Site icon nuga.co

MU Tidak Sekuat Era Sembilan Puluhan

Manajer Manchester United (MU), Ole Gunnar Solskjaer, mengakui timnya kini tak lagi menakutkan seperti di era sembilan puluhan. Menurut Solskjaer, butuh waktu bagi Setan Merah untuk bisa seperti dulu.

MU sangat kuat di era sembilan puluhan. Puncaknya adalah ketika meraih treble di tahun 1999. Solskjaer menjadi bagian dari tim tersebut.

“Kita bukan lagi di tahun sembilan puluhan. Ini era yang berbeda, kelompok berbeda yang sedang kami bangun. Kami tahu akan ada pasang surut. Saya siap melihat anak-anak ini berkembang,” kata Solskjaer di Soccerway.

“Saya tidak tahu apa yang lawan pikirkan tentang kami. Saya hanya tahu kadang-kadang ketika Anda keluar dari pertandingan, kami tidak selalu melakukan hal-hal buruk di sini.”

“Terkadang ada celah. Saya sudah merasakan itu beberapa kali, tetapi tidak terlalu sering. Saya tidak bisa memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentang kami. MU perlu berkembang dan itulah yang harus kami lakukan.”

Solskjaer juga mengaku akan mempertahankan filosofinya dengan banyak mengorbitkan pemain muda.

“Tidak banyak klub dengan status kami yang memainkan pemain muda sebanyak kami. Mereka punya peluang untuk masuk tim utama dan kami yakin beberapa di antaranya akan menjadi bagian dari tim yang sukses,” Solskjaer menambahkan.

MU sendiri kini berada di peringkat 10 klasemen Liga Inggris. Setan Merah mengoleksi sembilan poin dari tujuh pertandingan.

Sehari sebelumnya MU memperpanjang rekor gagal menang dalam laga tandang di semua kompetisi setelah ditahan imbang AZ Alkmaar di laga kedua Grup L Liga Europa di Stadion Cars Jeans, Jumat  dini hari WIB.

Tim asuhan Ole Gunnar Solskjaer itu bertekad menang di pertandingan kedua Grup L Liga Europa saat bertandang ke markas AZ.

Tetapi, MU yang lebih diunggulkan justru dibuat kesulitan oleh tuan rumah. AZ lebih banyak memiliki peluang dalam pertandingan tersebut, meski hasil akhir tetap imbang tanpa gol.

Dikutip dari Bleacher Report, hasil imbang itu membuat The Red Devils memperpanjang catatan tanpa kemenangan dalam sepuluh pertandingan di kompetisi resmi.

Terakhir kali David de Gea dan kawan-kawan meraih kemenangan di luar kandang saat mengalahkan Paris Saint-Germain  di Liga Champions

Setelah kemenangan dramatis di Paris, MU menelan enam kekalahan, dengan lima di antaranya secara beruntun, dan empat kali imbang.

Dengan tambahan satu poin dari Belanda, MU menempati peringkat kedua klasemen sementara Grup L di bawah Partizan. MU dan Partizan Belgrade sama-sama mengoleksi empat poin dari dua laga, tetapi klub asal Serbia itu unggul selisih gol.

Di musim ini MU tengah dalam masa inkonsisten. Dalam sepuluh pertandingan di semua ajang, MU hanya meraih empat  kemenangan, termasuk atas Rochdale, dan empat kali bermain imbang. Di Liga Inggris, MU menempati peringkat kesepuluh klasemen sementara

Manchester United juga mengalami start terburuk di kompetisi Liga Inggris di era Premier League

Terakhir mereka bermain imbang melawan Arsenal

Kini MU hanya mengoleksi satu kemenangan dari lima pertandingan terakhir di Liga Inggris. Satu-satunya kemenangan itu diraih saat menumbangkan Leicester City

Tambahan satu poin dari laga kandang tersebut (melawan Arsenal) membuat MU hanya mengumpulkan sembilan poin dari tujuh pertandingan di Liga Inggris musim ini.

Posisi tim asuhan Ole Gunnar Solskjaer itu di klasemen sementara musim ini pun makin melorot dengan turun ke posisi ke-10 dari posisi delapan di pekan sebelumnya.

MU berhak berada di posisi ke-10 karena unggul selisih gol dari Burnley setelah kedua tim sama-sama mengoleksi sembilan angka.

Dikutip dari FOX Sports Asia berdasarkan statistik Opta, torehan sembilan poin MU di musim ini menjadikan klub berjuluk Setan Merah itu melakoni start terburuk di Premier League.

Start buruk sebelumnya terjadi pada musim ini  menempatkan mereka di peringkat kesembilan.

Awal musim yang buruk  itu juga yang akhirnya membuat MU memecat Jose Mourinho di bulan Desember  sebelum digantikan Solskjaer.

Sementara itu, David Moyes yang menjadi manajer pertama MU setelah era Alex Ferguson memiliki nasib lebih baik dengan bertahan di Old Trafford sebelum dipecat.

Sementara itu, manajer Manchester United Ole Gunnar Solskjaer tak menampik sedang mencari penyerang baru setelah melepas Romelu Lukaku dan Alexis Sanchez.

Setelah tak lagi mengunakan jasa Lukaku dan Sanchez, lini depan MU saat ini bertumpu pada keberadaan pemain-pemain muda

Permasalahan muncul bagi MU dan Solskjaer ketika beberapa pemain, seperti Martial dan Rashford, mengalami cedera. Solskjaer pun kemudian mengandalkan Greenwood sebagai penyerang utama.

“Ketika kami melepas Alexis dan Romelu pergi, Anda tidak perlu menjadi ilmuwan roket untuk melihat kami butuh merekrut pemain depan. Kami melihat kreativitas dan gol,” ujar Solskjaer dikutip dari Dailymail.

“Tetapi tidak tepat untuk mendapat pemain yang Anda tidak yakin seratus persen karena ketika ada pemain baru datang, Anda butuh seseorang yang tepat yang bakal bertahan di sini dalam periode yang panjang,” tambahnya.

Solskjaer pun menjelaskan memang belum ada pemain yang benar-benar cocok dengan keinginannya kendati banyak striker-striker yang berada di pasaran. Pada bursa transfer awal musim lalu, MU mendatangkan Harry Maguire, Aaron Wan-Bissaka, dan Daniel James.

MU untuk sementara menempati peringkat kesebelas dengan delapan poin hasil dari dua kali menang, dua kali imbang, dan dua kali kalah. The Red Devils bakal menjalani laga penutup pada pekan ketujuh dengan menghadapi Arsenal di Stadion Old Trafford.

Untuk memperbaiki posisi di klasemen, Solskjaer menyadari MU membutuhkan gol. MU kini menjadi salah satu kesebelasan yang minim gol di Liga Inggris. Dari enam pertandingan, MU baru mencetak delapan gol.

Exit mobile version