Site icon nuga.co

City Melaju Ke “Road to Wembley” Setelah Singkirkan Chelsea

Wembley, Minggu malam WIB, mempertemukan dua klub elit Inggris, Manchester City  dan  Chelsea dalam laga semifinal perburuan Piala FA yang penuh intrik, provokasi serta protes, dan mengantarkan “The Citizien”  sebagai pemenang dengan skor 2-1 untuk menghadapi Reading di  final yang sangat mistis,  “Road to Wembley.”

Kemenangan City, klub tetangga satu kota Manchester United, penuh dengan hamburan pujian karena memainkan sepakbola menyerang serta melayani “pressure attacking” Chelsea lewat “Three Muskater”nya, Oscar Hazard dan Mata. “The Citizien” melawan dengan tak kalah “action over passing”nya lewat penempatan trio penyerangnya, Aguero, Carlos Tevez dan Shamir Nasri dalam “position diagonal”  dengan “swing” akselerasi yang membuat blok pertahanan Chelsea harus melakukan pelapisan  yang sangat sulitt.

Lihatlah aksi dari lahirnya gol pertama. Di mulai dari “solo run” Yaya Toure dari “second line”  City, untuk  memasuki garis tengah Chelsea yang dengan satu umpan sangat terukur diarahkan ke Milner yang dengan  sekali “one touching”  menggesernya ke Nasri untuk masuk ke kotak penlati dan menaklukkan kiper sekelas Petr Chech melalui “deal ball” yang indah.

Kedua tim yang bertanding di Wembley dengan satu gumam “ambiguitas” untuk meraih Piala FA, langsung memainkan sepakbola menyerang sejak menit awal. City yang memegang kendali melakukan pendekatan dengan “attractive football pressing” yang kental dengan uraian permainan antar  blok  yang dipolakan oleh Mancini lewat permainan 4-2-3-1. Sebuah polarisasi permainan berbasis 4-4-2 dengan mengadaptasi gaya Italiano setengah Latin yang menjaga keseimbangan antara menyerang dan bertahan yang rapat.

Mancini punya pemain untuk menerapkan sistem itu dalam laga Inggris yang sangat keras. Ia punya Kompany menjaga keseimbangan di belakang dan Yaya Toure di tengah yang memainkan peran “play maker” untuk menggerakkan Aguero, Nasri dan Tevez mendekati garis gawang Chelsea.

Dengan permainan yang sangat atraktif inilah Mancini ngotot untuk mengatakan, City sebagai yang paling berhak mempertahan Piala Premier League musim ini ketimbang tetangganya United. Bahkan, dengan gaya permainannya ini Mancini juga telah memaklumkan bahwa musim depan dia akan menghunus pedang untuk mengambil kembali trofi liga, tak peduli dengan kedatangan Jose Mourinho ke Chelsea.

Paling tidak, di semifinal Piala FA di Wembley, Minggu malam, ia sudah menghapus mimpi Chelsea untuk mempertahankan gelar dengan angka 1-2  dan akan datang ke  final  menantang Wigan Athletic.

Inilah jalannya pertandingan kedua tim sejak babak awal ketika City membuka peluang pada menit ke-9 lewat  Carlos Tevez  yang mendapatkan umpan manis dari Gareth Barry. Namun, upaya pemain asal Argentina itu masih bisa dihentikan Petr Cech.

Gol pembuka pertandingan baru tercipta pada menit ke-35. Dari sebuah serangan balik cepat, kerja sama Yaya Toure dan Carlos Tevez mampu diselesaikan dengan baik oleh Samir Nasri. Skor berubah 1-0 yang bertahan hingga jeda.

Tiga menit babak kedua berlangsung, City memperbesar keunggulan. Umpan silang Gareth Barry berhasil dimaksimalkan dengan baik oleh Sergio Aguero melalui sundulan.

Tertinggal dua gol, The Blues mencoba tampil lebih menyerang dengan memasukkan Fernando Torres menggantikan John Obi Mikel pada menit ke-65. Keputusan Rafael Benitez terbukti tepat. Chelsea akhirnya mampu memperkecil skor lewat Demba Ba. Umpan jauh David Luiz yang mengarah ke Ba di depan gawang Chelsea dimanfaatkan dengan baik. Dengan gerakan berputar, Ba melepaskan tendangan akrobatik yang tak mampu dihentikan Costel Pantilimon.

Usai pertandingan bek, sekaligus kapten City , Kompany mengatakan,  kemenangan di semifinal Piala FA itu membuat The Citizens berpotensi mengulang kesuksesan pada 2011. Kompany pun mengaku, fokus kubu Etihad kini telah sepenuhnya beralih ke partai puncak yang akan dihelat pada 11 Mei nanti.

“Kami tak pernah ragu dengan ambisi kami memenangi trofi. Pertandingan tadi penting, namun laga terpenting adalah final (Piala FA) melawan Wigan (Athletic). Itu yang kami tunggu-tunggu sekarang,” tandas Kompany.

“Sesuatu yang brilian dan jadi momen hebat lainnya bagi klub ini. Jika Anda melihat pertandingan tadi, harapan yang ada adalah menampilkan hal yang sama saat kami menghadapi Wigan di final,” tandas pria berpaspor Belgia tersebut.

Manajer Manchester City Roberto Mancini menjanjikan akan bermain lebih “fresh” lagi di final nanti. Ia juga mengungkapkan, kiper utamanya, Joe Hart, tak akan tampil dalam laga final Piala FA kontra Wigan.. Costel Pantilimon akan tetap menjaga mistar gawang The Citizens, seperti yang dilakukannya saat City menumpas Chelsea 2-1 di semifinal.

“Pantilimon bermain sebagaimana seharusnya, Costel bukan hanya bermain sangat bagus, tetapi karena ia memang kiper yang sangat baik. Itu yang saya harapkan,” tegas Mancini..

“Ia akan tetap pada posisinya, kami punya empat pekan untuk memikirkannya kembali, tetapi saya pikir ia akan bermain (di final). Ia bekerja sangat baik di belakang Joe Hart dan saya kira untuk Joe, hal itu sangat penting,” ulas manajer berpaspor Italia itu.

Pada tahun pertama di bawah arahan Mancini, City pernah menjuarai Piala FA 2011, setelah menggulingkan Stoke City di laga puncak. Trofi itu kembali jadi prioritas setelah peluang City mempertahankan Premier League musim ini nyaris musnah, menyusul selisih 15 angka dari sang pemuncak klasemen, Manchester United.

“Kami bisa saja kecewa dengan (performa kami) di Premier League, tetapi sebenarnya kami berkesempatan memenangi trofi itu kembali jika kami bekerja dengan baik saat musim panas lalu, namun ternyata tidak. Kami mungkin telah membuat beberapa kesalahan,” lanjut Mancio, sapaan Mancini.
 

 

 

Exit mobile version