Site icon nuga.co

Frank Lampard “Si Pembunuh” Gol Chelsea

Frank Lampard menjadi anak “durhaka” untuk Chelsea, setelah membunuh gol kemenangan “The Blues,” dalam laga yang sangat emosional di Etihad Stadium, Senin dinihari WIB, 22 September 2014, dan Manchester City membuktikan tekadnya untuk menahan laju kemenangan tim Jose Mourinho itu.

Yang jadi pembunuhnya justru Frank Lampard, legenda Chelsea yang menikung kembali ke Premier League lewat klausul peminjaman setengah musim dari New York Galaxy.

Tanpa gol Frank Lampard, Jose Mourinho mungkin akan bersorak mengejek Manuel Pellegrini si rambut kribo pirang dari Cile itu.Lampard tampil sebagai pemain pengganti, dan berhasil mencetak gol penyeimbang kedudukan.

Meskipun menjadi pahlawan penyelamat, tapi raut wajah Lampard usai mencetak gol justru muram. Dia tidak tega menghalangi langkah klub asal London tersebut mendulang poin maksimal.

“Ini sebuah hal yang sulit. Saya akan dibilang kurang profesional jika tak menjalankan tugas dari pelatih. Tapi di sisi lain saya sudah melewati tiga belas tahun bersama para pendukung Chelsea” kata Lampard.

Diakui Lampard, dia juga tak mengira akan bermain dan mencetak gol di pertandingan itu. Dia sampai kehilangan kata-kata untuk mengekspresikan perasaan.

“Saya kehilangan kata-kata. Saya tak menyangka bermain dan mencetak gol. Saya tak tahu apa yang diinginkan dari hari ini. Ini sangat sulit,” sambungnya dikutip Soccerway.

Sebelum gol “pembunuh” lampard, The Citizens berada dalam kondisi tertekan karena harus membalas gol Andre Schuerrle. Ditambah, Manchester City bermain dengan sepuluh pemain setelah Pablo Zabaleta diusir wasit pada pertengahan babak kedua.

Dari sebuah serangan yang terorganisasi baik, David Silva mengirimkan sebuah umpan ke kotak penalti Chelsea. Umpan tersebut tertuju kepada James Milner yang berlari dari sisi kiri.

Milner meninggalkan sifat keegoisannya yang sebenarnya bisa langsung menembak bola. Milner malah memberikan umpan ke depan mulut gawang Thibaut Courtois.

Umpan tersebut disambut sebuah tendangan Frank Lampard. Boom…gol pun tercipta. Bek John Terry sudah mati-matian menutup ruang tembak Lampard. Namun apa daya, bola tetap melaju mulus membobol gawang Chelsea.

Ya, Lampard mencetak gol. Bukan untuk Chelsea, namun untuk Manchester City. Tak ada perayaan dalam gol tersebut. Rekan-rekannya di City, menyambut gembira gol itu. Dengan dingin, Lampard menyodorkan tangannya untuk meminta tak ada selebrasi.

Setelah itu, Lampard langsung menjadi sosok sentral laga tersebut. Sorot kamera selalu tertuju kepada pemain berusia tiga puluh enamtahun itu seusai pertandingan.

Momen mengharukan pun terjadi. Pasca-memberikan salam kepada para pendukung City, Lampard mendatangi tribun tempat para pendukung Chelsea menonton. Lambaian tangan yang mungkin diikuti perasaan sedih ditebarkan Lampard kepada para pendukung Chelsea.

Para pendukung Chelsea menyambut hangat sapaan Lampard. Ada yang menangis, ada juga yang tersenyum. Tampaknya, tidak ada yang memikirkan kegagalan Chelsea mendulang poin penuh di sana. Para pendukung Chelsea terpaku kepada Lampard yang malam itu mengenakan seragam Manchester City.

Lantas, bagaimana reaksi Lampard?

“Ini benar-benar sulit. Aku tidak profesional jika bermain dan tidak melakukan pekerjaanku. Jadi, aku mencampurkannya. Aku jelas senang bermain dan mendapat hasil imbang. Aku seorang profesional dan tidak berharap main lalu mencetak gol. Aku terjebak di antara itu,” kata Lampard kepada BBC.

“Para pendukung Chelsea menyanyikan namaku. Ini hari yang mengharukan. Ini bukan apa yang aku harapkan untuk mengucapkan salam perpisahan kepada pendukung Chelsea. Aku bangun pagi ini dan tidak tahu apa yang aku inginkan hari ini. Aku merasa setengah bahagia,” ujar Lampard.

Lampard merupakan legenda hidup Chelsea yang masih berkiprah sebagai pemain. Membela Chelsea sejak 2001-2014, Cerita indah Lampard bersama Chelsea berakhir pada Juni 2014. Chelsea tidak memperpanjang kontrak Lampard.

“Itu adalah gol yang sulit bagi saya. Saya pernah punya 13 tahun yang menakjubkan bersama penggemar Chelsea, jadi perasaan saya campur aduk dengan gol tersebut. Saya tentu saja senang tim yang saya bela mendapatkan hasil imbang.”

“Saya kehilangan kata-kata, tidak menyangka bakal masuk ke lapangan dan mencetak gol seperti itu,” lanjutnya.

“Saya masuk ke lapangan dan penggemar Chelsea bernyanyi, dan itu emosional. Kemudian saya bermain untuk klub ini, yang juga telah menyambut saya dengan luar biasa. Jadi saya benar-benar terjebak di tengah-tengah,” paparnya.

Exit mobile version