close
Nuga Life

Lelaki Itu Lebih Emosional dari Wanita?

Tulisan terbaru dari laman “psych central,” hari ini, Selasa, 08 Aguatua,  bisa dikatakan amat menarik karena membantak stereotip gender  yang selama ini “menuduh” wanita biang yang menonjolkan emosinya

Prria lebih logis.

Namun begitu, menurut “psych central,” dari studi terbaru  biologi mengungkap sebaliknya.

Para ilmuwan menemukan bahwa pria memiliki bagian otak yang khusus merespon emosi lebih besar, sementara bagian yang terkait dengan pemikiran logis lebih kecil dibandingkan wanita.

Hal itu masuk akal jika kita mempertimbangkan energi yang dibutuhkan untuk berjaga-jaga melindungi diri.

Sejak dulu pria memang memiliki peran untuk berburu, berkompetisi dan mendominasi.

Kekuatan emosi mereka bisa menimbulkan ledakan marah, dan jika dilihat dari sudut pandang perburuan, sangat membantu untuk mengalahkan lawan.

Ada bagian khusus di otak yang disebut amygdala yang memproses emosi rasa takut, memicu amarah, dan mendorong kita untuk bertindak.

Bagian ini akan memberi peringatan jika ada bahaya dan mengaktifkan respon “melawan atau tinggalkan”.

Dalam dunia pria sebagai pemburu dan pengumpul, dibutuhkan bagian amygdala yang besar sehingga akan cepat merespon ketika ada bahaya.

Testosteron juga termasuk bagian dari sistem pertahanan ini.

Sebaliknya dengan wanita, walau mereka juga harus berkompetisi, terkadang untuk mendapat pasangan atau makanan, tujuan utama mereka adalah dukungan sosial, merawat anak, dan melindungi rumah.

Hormon wanita yang mendominasi adalah estrogen dan berdasarkan evolusi di bagian otaknya, hormon ini mendorong untuk selalu berada dalam kelompok agar aman.

Stres wanita akan berkurang dan lebih aman jika mereka terhubung dengan orang lain.

Perbedaan ini, digabungkan dengan fakta bahya wanita punya testosteron lebih sedikit dan didominasi estrogen, membuat wanita lebih mampu mencari solusi sebuah konflik.

Wanita cenderung akan mencari cara berkompromi dan memenuhi kebutuhan orang lain, bahkan jika mereka harus berkorban. Intinya wanita lebih suka situasi yang damai dalam kelompok.

Kadar testosteron yang lebih tinggi di otak pria memberi pengaruh berbeda, yakni menarik diri dari kumpulan dan lebih nyaman sendirian.

Itu sebabnya pria kurang tertarik terlibat obrolan dalam kelompok, kecuali untuk kompetisi atau menarik lawan jenis.

Hormon pria menyebabkan mereka untuk selalu mendominasi dan mengontrol agar mencapai rasa aman.

Pria juga lebih mudah merasa stres jika ada tantangan dalam hal kemerdekaan dan otoritasnya.

Dengan tingginya testosteron di otak mereka, mereka pun lebih gampang tersulut emosi dan mudah berkonflik.

Mereka tidak mencari hubungan sosial seperti halnya wanita.

Orang yang sering menghadapiemosional namun terlihat damai, mungkin saja karena ia memiliki kecerdasan emosional yang tinggi.

Pasalnya, kecerdasan inilah yang dibutuhkan bagi penduduk urban yang tingkat stresnya tinggi.

Tingkat penerimaan setiap orang terhadap stres berbeda-beda, ini sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosionalnya

Orang yang punya kecerdasan emosional cenderung akan lebih fleksibel dengan setiap kondisi yang dihadapinya.

Ada banyak komponen kecerdasan emosional, antara lain memahami emosi yang dialaminya dan mencari cara meluapkannya.

Mereka juga lebih mudah berempati pada orang lain. Jadi tidak terlalu perfeksionis. Orang yang perfeksionis itu tuntutan terhadap dirinya juga tinggi sehingga gampang stres.

Kecerdasan emosional bisa dilatih sejak kecil. Karena kecerdasan ini belum masuk dalam kurikulum sekolah, seharusnya orangtua mulai mengajarkannya pada anak-anak sedini mungkin.

Ajarkan dulu hal-hal sederhana seperti empati, jujur, mau berbagi, dan saling membantu

Sementara pada orang dewasa, dibutuhkan kemauan dan motivasi diri untuk berubah.

Mempelajari manajemen stres kepada psikolog juga membantu mengurangi stres jika efek stres dirasa sudah sangat mengganggu.