Site icon nuga.co

Betulkah Pria Maskulin Itu “Gila?”

Laman situs terkenal “the huffington post,” hari ini, Kamis, 24 November 2016,  menurunkan tulisan amat menarik seputar pria tampan dan seksis,  yang sering dikenal dengan  sebutan “playboy,” yang diyakini punya masalah kejiwaan.

“Pria yang memandang dirinya berkuasa atas diri wanita atau punya perilaku playboy cenderung memiliki masalah psikologis dibandingkan pria yang kurang berlaku maskulin,” tulis “huffinton post.”.

Parahnya, pria yang merasa maskulin ini juga tak mencari pertolongan untuk mengatasi masalahnya.

Penemuan ini dilakukan oleh sebuah studi dari American Psychological Association. Meta analisis skala besar  yang diterbitkan di Journal of Counseling Psychology ini meneliti kesesuaian norma-norma maskulin dan kesehatan mental yang melibatkan dua puluhan ribu pria.

Peserta penelitian ini didominasi pria kulit putih, tetapi juga terdiri dari orang Afrika Amerika dan Asia.

Periset mengevaluasi peserta menggunakan alat yang mengukur sebelas norma yang dipercaya psikolog mencerminkan ekspektasi masyarakat tradisional akan maskulinitas.

Kemudian peneliti mencari hubungan positif dan negatif kesehatan mental dan perilaku yang mencari bantuan.

Ada sebelas norma maskulinitas, yaitu keinginan menang, perlu mengontrol emosi, mengambil risiko, kekerasan, dominasi, hubungan seksual, percaya diri, keutamaan pekerjaan, kekuasaan atas wanita, penghinaan terhadap homoseksualitas, mengejar status.

Kesesuaian keseluruhan terhadap norma-norma maskulin itu berhubungan negatif dengan kesehatan mental seperti stres, depresi, kecemasan, masalah penyalahgunaan zat terlarang dan citra tubuh buruk.

Tiga norma khusus, namun menunjukkan hubungan kuat: percaya diri, kekuasaan terhadap wanita, dan perilaku playboy. Dua perilaku terakhir paling kuat berhubungan dengan perilaku dan tingkah laku seksis.

“Penemuan kami akan hubungan tak menyenangkan antara kesesuaian norma maskulin dan kekuasan atas wanita itu sangat menyolok,” kata pemimpin penelitian, psikolog asal Indiana University Bloomington, Dr Y. Joel Wong.

“Seksisme adalah ketidakadilan sosial dan hal ini mungkin berbahaya untuk semua orang, termasuk pelaku seksisme itu sendiri,” ujarnya.

Lebih mengganggu lagi, pria yang paling sering melakukan norma-norma seksis juga paling jarang mencari bantuan profesional untuk menyelesaikan masalah psikologis mereka.

Tak semua perilaku maskulin selalu berisiko menyebabkan masalah kesehatan mental.

Keutamaan pekerjaan tak berhubungan dengan kesehatan mental positif maupun negatif, sementara perilaku mengambil risiko berhubungan dengan hasil positif dan negatif dan menyimpulkan bahwa tipe perilaku berisiko memang berpengaruh di sini.

Penemuan ini menambah bukti hasil penelitian yang menguji hubungan kompleks antara maskulinitas dan kesehatan mental.

Banyak psikolog mencatat ini merupakan kisah kompleks dan faktor-faktor seperti ras dan status sosioekonomi harus dimasukkan dalam persamaan ini.

“Ketika seseorang berada di tekanan sosial, dengan paparan rasisme setiap hari, mereka akan berlaku tertentu, karena berlaku demikian akan membuat mendapatkan kembali bagian diri yang tergerus oleh paparan sosial tersebut,” kata Dr Wizdom Powell, psikolog yang meneliti gender dan ras di University of North Caroline Chapel Hill.

Peneliti meta analisis ini tidak mengeksplorasi bagaima hal-hal seperti ras, tingkat pendidikan, afiliasi politik dan pengaruh budaya mungkin mempengaruhi kecenderungan pria untuk mengikuti norma-norma maskulin.

Tetapi hubungan ini menarik diteliti, khususnya mengenai percakapan seputar seksisme yang timbul sebagai respon kampanye presiden Donald Trump.

 

Exit mobile version