Site icon nuga.co

Messi, “Anak Bumi” Dengan Prestasi “Langit”

Dibalut jas rancangan “armani”  warna dasar  hitam dengan bintik-bintik silver yang memantulkan kunang-kunang cahaya ketika diterpa sorot  lampu panggung, dan berkemeja sutera putih dengan dasi kupu-kupu warna senada, Lionel Messi, seperti di tulis Henry Winter, wartawan kawakan The Telegraph, nampak “bloon” di pentas Kongresshaus, Zurich, Swiss, tempat berlangsungnya penyerahan trofi Ballon d’Or, lambang supremasi pemain terbaik dunia.

Henry Winter bukan sembarang jurnalis. Ia tiap tahun disertakan dalam penilaian pemain terbaik dunia  mewakili komunitas wartawan karena “keahliannya” dalam menulis analisis, review dan perkembangan sepakbola moderen.
Senior Editor The Telegraph itu lebih memilih Cristiano Ronaldo  sebagai calon pemain terbaik FIFA Ballon d’Or  dari tiga nama yang diperkenankan untuk setiap peserta. “Saya lebih memilih eleganitas dari pada pesona dan sihir permainan. Saya memuja Messi, tapi saya seorang Inggris yang aristokrat. Saya sangat dekat dengan permainan Ronaldo, baik ketika ia di Old Traford maupun  saat di Barnebue ” tulis Winter di kolom khususnya yang menempatkan  bintang Barcelona dan “captain” tim  Argentina itu di urutan kedua  serta  Andres Iniesta di posisi ketiga.

Malam itu Winter, seperti biasanya,  hadir di Kongresshaus. Ia menatap panggung, menyalin semua detil profil  “akselerasi”  Messi, yang kemudian ia dekatkan  dengan “background”nya sebagai insani.

“Saya menelannya  secara fisik dan kejiwaannya malam itu. Saya masih melihat Messi seperti empat tahun lalu, tiga tahun lalu dua tahun lalu dan tahun lalu. Tak ada yang berubah. Tak  terbantahkan  ia seorang yang steril dari keangkuhan dan seorang yang memiliki bahasa ragawi yang jujur. Manusiawi amat.  Untuk itu, jangan musuhi kemanusiaannya,” tulis wartawan paling disegani dijagat penulisan sepakbola dunia tentang “seorang” Messi.

“Saya juga  tahu Messi akan menjadi pemuncak. Saya berkomunikasi dengan banyak pengamat, pelatih dan kapten tim nasional yang juga menjadi penilai  Ballon d’Or, dan mereka secara koor menyatakan  “hanya” Messi,” katanya usai keluar dari Kongresshaus, gedung opera yang dipilih FIFA sebagai ajang paling mendebarkan untuk mengumumkan nama pemain terbaik,  setelah selama berbulan-bulan dijalari debat, spekulasi, komentar nyeleneh dan penyepelean peran “calon” bintang serta membuat urutan nama-nama penerima trofi  dengan versi mereka sendiri.

“Malam ini akhir dari  semuanya,” ujar Winter menghindar rekan-rekan wartawannya yang menudingnya “ambivalen” dalam analisa yang memprovokasi FIFA untuk membuat jeda memilih Messi. Provokasi  di sebuah artikelnya di laman  web milik FIFA yang tajamnya bak sembilu itu.

Winter tak ingin berdebat dengan sikapnya itu. Ia boleh jadi  mendua. Tapi sebagai wartawan ia tak selamanya harus menghamburkan kejujuran secara ketengan ketengah komunitas suka atau tidak suka. “Hari ini kita sudah memilih Messi dan bukan Ronaldo,” katanya berlalu dengan sedikit geram.

Messi di Kongresshaus malam itu memang tidak seperti b iasanya. Jean’s dan oblong sederhana. Ia malam itu dibalut  kemewahan stelan “armani.”  Ia  terlihat kikuk dengan “kemewahan” panggung dan anteng dengan aplaus “baron-baron” sepakbola dunia yang saling berbeda penilaian. Ia, seperti biasanya, masih dengan gaya lapangan yang cuek. Ia lebih Messi, ketika kita menatap  rambutnya yang disisir menyamping dan sorot mata “bodoh”  masih jelalatan seperti di setiap pertandingan. Raut wajah tanpa pupur selebritas menenggelamkannya ketika foto bareng. Ia jauh dari “dandy” sebagaimana Ronaldo dan Ramos dua kampiun Los Blancos yang ganteng.  Ia juga tak merasa di”atas” Ronaldo yang malam itu lebih glamour dengan rambut “seleb” dan Iniesta yang  acuh.

