Site icon nuga.co

Argentina Telah Kuasai Maracana

Stadion Maracana di Rio de Janeiro, Brasil, mulai tengah malam Sabtu, 12 Juli 2014, atau Minggu siang hari WIB, 13 Juli 2014, “dikuasai” fans “Tango” Argentina dengan slogan, “Kali ini Argentina Juara.”

Pendukung Argentina, yang tidak kebagian karcis, menurut laporan yang dikutip “nuga” dari kantorberita “reuter” sudah mengalah Jerman dengan berbagai atribut mereka.

Stadion dengan kapasitas delapan puluh ribu penonton itu, setelah di upgrade dari 120.000 penonton, seluuruh tiketnya telah terjual sehingga fans yang terus berdatangan dari Argentina terpaksa harus berada di taman-taman dan lapangan terbuka di luar “estadio.”

Bagi fansnya, Argentina memang belum lagi jadi juara di Piala Dunia 2014. Tapi kesuksesan tim Tango menjejak partai puncak ketika sang rival berat Brasil sudah tersisih membuat suporter Argentina untuk sementara amat bergembira-ria di Rio de Janeiro.

Piala Dunia 2014 sejatinya diharapkan Brasil bisa menjadi penawar kenangan pahit akan Maracanazo pada tahun 1950 silam–kali terakhir Brasil menghajat Piala Dunia. Saat itu tim Samba gagal jadi juara di negeri sendiri, kendatipun amatlah diunggulkan, akibat menelan kekalahan dari Uruguay.

Impian dan harapan tersebut sempat tampak amat dekat jadi kenyataan ketika tim besutan Luiz Felipe Scolari mampu melewati satu demi satu halangan untuk menembus babak empat besar. Namun, datanglah peristiwa pahit lain untuk tuan rumah.

Maka Maracana, kini, dikuasai Argentina untuk menyaksikan sejarah baru,keluar sebagai juara. “Suporter Argentina sudah “menguasai” Rio de Janeiro, kota yang pernah menjadi ibukota Brasil sampai, sekaligus kota tempat stadion Maracana berada.

Di sisi-sisi jalan Rio ada saja fans Argentina yang berseliweran dan bergerombol dengan senyum ceria, menyanyikan lagu mengenai “rivalitas” Maradona dengan Pele–yang bak jadi simbolisasi panasnya persaingan Argentina dengan Brasil, atau juga dengan bangganya membalut sekujur tubuh mereka dengan bendera Argentina.

Pemandangan ini khususnya terlihat di area Fan Fest FIFA di pantai Copacabana, menjelang laga Brasil lawan Belanda. Bagaimana reaksi fans Brasil? Ada yang mesem-mesem saja, ada juga yang balik melontarkan chant kendatipun tak sampai berujung pada hal-hal berbau fisik.

Kekalahan tim tuan rumah dari Oranje pada partai perebutan posisi ketiga di hari Sabtu juga niscaya membuat suporter Argentina kini kian gembira. Pendukung Brasil boleh jadi tetap tak bakal rela jika melihat Argentina berjaya, apalagi di Maracana yang merupakan salah satu simbol sepakbola negeri Samba.

Maka kendatipun partai puncak, Minggu sore waktu stempat merupakan finalnya Jerman dengan Argentina, sejatinya ada tiga negara yang terlibat.

Mata penduduk Brasil akan tertuju pula ke laga itu, bukan sebagai tuan rumah saja, melainkan juga berharap-harap cemas menunggu bagaimana akhir kisah dari sang rival beratnya. Sebaliknya, tentu saja ada pula kesempatan para suporter Argentina akan berpesta lebih lama di Rio.

Jerman difavoritkan menjadi juara karena menyingkirkan Brasil di semifinal dengan skor membonyokkan. Jika berhasil, maka Jerman akan menjadi negara Eropa pertama yang berhasil juara di tanah Amerika Latin.

Der Panzer datang ke final dengan kekuatan penuh. Hanya Shkodran Mustafi yang dipastikan absen karena mengalami cedera. Namun, Mustafi adalah pemain pelapis yang biasa mengisi tempat di bek sentral.

Lima serangan Jerman akan menjadi tumpuan untuk menggoreskan luka ke barisan pertahanan tim Tango. Kolaborasi Mesut Oezil, Thomas Mueller, Toni Kroos, dan Miroslav Klose terbukti ampuh membuat lini belakang lawan pontang-panting, seperti yang dialami Brasi.

Di kubu Argentina, Lionel Messi akan menjadi tumpuan untuk mengacak-acak pertahanan Jerman. Namun, Messi kemungkinan besar masih akan kehilangan rekan kompaknya di Piala Dunia ini, Angel di Maria. Di Maria belum bisa dipastikan turun gelanggang setelah mengalami cedera.

Barisan depan Argentina lain belum menunjukkan tanda-tanda tampil konsisten. Gonzalo Higuain baru mengemas satu gol sepanjang turnamen. Sementara Sergio Aguero, Ezequiel Lavezzi, dan Rodrigo Palacio tidak memperlihatkan performa menawan, seperti yang biasa mereka lakukan di klub masing-masing.

Mimpi buruk bisa mendatangi Argentina jika Jerman dalam kondisi puncak. Apalagi, Argentina punya pengalaman buruk selalu disingkirkan Jerman dalam dua perhelatan Piala Dunia terakhir. Jika tak hati-hati, Argentina bisa menelan “hat-trick” kekalahan di tangan Jerman di Piala Dunia, sekaligus mengubur mimpi mengangkat trofi Piala Dunia setelah 28 tahun.

Exit mobile version