ada gejala itu mendatangi.

Google baru saja mempermudah pengguna untuk memeriksa, apakah pengguna menderita depresi atau tidak.

Sebuah perangkat seluler menghubungkan pengguna ke kuesioner. Melalui kuesioner ini bisa diketahui apakah mereka tampak mengalami depresi atau tidak.

Proses pemeriksaan dimulai dengan pencarian Google untuk kata “depresi,” yang membawa Anda ke sebuah kotak pilihan, “Periksa, apakah Anda mengalami depresi secara klinis.”

Kotak pilihan akan membawa pengguna ke alat skrining depresi

Dalam waktu lima menit, alat skrining memunculkan kuesioner berisi sembilan pertanyaan.

Pertanyaan ini dapat mengukur tingkat keparahan depresi klinis.

“Depresi klinis adalah kondisi yang bisa diobati. Penyakit ini dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan seseorang. Alat ini bisa menjadi langkah awal mendapatkan diagnosis yang tepat,” kata Mary Giliberti, CEO Google.

Kehadiran perangkat seluler untuk mendeteksi depresi ini juga bekerja sama dengan National Alliance on Mental Illness.

Kuesioner tersebut mengajukan pertanyaan kepada pengguna tentang kehidupan mereka dalam dua minggu sebelumnya.

Misal, seberapa sering mereka memiliki “sedikit minat untuk melakukan sesuatu” dan seberapa sering merasa “sedih, depresi atau putus asa.”

Pola tidur, perasaan lelah, kurang nafsu makan atau makan berlebih, konsentrasi rendah, dan pikiran yang menyakiti diri sendiri juga ditanyakan.

Tes ini tidak dimaksudkan menggantikan evaluasi medis, melainkan mengarahkan pengguna ke suatu hal bila hasilnya menunjukkan kemungkinan mengalami depresi.

Alat perangkat seluler dini akan tersedia di ponsel di seluruh negara Amerika Serikat

Depresi biasanya erat berkaitan erat dengan gangguan tidur.

“Gangguan tidur adalah gejala utama depresi,” ujar Myrna M. Weissman, profesor epidemiologi dan psikiatri di Columbia University pada laman Today.

Weissman menekankan, gangguan tersebut bisa muncul dalam berbagai bentuk, termasuk insomnia, kecenderungan untuk sulit tidur di malam hari dan bangun dengan perasaan buruk di pagi hari.

Berbagai studi yang dilakukan Harvard Medical School menunjukkan, sekitar enam puluh lima  hingga sembilan puluh persen pasien dewasa dengan depresi berat mengalami beberapa gangguan tidur.

Studi pada lima tahun silam yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep menemukan, gangguan tidur seperti mengorok dan napas terhenti kerap dikaitkan dengan depresi berat.

Melansir laman Today,  terkadang, individu menggunakan tidur untuk lari dari perasaan lelah, stres, cemas, dan merasa terpuruk.

Terkadang individu yang depresi pun menggunakan tidur siang untuk menghindari perasaan-perasaan tersebut.

Hal itu diungkap oleh Dr Helen M. Farrell, psikiater di Harvard Medical School dan Beth Israel Deaconess Medical Center.

“Secara pribadi maupun profesional, saya tak menyukai sebutan `depression naps` (tidur siang depresi) dan akan mencegah pasien menggunakan kata tersebut dan lebih menyarankan `tidur siang` saja,” ucapnya.

Tidur siang bermanfaat untuk mengembalikan energi dan meningkatkan daya kognitif, namun tidur siang terkait depresi justru sebaliknya.

`Depression naps` bukanlah cara yang baik untuk mengatasi perasaan Anda.

Bahkan itu pada akhirnya cenderung menjadi sistem pertahanan diri Anda dari emosi negatif, jelas Farrell.

Dr Farrell mengingatkan pentingnya bagi individu untuk menerima perasaan.

“Sangat penting bagi orang untuk bisa mentolerir perasaan-perasaan mereka dan mempraktikkan kemampuan menghadapi emosi tersebut serta memerangi depresi, ketimbang larut di dalamnya,” jelas Farrell.

Profesor psikiatri klinis, Emanuel Maidenberg, dari University of California, Los Angeles pun setuju bahwa tidur siang semacam itu menjadi mekanisme pertahanan seseorang, menghindari perasaan tak berdaya mereka.

Bagaimana membedakan antara tidur siang yang menyehatkan dengan tidur siang terkait depresi?

“Kunci tidur siang yang baik adalah tidak terlalu lama, tidak sering, dan meningkatkan energi setelahnya. Itu sebabnya sering disebut `power nap`,” ujar Farrell.

Ketika tidur siang menjadi lebih lama dan mulai membuat lesu ketimbang berenergi, aktu ketika seseorang jadi tidak mampu mengerjakan segala sesuatunya, kemungkinan itu adalah tidur siang terkait gejala depresi.

Selain itu, bila tidur siang Anda diikuti dengan tanda-tanda depresi seperti kurang berenergi, sulit konsentrasi, mood rendah, maka Farrell menyarankan untuk segera mencari bantuan profesional.

Exit mobile version