Site icon nuga.co

Balotelli Pemain Bagus Tapi Tak Punya Otak

Balotelli pemain bagus tapi tak punya otak?

Ya. Itulah yang dikatakan bek Spartak Moskva asal Italia, Salvatore Bochetti.

Lontaran kalimat miring ini diungkapkan Bochetti sebagai penilaian atas penampilan panjang Balotelli yang pernah ia saksikan.

“Ia memang  pemain bagus yang tak punya otak,” tambah Bochetti.

Selama ini, Balotelli memang dikenal sebagai pemain kontroversial.

Hal itu tak terlepas dari tingkah lakunya yang kerap menjengkelkan orang-orang di sekitarnya.

Bochetti pun termasuk salah satu orang yang pernah menyaksikan langsung sikap negatif Balotelli.

Maklum, keduanya pernah sama-sama tergabung di tim nasional Italia U-21, dan AC Milan

Balotelli, kata Bochetti, pernah sampai melemparkan sepiring pasta ke wajah eks bek Juventus, Marco Motta, karena alasan sepele.

“Balotelli adalah pemain yang bagus. Namun, sulit rasanya untuk mencapai sesuatu ketikan Anda tak mempunyai otak,” ujar Bochetti seperti dilansir Football Italia, Kamis (22/9/2016).

“Pernah suatu ketika, Balotelli melemparkan sepiring pasta ke wajah Marco Motta. Masih ada banyak kasus serupa lainnya,” tutur Bochetti menjelaskan.

Saat masih berseragam Inter Milan, Balotelli sempat digadang-gadang sebagai calon pemain bintang.

Namun seiring berjalannya waktu, sinar Balotelli meredup karena perilaku negatifnya, baik di dalam maupun luar lapangan.

Setelah tergolong kurang berhasil di Manchester City, AC Milan, dan Liverpool, Balotelli kini mengadu nasibnya bersama Nice. Di klub terakhir, Balotelli mulai menunjukkan perkembangan.

Ia berhasil melesakkan masing-masing dwigol dari dua partai Ligue 1 musim ini. Dengan performanya itu, Balotelli pun sukses mengangkat Nice ke puncak klasemen sementara Ligue 1.

Balotelli kini bermain di Nice usai klub itu  merekrutnya dari Liverpool  dengan status bebas transfer

Namun begitumenurut pendapat bek Olympique Marseille, Rod Fanni, perekrutan itu i seperti permainan Russian roullete.

Dia menyebut kehadiran Balotelli bisa saja berdampak positif untuk Nice, tetapi juga tak menutup kemungkinan sebaliknya.

Penilaian Fanni tak terlepas dari sepak terjang Balotelli. Maklum, Balotelli yang dikenal punya bakat besar, dinilai kerap bermasalah dengan tingkah lakunya.

Untuk mendeskripsikannya, Fanni pun mengibaratkan sosok pemain 26 tahun itu seperti layaknya permainan Russian roullete.

Russian roullete adalah permainan maut menggunakan pistol jenis revolver yang muncul pada zaman dulu. Pistol tersebut berisi satu buah peluru atau lebih.

Kemudian, pistol ditodongkan ke arah sang pemain dan pelatuk pun ditarik. Hanya keberuntungan yang dapat menyelamatkan sang pemain dari kematian.

Kurang lebih seperti itulah penggambaran Fanni terkait kedatangan Balotelli di Nice.

“Balotelli seperti Russian roullete. Semuanya akan berjalan baik jika kepalanya ada di tempat yang tepat. Namun, segalanya bisa menjadi salah jika pikirannya ada di tempat lain,” ujar Fanni.

Karier Balotelli pada dua musim terakhir terbilang kurang memuaskan. Pada musim lalu, contohnya, Balotelli hanya sanggup menorehkan satu gol dari 20 penampilannya di Serie A bersama AC Milan.

Kini, bersama Nice, Balotelli ditengarai berupaya untuk memperbaiki kariernya. Ia pun berpeluang menorehkan debutnya dalam balutan seragam Nice pada laga kontra Marseille.

Sementara itu, agen dari Mario Balotelli, Mino Raiola, juga mengungkapkan bahwa kliennya masih berharap dipanggil tim nasional Italia.

Saat masih berkarier di Inter Milan, Balotelli diprediksi bakal menjadi salah satu pemain muda Italia yang menjanjikan. Ia dinilai mempunyai bakat besar.

Namun, prediksi itu belum terbukti. Nyatanya, karier pemain berusia dua puluh enam tahun itu tak berjalan mulus hingga akhirnya terdampar di klub Ligue 1, Nice.

Kendati begitu, Raiola memandang Nice sebagai klub yang pantas bagi kliennya. Raiola optimistis Balotelli dapat menemukan titik balik kariernya di Nice.

“Bergabung ke Nice adalah keputusan teknis. Kami punya alternatif di Inggris, Spanyol, Jerman, dan Italia. Namun, Balotelli merasa bahagia,” tutur Raiola kepada Premium Sport

“Balotelli fokus terhadap Nice, meskipun tim nasional Italia selalu ada di pikirannya. Di Nice, Balotelli mendapatkan kehangatan. Nice adalah lingkungan yang sempurna untuknya, dan merupakan proyek teknis ideal,” kata Raiola.

Balotelli terakhir kali memperkuat Italia pada ajang Piala Dunia dua tahun silam, tepatnya pada laga fase grup kontra Uruguay

Selepas itu, Balotelli tak pernah lagi berseragam, Azzurri lantaran kariernya dinilai gagal bersama Liverpool dan AC Milan.

Exit mobile version