Site icon nuga.co

Sir Alex Ferguson Pelatih Paling “Kejam”

Sir Alex Ferguson menemukan momentum kejayaan bersama Mancehster United lewat “style” melatihnya yang “kejam,” terutama ketika membetot pemain di kamar ganti. Kamar ganti adalah sebuah “penjara” siksaan bagi pemain ketika Fergie memulai “ceramahnya” yang keras.

“Saya dibayar untuk terus menang. Itu memang kerjaan saya. Karena itu saya kejam. Saya tak akan menyangkalnya. Anda harus memiliki kepribadian ketika Anda memimpin orang-orang, dan saya memiliki kepribadian yang cukup kuat,” ucap Ferguson, di acara delegasi EY World Entepreneur of the Year awards, Senin 09 Juni 2014.

Cobalah kenang bagaimana “ganasnya” fergie sebagai pelatih lewat winger veteran MU yang sudah pensiun, kini menjadi asisten pelatih van Gaal, Ryan Giggs.

Coba juga ungkit dari David Beckham dan Rooney yang punya kenangan pahit bersama Sir Alex. Dan Giggs pun punya pengalaman serupa, tepatnya saat dibentak dan dicaci saat gagal mengeksekusi penalti di sebuah laga FA Cup dua puluh satu tahun silam.

“Dia ‘membantai’ saya. Bukan hanya karena saya tak bisa mengendalikan bola, tapi terutama gagal saat penalti. Saya saat itu masih pemain berusia delapan belas tahun yang congkak dan saya kira saya bisa menguasai bola,” kenang Giggs kepada TheTimes..

“Saya sudah percaya diri tinggi, tapi penalti itu jadi momen terburuk yang pernah saya lakukan. Steve Bruce dan Bryan Robson juga bilang bahwa itu kegagalan penalti terburuk.”

“Bahkan lima belas tahun kemudian, Sir Alex tak membiarkan saya melupakannya, seperti banyak hal lainnya. Momennya tak tepat buat saya menendang penalti saat itu,” tukasnya.

Pengalaman Giggs, Beckham atau pun Rooney, sudah bukan rahasia umum lagi jika menggambarkan sosok Sir Alex Ferguson sebagai pribadi yang kejam saat melatih Manchester United dulu.

Ya, pelatih berpaspor Skotlandia itu pun tak keberatan ketika disebut sebagai manajer yang kejam.

Baginya, kejam merupakan hal yang harus dilakukan agar terus dapat mempertahankan kemenangan tim dan dibutuhkan untuk membentuk kepribadian yang kuat, guna memimpin sebuah tim.

“Saya dibayar untuk terus menang, itu memang kerjaan saya, maka karena itu saya kejam. Saya tak akan menyangkalnya. Anda harus memiliki kepribadian ketika Anda memimpin orang-orang, dan saya memiliki kepribadian yang cukup kuat,” ucap Ferguson,.

Selama 27 tahun menangani Setan Merah. Ferguson memiliki beberapa metode yang banyak dikenal orang seperti Fergie’s hair dryer atau Fergie Time. Namun, jika merujuk pada ‘kekejaman’ yang ia miliki, maka itu disebut hair dryer ala Ferguson.

Hair dryer disini adalah saat tim tidak bermain sesuai dengan ekspektasi di babak pertama, dan Ferguson memarahi para pemainnya tepat di jeda babak pertama. Salah satu ‘korban’ yang pernah merasakan pengalaman tersebut adalah David Beckham sebelas tahun lalu, yang terkena lemparan sepatu, tendangan Ferguson yang frustasi.

Dengan gaya berbeda, Manchester United, kini, juga mendapatkan pelatih “keras,” Louis van Gaal. Pelatih tim Belanda ke Piala Dunia Brasil 2014, yang di kontrak MU selama tiga musim itu, terkenal “kejam” ketika menjadi manajer di Barcelona dan Bayern Muenchen.

Van Gaal, sama dengan Fergie, tak menutup bahwa ia termasuk pelatih yang “sadis.” Sama dengan Fergie, Gaal juga beralasan dibutuhkan sebuah metode keras untuk melatih tim seperti MU.

Tim besar yang membutuhkan kemenangan dalam setiap laga, bagi Gaal, harus dipacu oleh kemampuan pelatih mengatasi kecongkakan pemain. “Saya butuh komitmen dari pemain. Begitu di abaikan, kita harus langsung bereaksi,” katanya.

Exit mobile version