Site icon nuga.co

Swift Raih ‘Person of the Year’ Majalah Time

Majalah terkemuka dunia “time” menempatkan Taylor Swift sebagai  sosok ‘Person of the Year’ tahun ini.

Swift termasuk  sekelompok nama dengan tajuk utama ‘The Silence Breakers’ yang ditulis “time” hari ini, Kamis, 07 Desember

Swift berada dalam deretan nama  yang turut menjadi bagian sampul TIME bersama Ashley Judd, sang pembongkar kecabulan Harvey Weinstein.

Swift dan Judd memiliki kesamaan untuk masuk dalam jajaran The Silence Breakers: mereka adalah yang berani bersuara menentang aksi pelecehan dan kekerasan. Kelompok inilah yang dipilih TIME menjadi ‘Person of the Year’.

TIME sempat mewawancarai Swift terkait terpilihnya ia menjadi jajaran Person of The Year kali ini.

“Sebelum kasus Harvey Weinstein merebak, dan sebelum aksi #MeToo menyapu internet, Taylor Swift bersaksi di persidangan pada 10 Agustus tentang kasus penyerangan yang ia alami di depan seluruh orang,” tulis TIME sebagai pembuka wawancara.

Wawancara dengan TIME ini sekaligus jadi yang pertama kalinya Swift berbicara kepada media, setelah menghilang dan menjauhi publikasi dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam wawancara tersebut, Swift sempat mengisahkan kembali kejadian pelecehan seksual yang menimpanya pada empat tahun  lalu, saat sesi jumpa fan konsernya di Denver. Swift mendapatkan rabaan di sekitar bokong oleh penyiar radio, David Mueller.

Setelah menyimpannya cukup lama, Swift akhirnya berani melaporkan Mueller ke polisi dan karenanya menjalani serangkaian persidangan.

Mueller dibawa ke meja hijau dan dipecat dari pekerjaannya.

Pihak juri dan hakim memenangkan gugatan Swift atas Mueller, yaitu ganti rugi hanya sebesar satu dollar  sebagai simbol atas suara Swift.

Sedangkan gugatan Mueller untuk Swift atas kerugian akibat pemecatan yang ia terima, ditolak hakim.

“Saya menduga bahwa bila Mueller cukup berani untuk melecehkan saya di bawah kondisi berisiko dan penuh taruhan, bayangkan apa yang mungkin ia lakukan terhadap seniman muda yang rentan bila ada kesempatan,” kata Swift.

“Penting untuk melaporkan kejadian tersebut ke stasiun radionya karena saya merasa mereka perlu tahu. Stasiun radio melakukan penyelidikan sendiri dan memecatnya. Dua tahun kemudian, ia menggugat saya,” kata Swift.

“Saya akan mengatakan kepada mereka yang menghadapi situasi seperti ini, bahwa ada banyak porsi kesalahan yang ditimpakan kepada korban pelecehan seksual. Anda dapat disalahkan atas kejadian tersebut, atas tindakan melaporkannya, atau reaksi Anda,” kata Swift.

“Namun saran saya adalah para korban tidak boleh menyalahkan dirinya sendiri dan tidak boleh menerima kesalahan yang coba ditempatkan kepada mereka.” lanjut Swift, dikutip dari TIME.

Selain para The Silence Breakers, TIME memilih sejumlah nama sebagai runner-up ‘Person of the Year’.

Mereka adalah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden Xi Jinping, mantan Direktur FBI Robert Mueller, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, atlet NFL Colin Kaepernick, dan sutradara Wonder Woman Patty Jenkins.

Penghargaan ini diputuskan oleh editor majalah Time untuk individu atau grup yang paling berpengaruh dalam pemberitaan tahun ini, baik dalam hal positif ataupun negatif.

Terpilihnya orang-orang yang pemberani atau ‘The Silence Breaker’, disampaikan Edward Felsenthal, pemimpin redaksi Time karena perubahan sosial yang diusungnya bergerak paling cepat dalam dekade ini.

Seperti dilansir dari The Independent, aksi berani bersuara, menolak bungkam ini dimulai dari satu orang lalu menjalar ke seratusan perempuan, serta pria juga yang kemudian mengungkap cerita versi mereka.

Pemberian award pada para penolak bungkam ini memberi catatan khusus pada kasus kekerasan, dan pemerkosaan yang dilakukan Harvey Weinstein beberapa waktu lalu.

Diperkirakan ada lebih dari lima puluh perempuan yang membuka diri ke publik akan pengalaman pelecehan yang mereka terima dari Weinstein selama rentang waktu empat dekade.

Tahun ini mereka membuka suara.

Sejak kasus itu merebak di Oktober lalu, diikuti kemudian berbagai tudingan lainnya terhadap orang yang selama ini dianggap sangat berkuasa.

Di media sosial, jutaan orang lalu menggunakan tagar #MeToo dalam membagi cerita dan menolak bungkam atas kasus pelecehan seksual.

Tagar itu sendiri dilaporkan dimunculkan Tarana Burke satu dekade lalu untuk mendukung para penyintas atau korban pelecehan seksual.

Tagar itu kembali muncul dan ramai digunakan seiring tudingan terhadap Weinsten.

“Ini hanya awalan dan seperti yang saya bilang sebelumnya, ini bukan saja saatnya, tapi juga sebuah gerakan,” ujar Burke pada Today show.

Exit mobile version