Site icon nuga.co

Keberadaan Afghan Utuh di Jalur Musik

Afghan melakukan “pemberontakan”

Yq, Afghan sang penyenyai itu “berontak”

Ia melakukan pemberontakan untuk diri sendiri.”

Usai “berontak” saya jadi diri sendiri,” katanya kepada berbagai media.

Ia juga mengakui telah mengalami banyak perjalanan hidup dan karier selama sepuluh tahun menjadi penyanyi.

Bahkan, ia harus ‘berontak’ dengan sejumlah pihak seperti label untuk menjadi lebih jujur dalam bermusik.

Kala berbincang dengan berbagai media di sela acara ulang tahun Insert Trans TV, beberapa waktu lalu, Afgan mengakui bahwa perjalanan musik selama sepuluh tahun terakhir sudah jadi bagian dalam hidupnya.

“Melalui musik dan pekerjaan yang aku jalani, saya lebih dewasa. Lebih berani untuk jadi diri sendiri,” kata Afgan.

Bukan tanpa alasan Afgan mengatakan hal tersebut. Ia menyebut butuh pengorbanan untuk mengusung musik yang kini ia sebut lebih jujur dan ‘Afgan banget’ itu.

“Pada waktu awal saya mulai, saya merasa memang di-direct banget sama label. Saat itu belum ada penyanyi solo yang seumuran saya, ya paling Marcell, Glen Fredly, Rio Febrian,” kata Afgan.

“Jadi saya di-direct ‘Kamu harus nyanyi lagunya kayak gini, (lagu) cinta, bla bla’. Sementara saya punya passion lain,”tambahnya.

Ketidakcocokan idealisme ini yang mendorongnya untuk berontak dengan label lamanya pada tujuh tahun1 silam. Hingga kemudian, dia berganti label sejak lima tahun lalu dengan album L1ve to Love, Love to L1ve.

Dirinya pun mengakui kini tak terlalu memikirkan pendapat orang tentang karyanya. Dia menyebut kini sudah lebih berani menunjukkan apa yang menurutnya paling bagus dan jujur.

“Kalau dulu saya berkarya ada rasa takut, kalau sekarang saya sudah lebih firm. Apa yang saya mau saya berani, dulu mikir ‘Duh bakal ada yang suka nggak ya?’. Kalau sekarang, saya tunjukkin dulu yang paling bagus dan jujur menurutku,” katanya.

Pendewasaan dalam sepuluh tahun berkarier juga dirasakan Afgan dalam banyak hal terutama memahami situasi orang lain.

Dia menyadari setiap orang memiliki peranan masing-masing dan dia tidak bisa egois dalam menjalani pekerjaannya.

Membayangkan dirinya sepuluh tahun ke depan, Afgan masih tetap ingin terus berada di belantika musik Indonesia, bahkan Asia.

Namun ia berharap ia bisa lebih santai dan selektif dalam menjalani kehidupan bermusiknya.

“Bidang-bidang lain saya lakuin, tapi passion saya tetap di musik. Saya enggak tahu lagi tanpa musik saya harus ngapain, seperti sudah mendarah daging,” kata Afgan.

Hopefully masih bisa terus berkarya. Inginnya lebih santai, inginnya lebih selektif, lebih menikmati hidup aja di sepuluh tahun ke depan tapi tetap sebagai musisi,” tambahnya.

Afghan sendiri selama sepuluh tahun ini eksis bermusik.

Ia baru saja merilis album baru ‘Dekade’ baru-baru ini sebagai tanda kariernya yang telah berjalan sepuluh tahun. Album ini bak menjadi babak baru dalam perjalanan karier penyanyi bersuara berat itu.

Nama Afgan Syahreza mulai menanjak sejak merilis single Terima Kasih Cinta pada 2008. Karakter vokal Afgan yang khas menjadi salah satu faktor yang menarik perhatian masyarakat Indonesia.

Pada tahun yang sama, Afgan merilis album Confession No.1 dibawah naungan Sony BMG Music Entertainment Indonesia.

Lagu Sadis, Tanpa Batas Waktu dan My Confession yang ada dalam album itu sukses membawa Afgan semakin eksis dan tampil di berbagai panggung.

Tak butuh waktu lama, pada delapan tahun lalu Afgan merilis album The One yang berisikan beberapa original soundtrack untuk film Cinta 2 Hati.

Tahun ini Afgan membuktikan konsisten bermusik dengan merilis album kelima melalui Dekade sebagai tanda waktu yang telah ia arungi sebagai penyanyi di Indonesia.

Dekade berisi  empat belas lagu yang terdiri dari tujuh lagu lama, tiga lagu lama dengan aransemen baru dan empat lagu baru.

Empat lagu baru itu adalah Heaven (featuring Isyana Sarasvati & Rendy Pandugo, Take Me Back (featuring Ramegvrl), Love Again dan Sudah.

Afgan turut menggandeng musisi lain untuk melangkapi Dekade. Mereka adalah Andi Rianto, Sheila Madjid, Inu ‘Numata’, Rossa, Raisa dan Badai ‘eks Kerispatih.

Sheila, Raissa dan Rossa beperan sebagai penyanyi, sedangkan musisi lain berperan sebagai pencipta lagu.

Bila diperhatikan, gaya musik pada empat lagu baru dalam Dekade terasa berbeda dengan lagu-lagu album sebelum.

Nuansa R&B terasa pada empat lagu baru tersebut, terlebih musisi ini featuring dengan rapper Ramengvrl.

Eksperimen Afgan dalam album ini juga sekaligus tantangan baginya untuk membuktikan mampu kembali mendulang sukses seperti karya dia terdahulu.

Exit mobile version