“Itulah Messi yang tak ingin menyakiti siapa pun, di lapangan dan luar lapangan. Messi yang mengantongi angka mutlak, 41,60 suara dari 209 kapten tim nasional anggota FIFA serta  sejumlah media terpilih. Ronaldo sendiri yang dipromosikan dengan angkuh oleh pelatihnya Jose Mourinho sebagai yang tak kalah hebatnya di banding Messi hanya mendapat  23,68 persen.

Messi yang santun itu dan mendermakan sebagian penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin yang oleh banyak pengamat di tulis dengan huruf besar “pembunuh berhati lembut” di kenal sebagai penyeblos gawang lawan dengan lembut tanpa keangkuhan.

Messi yang mampu menjaga keseimbangan karena diberkahi gratifikasi dari ukuran  pahanya yang besar sehingga sulit dijatuhkan di setiap lapangan  pertandingan, dan di “luar” lapangan.” Untuk itu  “World Soccer,” majalah sepakbola  paling prestise terbitan Paris yang memulai tradisi  Ballon d’Or,  yang kemudiannya di adopsi untuk disatukan dengan gelar pemain terbaik  FIFA, dalam “special report”nya menuliskan di salah satu judulnya, dengan  mengulang judul yang sama di tahun lalu,”Tahun Depan Messi Lagi…..”

Messi, yang ditulis dengan apik oleh World Soccer dalam beberapa judul  telah melewati kehebatan Johan Cruijff sang mentor klub Barcelona,  Michel  Platini dan Marco van Basten yang masing-masing menggenggam tiga gelar.

Messi tidak hanya  sebuah keseimbangan di lapangan. Ia juga seimbang dalam kehidupan pribadi. Ketika libur  Natal dan Tahun Baru lalu para wartawan menguntit dan menawarkan spekulasi perjalanan mewah baginya,  ia menghapus semua daftar destinasi kelas dunia dalam tournya, seperti Bahama, St Tropez, Miami atau Medeteranian Sea dan memilih  pulang ke Rosario, Provinsi Santa Fe,   kota kecil di pinggiran River Plate, tempat ia menjalani masa kanak-kanak ketika masih bergabung dengan klub Newel’s Old  Boys, yang sangat menyenangkan  bersama istri, anak dan ibunya.

Di Rosario dia bertemu dengan sahabat dan pelatihnya ketika di Newel’s. Salah seorang sahabatnya itu, Coria kepada surat kabar Santa Fe, La Republica, mengatakan, “ia mencari saya sehari setelah tiba di Rosario. Ia membawa sebuah kotak  mengajak saya ke sebuah, yang kemudian saya tahu berisi sepatu dan kaus dengan nomor punggungnya di Barca.

Saya bersenang-senang dengannya di cafe tempat ayahnya dulu menandatangani persetujuan kepindahannya ke Barca  di selembar kertas tisu yang kemudian menyerahkannya kepada Carles Rexach, direktur olahraga Barcelona, yang ketika itu mengejarnya untuk disekolahkan di tim “kaki ayam.”  Ketika itu itu usianya 11 tahun dan River Plate  yang berminat kepadanya tak punya uang untuk membayar pengobatan kelainan pertumbuhan hormonnya sebesar 900 dolar sebulan.

“Saya tahu Messi tak akan pernah berubah walau pun karirnya , kini, sudah setinggi langit. Ia tetap Messi yang nakal dan usil. Messi yang tak pernah mementingkan dirinya sendiri. Catat itu,” kata Coria kepada Republica usai anak Rosario itu menerima Pemain Terbaik Dunia Keempat kalinya.

Pernyataan Coria ini senada dengan apa yang dikatakan Messi  kepada wartawan usai mendapatkan predikat pemain terbaik di muka bumi itu? “Saya tak peduli dengan sanjungan dan trofi yang sifatnya pribadi. Yang saya butuhkan adalah gelar untuk tim. Saya tidak tahu apakah tahun ini tahun terbaik saya. Nonsen dengan rekor pribadi,” katanya yang menjengkang pertanyaan wartawan tentang ambisinya.

Messi sejatinya memang membumikan diri anak “manusia.” Di Barcelona ia bisa saja nyolonong dengan baju dan celana “pancung” latihan membeli sesuatu di “super market” tanpa menyandang nama Messi. Ia bahkan, di hari Minggu, datang ke sebuah katedral  kecil di pinggir kota Barcelona dan membaur dengan pengunjung misa tanpa didahului oleh basa-basi.

“Ia memang sangat sedikit bicara. Ia tak ingin diistimewakan di kesempatan apa pun,” ujar Audelida, temannya ketika di sekolah dasar di Rosario. Sifat itu sampai sekarang tidak berubah. Dan ia memang anak bumi. []

 

Exit mobile version