Site icon nuga.co

Kematian Prince Masih Sisakan Tanya

Kematian musisi dunia Prince masih menyisakan tanya hingga kini.

Dan,investigasi polisi atas kematian bintang pop Prince setahun lalu menghasilkan temuan opioid.

Mengutip Reuters, berbagai obat dengan efek penghilang rasa sakit seperti morfin itu bertebaran di rumah Prince di Paisley Park, di mana Prince ditemukan meninggal.

Hasil investigasi itu baru disampaikan di pengadilan melalui sebuah dokumen yang tak tersegel, Selasa, 18 April.

Investigasinya selama ini dinamakan ‘bunuh diri aktif.’

Dokumen itu dijaga kerahasiaannya sampai Senin kemarin karena pengadilan Carver County, Minnesota dan jaksa khawatir saksi mungkin lari dan menghilangkan bukti potensial.

Opioid yang ditemukan di rumah Prince diketahui berefek kuat. Menurut laporan, obat-obatan itu didapat berdasarkan resep dokter, atas nama teman dan pengawal pribadi sang musisi.

Temuan itu didapat berdasarkan penelusuran di komputer pribadi Prince, catatan telepon sang pelantun I Wanna be Your Lover dan teman-temannya, serta wawancara orang terkait.

Meski demikian, sampai saat ini tidak ada seorang pun yang dituding atas kriminalitas pembunuhan Prince. Sang ‘Purple Rain’ itu tetap dianggap bunuh diri ‘tak sengaja.’

Penyebab resmi kematiannya adalah overdosis fentanyl, salah satu obat penghilang rasa sakit yang juga tergolong sebagai opioid. Namun, itu dianggap kecelakaan belaka. Penyidik juga tak menemukan di mana dan dari mana fentanyl yang menyebabkannya meninggal.

Efek fentanyl sendiri diketahui 50 kali lebih kuat dari heroin.

Tak seperti obat-obat lain, mereka tak berhasil menemukan resep dokter untuk fentanyl.

Obat-obatan itu termasuk pil berlabel Watson 853, yang diketahui sebagai versi generik untuk hydrocodone-acetaminophen. Ada pula beberapa pil yang mengandung narkotika yang masih terkontrol di beberapa lemari, termasuk botol vitamin atas nama pengawal Prince.

“Kebanyakan lokasi [ditemukannya obat itu] merupakan daerah yang sering didatangi Prince, seperti kamar tidur dan ruang busana atau laundry,” tertulis di salah satu dokumen.

Detektif yang menyelidiki kasus Prince menyadari bahwa, dari saksi yang mereka wawancara, sang musisi pernah mengalami masa-masa menarik diri dari orang dekat di sekelilingnya. Itu disebut-sebut merupakan hasil dari penyalahgunaan obat-obatan resep dokter.

Penemuan berbagai obat-obatan itu jelas membantah anggapan bahwa selama ini Prince hidup sehat, bahkan jadi seorang vegetarian. Selain kemungkinan mengonsumsi berbagai obat, Prince juga diketahui tidak menggunakan ponsel. Surelnya pun punya banyak nama palsu.

Penyelidikan juga menemukan Prince tidak punya dokter tetap. Timnya akan menjadwalkan Prince bertemu dengan sembarang dokter untuk memberinya vitamin B-12 sebelum pentas.

Belum ada kesimpulan bahwa segala perilaku Prince dan orang-orang terdekatnya semasa hidup itu membawa pengaruh atas kematiannya. Itu masih harus diputuskan oleh hakim Minnesota.

Sebelumnya diberitakan Prince meninggal karena overdosis  Fentanyl yang sangat kuat. Prince mungkin tidak sengaja menelan pil tersebut.

Sementara itu pengelola  museum, Paisley Park,  kediaman mendiang penyanyi legendaris Prince di Minnesota, kini sedang merencanakan acara spesial.atas  kontribusi Prince.

Perayaan itu dilakukan tepat pada satu tahun sepeninggal wafatnya Prince.

Perayaan bertajuk ‘Celebration’ itu akan diselenggarakan pada bulan ini dengan menghadirkan sejumlah musisi legendaris.

Untuk menghadiri acara tersebut, para pengunjung akan dikenakan biaya masuk

Penyelenggara ‘Celebration’ menjanjikan acara berlangsung “setiap harinya selama lima jam dan menyuguhkan konser eksklusif, diskusi panel, tur dan lainnya.”

Prince, pelantun When Doves Cry itu, meninggal  karena overdosis, pada April lalu.

Semasa hidupnya ia telah memberi wasiat agar rumah dan studio rekaman miliknya dibuka untuk umum setelah kematiannya.

Hingga akhirnya, Oktober lalu, setelah mengatur perizinan dari pemerintah dan pewaris, kediamannya resmi dibuka untuk publik.

Pembukaan tempat itu sendiri memungkinkan para penggemar mengakses seluruh daerah di dalamnya, untuk mengenal lebih dalam sosok Prince.

Akses itu termasuk ruangan ‘Purple Rain’ di mana Prince menyimpan naskah, piano, kostum, dan sepeda yang digunakannya dalam film. Piala Oscar yang pernah dibawanya pulang pun dipajang di ruangan istimewa itu.

Dengan dibukanya museum itu, pihak pengelola mengeluarkan aturan agar para pengunjung tidak meninggalkan hadiah atau tanda mata untuk mendiang Prince.

Aturan itu diterapkan agar tidak menghalangi pengunjung lain saat berjalan dan menikmati koleksi museum.

Exit mobile version