Site icon nuga.co

Real Singkirkan Bayern di Liga Champions

Sven Ulreich, kiper Bayern Munchen,  melakukan blunder dalam laga leg kedua  semifinal Liga Champions, Rabu dinihari WIB, 02 Mei, yang membuat Karim Benzema, striker Real Madrid,  mencetak gol di awal babak pertama.

Kesalahan Ulreich mengantisipasi umpan Corentin Tolisso menjadi ‘hadiah’ bagi Benzema dan Madrid.

Kendati sempat dikejar Mats Hummels, Benzema tanpa kesulitan mencetak gol ke gawang lowong yang sudah ditinggal Ulreich.

Gol Benzema yang membuat Madrid unggul dua gol berbanding satu gol  dan membuat Munchen kesulitan membalikkan keadaan.

Dua gol Madrid membuat Die Bayern harus mencetak tiga gol di Bernabeu.

Pada akhirnya raksasa Bundesliga itu hanya mampu mencetak satu gol tambahan dan skor dua gol berbanding dua gol terjaga hingga laga usai.

Dengan hasil seri ini Madrid kembali lolos untuk ketiga kalinya ke Liga Champions secara berturut-turut.

Real pada musim lalu menjadi juara Liga Champions.

Pada konferensi pers setelah pertandingan, pelatih Bayern Munchen,  Heynckess menjelaskan penyebab Ulreich melakukan kesalahan fatal.

“Ulreich bingung, dia tidak sadar untuk sesaat. Dia tidak tahu apakah dia dapat mengambil bola, ketika dia menyadari tidak dapat melakukannya, dia menjadi tegang dan itulah yang teradi, hal yang buruk bagi seorang pemain,” kata Heynckess  seperti ditulis “mirror,” hari ini, Rabu, 02 Mei.

Pelatih yang pernah menangani Madrid itu tidak menyalahkan Ulreich sebagai satu-satunya penyebab kekalahan Munchen.

Heynckes juga menyoroti ketidakmampuan Robert Lewandowski dan kawan-kawan mencetak gol.

“Itu adalah momen buruk bagi tim saya tapi kami memiliki kesempatan mencetak gol dan kiper saya bermain cukup baik secara keseluruhan,” terangnya.

Ulreich menjadi kiper utama di Munchen musim ini setelah Manuel Neuer mengalami cedera kaki pada pekan-pekan awal dan harus beristirahat panjang.

Selain Ulreich, pada laga itu, Marcelo, bek Real Madrid juga melakukan kesalahan yang berakibat penalti bagi Bayern.

Ulreich  melakukan handball di dalam kotak penalti  dalam laga di, di Stadion Santiago Bernabeu,iru.

Para pemain Munchen sempat protes terhadap wasit di pengujung babak pertama. Mereka yakin Marcelo menyentuh bola dengan tangannya untuk mencegah umpan tendangan Joshua Kimmich

Namun, wasit Cuneyt Cakir tidak memberikan hadiah penalti kepada Die Roten.

Saat itu kedudukan masih sama kuat satu gol berbanding satu gol.

Cerita bakal berbeda apabila Munchen berbalik unggul setelah mendapat penalti dari Cakir.

Dilihat dari tayangan lambat, tangan kiri Marcelo memang tampak jelas menahan laju bola tendangan Kimmich agar tidak sampai ke depan gawang Navas.

Pemain asal Brasil itu pun tidak menampik ia melakukan handball dan merasa Munchen memang seharusnya mendapatkan hadiah penalti.

“Itu handball, bola mengenai tangan saya dan saya rasa seharusnya penalti. Jika saya katakan bola tidak menyentuh tangan saya, berarti saya bohong. Namun, begitulah sepak bola,” ujar Marcelo seperti dilansir Reuters dikutip dari Eurosport.

“Saya tak ingin membahas wasit. Namun, jelas sekali kadang keputusan mereka menguntungkan Anda dan di lain waktu merugikan Anda. Apapun yang terjadi, Anda tetap harus bermain,” ucap Marcelo.

Sejumlah pemain FC Hollywood macam Arturo Vidal dan Jerome Boateng sempat menumpahkan kekecewaan mereka melalui Instagramstory atas keputusan wasit yang dianggap berpihak ke Madrid.

“Lagi-lagi sebuah tindakan kriminal,” demikian kata Vidal melalui Instagramstory-nya.

Sementara itu, pelatih Munchen Jupp Heynckes sama sekali tidak menyinggung kontroversi penalti itu.

Sebaliknya, ia bangga dengan performa apik Die Roten meski gagal ke final Liga Champions dengan skor sama kuat di leg kedua.

“Kami sangat kecewa karena sebenarnya kami bermain luar biasa,” terang Jupp Heynckes.

“Saya katakan kepada para pemain, saya belum pernah melihat permainan Bayern [Munchen] sebagus ini dalam beberapa tahun. Namun di level ini, Anda memang tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun,” ujar Heynckes.

Menghadapi Munchen, Madrid sudah dihadapkan pada permainan agresif sejak menit awal. Gol Joshua Kimmich pada menit ketiga menandai menjadi penanda ambisi besar Munchen mengalahkan tuan rumah.

Robert Lewandowski, Thomas Mueller, Franck Ribery, James Rodriguez, Corentin Tolisso, David Alaba, Kimmich, hingga Mats Hummels menebar ancaman.

Berbagai skema serangan Die Roten, melalui sayap maupun umpan cepat satu dua membahayakan gawang Madrid yang dikawal Keylor Navas.

Penjaga gawang asal Kosta Rika itu tercatat melakukan delapan penyelamatan. Navas pun seolah memastikan Madrid tidak membutuhkan kiper lain selain dirinya.

Madrid dua kali menjadi juara Liga Champions dengan dukungan Navas di bawah mistar. Partai final di musim lalu bisa menambah daftar gelar Navas bersama Madrid.

“Saya sangat senang, terima kasih kepada Tuhan karena ini merupakan pertandingan yang sulit, mereka adalah tim yang hebat. Kami sangat kesulitan tapi kami berhasil melaju ke final, itulah tujuan kami, kami membuat sejarah dan berjuang hingga akhir,” kata Navas seperti dikutip dari marca.

“Kami akan bersiap untuk menghadapi final, menghormati lawan tapi dengan keinginan meraih kemenangan. Saya ingin berterima kasih kepada fan atas dukungan mereka, kami harus menikmatinya bersama dan pergi dengan mental yang sama menuju Kiev,” tambah sang  kiper

Selain Navas, kapten tim Sergio Ramos juga mengaku kewalahan menghadapi ancaman sang juara Jerman. Ramos tidak segan mengakui kemampuan Munchen menyulitkan rekan-rekannya.

“Bayern adalah tim yang hebat seperti yang telah mereka tunjukkan bertahun-tahun, lawan yang sangat tangguh. Mereka menguasai bola lebih banyak dan kami menderita tapi secara keseluruhan dalam laga dua leg kami lebih baik,” jelas Ramos.

Exit mobile version