Site icon nuga.co

Pemain Real Selalu Ingin “Bunuh” Messi

Media paling terkenal di Spanyol terbitan Madrid, “marca,” secara khusus menurunkan laporan laga “el clasico” dengan salah satu judulnya tentang keinginan pemain Real untuk “membunuh” Lionel Messi di lapangan.

“Mereka ingin membunuh Messi,” tulis “marca’ yang menempatkan kata bunuh di antara tanda dua petiki.

Laga El Clasico sendiri antara Real Madrid dan Barcelona selalu menghadirkan pertarungan sengit.

Demikian pula yang terjadi saat Blaugrana menaklukkan El Real tiga gol bernading dua di Stadion Bernabeu, Minggu  malam  lalu waktu setempat.

Bahkan, laga tersebut melahirkan drama berdarah-darah.

Ya, pemain bntang Barcelona Lionel Messi mengalami pendarahan di hidungnya setelah disikut oleh bek Madrid Marcelo pada pertengahan babak pertama.

Messi sempat ditarik keluar lapangan untuk menjalani perawatan dari tim medis setelah hidungnya terus mengeluarkan darah.

Tak sampai disitu, seri teror terhadap megabintang dari Argentina itu berlanjut.

Di babak kedua, giliran Sergio Ramos yang berusaha menjatuhkan Messi dengan kedua kakinya tersebut.

Atas aksinya yang sangat berbahaya itu, bek tengah Madrid tersebut pun langsung mendapatkan kartu merah dari pengadil lapangan.

Ramos sendiri sudah mengatakan tidak ada niat untuk menyakiti pemain bernomor punggung 10 itu.

Namun, penilaian berbeda dilontarkan Fabio Capello yang pernah melatih Real Madrid

Ia yakin, tetap ada unsur kesengajaan dari Ramos dan para pemain Los Blancos lainnya untuk melemahkan mental termasuk menyakiti Messi.

“Anda tahu, setiap kali laga El Clasico di sini, di Bernabeu, selalu ada kejadian mereka (para pemain Madrid) kerap berusaha menyakiti Messi dan selalu ada kartu merah,” terang pelatih asal Italia itu saat laga El Clasico berlangsung, seperti dikutip dari Goal.

Capello lantas menegaskan sekali lagi, ia tidak percaya dengan perkataan Ramos bahwa dirinya tidak ada niat untuk menyakiti Messi.

“Lihatlah pelanggaran itu! Coba lihat pelanggaran itu! Itu merupakan aksi kriminal. Jelas sekali pelanggaran, sangat terang benderang. Itu pantas diberi kartu merah,” tegas Capello.

Pada gilirannya, ia melanjutkan, upaya para pemain Madrid untuk melakukan segala cara demi menghentikan Messi justru merugikan timnya.

Pada laga El Clasico, Minggu  lalu, tim arahan Zinedine Zidane pun harus bermain dengan sepuluh orang setelah Ramos diusir wasit.

Sergio Ramos masih tak percaya mendapatkan kartu merah dalam laga itu

Bagi Ramos, ia tak berniat melakukan pelanggaran keras terhadap Lionel Messi.

Bencana bagi Ramos hadir di menit ke-77. Dalam posisi Madrid tengah menekan Barcelona, Blaugrana mampu merebut bola dan coba melakukan serangan balik.

Messi mendapatkan bola dan hampir sampai di tengah lapangan.

Ramos yang menyadari situasi bahaya itu coba melakukan tekel kepada Messi. Ramos dianggap terlambat melakukan jegalan dua kaki terhadap Messi.

Messi terguling di lapangan dan wasit langsung memberikan kartu merah pada Ramos atas aksinya tersebut.

Meski tekel Ramos tidak mengenai Messi, tapi wasit menganggapnya sebagai tindakan berbahaya.

“Kartu merah jadi momen kunci di laga itu karena mereka berhasil mencetak gol di menit akhir. Setiap orang berhak memiliki opini atas hal itu namun bagi saya kartu merah tersebut terlalu berlebihan,” tutur Ramos seperti dikutip dari situs resmi Real Madrid.

Ramos menilai kartu merah terlalu berlebihan untuknya karena ia sama sekali tak berniat mencederai Messi saat melakukan pelanggaran tersebut.

“Saya memang terlambat melakukan jegalan namun saya tak melakukan jegalan dengan niat untuk membahayakan pemain lawan.”

“Saya tak akan berpendapat tentang wasit karena mereka pun bisa melakukan kesalahan seperti kita semua,” ucap bek timnas Spanyol ini.

Pelatih Madrid Zinedine Zidane juga tak mau berkomentar banyak tentang performa wasit yang melayangkan kartu merah pada Ramos.

“Wasit telah membuat keputusan untuk memberikan kartu merah pada Ramos dan kami harus menerima hal itu,” tutur Ramos.

Setelah Ramos terkena kartu merah, Madrid sempat menyamakan kedudukan lewat gol James Rodriguez. Tetapi gol Messi di detik-detik akhir pertandingan membuat Los Blancos harus gigit jari di depan pendukung mereka

Sementara itu, manajer Chelsea Antonio Conte ikut dibuat terpukau mengikuti kemenangan dramatis Barcelona atas Real Madrid

Di antara yang paling dipuji Conte adalah penampilan luar biasa Lionel Messi sebagai pemain bintan Blaugrana.

Messi menjadi protagonis dalam kekalahan rival terbesar timnya itu. Ia mencetak gol pengujung laga duel El Clasico tersebut

Conte pun menyebut Messi layak disebut pemain bintang yang memiliki kontribusi sangat besar bersama Azulgrana.

Bahkan, pelatih asal Italia itu menegaskan, pemain asal Argentina tersebut bukan pemain yang egois di timnya.

“Saya tidak melihat pemain seperti Messi adalah pemain yang egois. Target pertama dari setiap sang juara adalah menempatkan talenta mereka ke dalam sebuah tim,” tutur Conte seperti dikutip dari Express.

Ia berpendapat, sosok pemain bintang yang jauh dari rasa ambisi pribadi itulah yang amat diinginkan dirinya dalam tim. Conte melanjutkan, tak ada pemain bintang tanpa dukungan tim yang juga diandalkan sang pemain tersebut.

“Jika Anda harus melakukan hal bagus di tim sesuai dengan kemampuan Anda. Tak ada pemain hebat di dunia tanpa sebuah tim,” kata Conte.

Conte juga amat menyayangkan jika ada pemain hebat, namun menunjukkan sisi-sisi individualistis yang sangat besar dalam tim. Ia lebih memilih pemain dengan kemampuan rata-rata namun jadi kekuatan yang sangat solid jika disatukan.

“Saya sangat sedih jika mendengar ada pemain yang sangat egois. Itu buka pemikiran saya di sepak bola, saya tak pernah memahaminya,” sambung mantan pelatih Juventus tersebut.

“Saya sama sekali tidak menginginkan pemain egois. Saya lebih baik kalah dalam pertandingan dibandingkan memiliki pemain egois.”

“Saya tidak menginginkannya. Saya tidak bisa menerimanya dan saya tidak ingin klub saya membeli pemain egois. Tak akan pernah,” pungkasnya.

Exit mobile version