Site icon nuga.co

“Kutukan” Maracana Pulangkan Spanyol

Spanyol menangis. Iker Casillas, kiper yang dituduh sebagai biang kekagalan Spanyol, dinihari WIB, Kamis, 19 Juni 2014, mendatangi Iniesta, menyalaminya dan berbisik dengan sendu. “Saya yang bersalah.”
Casillas memang memerlukan mendekat ke Iniesta.

“Playmaker” inilah yang empat tahun lalu di Soccer Stadion, Afrika Selatan, yang memecahkan kebuntuan gol ketika laga final Piala Dunia 2010 antara Spanyol melawan Belanda.

Satu gol dari Andres Iniesta di perpanjangan waktu mengantar Spanyol menjadi juara Piala Dunia, dan sejak itu La Furia Roja dengan arsiteknya Del Bosque menebarkan ancaman bagi seluruh tim dunia. Ia mengantarkan Spanyol ke Piala Europa. Menyandingkan trofi “World Cup” dengan “Euro Cup.”

Hampir semua tim, tidak terkecuali Italia, Jerman, Belanda dan Perancis taklukkan oleh kejumawaannya.

Spanyol sebagai juara bertahan memiliki sejumlah prestasi cemerlang. Selama enam tahun terakhir mereka membuat sejarah sepakbolanya berkilau. Mereka memulai dengan langkah pasti ketika menjuarai Piala Eropa 2008, yang merupakan trofi besar mereka sejak 1964.

Setelah itu catatan rekornya mulai bergulir. Tidak terkalahkan dalam tiga puluh lima laga secara beruntun, termasuk meraih kemenangan dalam lima belas laga secara berturut-turut, sejak 2006 sampai dikalahkan Amerika Serikat pada Piala Konfederasi 2009.

Meski memulai Piala Dunia 2010 Afrika Selatan dengan kekalahan kosong satu dari Swiss, Spanyol mengakhiri turnamen itu sebagai juara dan menjadi satu-satunya tim selain Brasil yang menjuarai Piala Dunia di luar benua asalnya.

Dua tahun lalu, Spanyol menjadi tim pertama yang mempertahankan gelar juara Eropa, setelah mengalahkan Italia empat gol tanpa balas pada babak puncak.

Spanyol menjadi kekuatan di dunia sepak bola dari dominasi Barcelona di Eropa, dengan permainan umpan pendek yang dikenal dengan tiki-taka.

Pelatih Luis Aragones dan Vicente Del Bosque membangun skuad Spanyol dengan gelandang Barcelona, Xavi Hernandez, sebagai porosnya. Spanyol pun jatuh, ketika Barcelona meredup.

Kini, hari-hari indah sebagai tim pengusung “tiki taka,” dengan pilar pemain berasal dari dua klub raksasa dunia, Real Madrid dan Barcelona, memasuki babak suram. Spanyol di”pulang”kan Chile setelah dikalahkan dua gol tanpa balas pada laga kedua Grup B Piala Dunia 2014 Brasil, di Maracana – Estadio Jornalista Mario Filho, Rio De Janeiro.

Dalam enam tahun terakhir Spanyol begitu mendominasi sepakbola dunia. Setelah berturut-turut memenangi dua Piala Eropa dan sekali jadi kampiun Piala Dunia, keperkasaan La Furia Roja runtuh di Brasil 2014.

Tanda-tanda akan berakhirnya dominasi Spanyol mungkin sudah terlihat sejak setahun lalu. Meski berhasil lolos ke final Piala Konfederasi, yang juga digelar di Brasil, Spanyol kalah telak dengan skor tiga gol tanpa balas atas tuan rumah.

Bukan cuma tersingkir, Spanyol menjalani turnamen yang buruk di Brasil. Mereka menjadi juara bertahan pertama yang menelan dua kekalahan di laga pertama Piala Dunia. Di dua laga itu Spanyol kemasukan tujuh kali, dan cuma bikin satu gol – itupun melalui ekskusi penalti.

Dua kekalahan yang memulangkan Spanyol ini di respon penjaga gawang La Furia Roja Iker Casillas. Ia tak bisa menahan rasa malu harus tersingkir sebelum fase grup usai.

Casillas tak bisa menutupi kekecewaannya. Dengan banyak pemain senior yang dimiliki Spanyol, tidak semestinya mereka tersingkir di awal Piala Dunia.

“Kami mempunyai beberapa pemain yang berusia di atas 30 tahun; mengecewakan jika generasi ini harus tersingkir dengan cara seperti ini,” ucap Casillas seperti dikutip AS.

Namun Casillas tak bisa menjawab saat ditanya apakah kekecewaan itu cukup membuat dia harus pensiun atau tidak.

“Saya tidak tahu, saya benar-benar tidak tahu,” ucap Casillas sambil menggeleng kemudian melangkah pergi.

Exit mobile version