Sikap Kasar Mungkin Derita Gangguan Jiwa

Penulis: Darmansyah

Jumat, 31 Maret 2017 | 08:30 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman situs media terkenal di Inggris, “the independent,” hari ini, Jumat, 31 Maret,  menulis tentang kaitan mereka yang pemarah dengan “sakit” jiwa.

“Mulai dari kecemasan sampai depresi, masalah kesehatan mental sering dianggap sebagai penyakit yang “tidak tampak.”tulis “independent”

Penderita penyakit ini sering berjuang sendirian dalam sunyi di balik pintu yang tertutup.

Orang yang menderita gangguan jiwa menyadari bahwa kondisinya dapat memengaruhi orang-orang di sekitarnya.

Pada satu titik, gejala seperti pikiran yang terlalu sibuk, paranoid, dan kepercayaan diri yang jatuh, akan membuat seseorang berperilaku di luar karakternya.

Terkadang, mereka akan terlihat seperti orang yang sombong dan tidak tahu aturan.

Karena stigma yang melekat kuat pada gangguan jiwa, seseorang biasanya takut mengakui sikap kasar mereka itu karena penyakit yang dideritanya.

“Independent” menuliskan berbagai contoh kasus dari “penyakit” ini.

Sebut saja Sarah. Ia seorang pekerja di London. Ia sudah menderita depresi sejak anak-anak.

Aslinya memiliki pembawaan yang senang ngobrol, orang-orang di sekitarnya sering bingung dengan sikapnya saat depresinya muncul.

“Saat saya berasa di titik terendah, saya sulit melakukan kontak mata dan interaksi kecil lainnya. Saya takut orang lain akan menilai penampilan saya tidak pantas, jadi saya berusaha menjaga jarak, tidak berbicara dan kepala selalu tertunduk,” katanya.

Gejala depresi antara lain kehilangan minat melakukan rutinitas sehari-hari, merasa sedih mendalam, putus asa, tidak nafsu makan, sulit tidur, atau justru selalu mengantuk.

Lainnya Chloe.

Dia seorang ibu rumah tangga ini memiliki  kombinasi antara depresi, kecemasan, ADHD, dan dispraxia, yang membuatnya sulist berinteraksi.

“Saya bukan cuma menghindari kontak mata, tapi juga tak ingin bertemu orang. Saya merasa dengan tidak melihat atau terdengar, orang-orang tidak sadar saya ada. Tapi nyatanya tidak,” kata Chloe.

Ketakutannya berinteraksi dengan orang lain itu sering membawa masalah. Ia dianggap sombong, bahkan oleh keluarga kekasihnya.

Untuk mengatasinya, Chloe selalu berupaya mengingatkan dirinya ia ada dalam ruangan yang sama dengan orang lain dan tidak ada yang menganggapnya aneh.

Gangguan jiwa seringkali membuat penderitanya berada dalam kondisi perang terus menerus dengan dirinya sendiri.

“Ada kepribadian kita, tapi ada bagian dari kepribadian kita yang sakit dan terus mendikte apa yang harus kita lakukan,” kata Frankie yang menderita anoreksia.

Sebagian orang dengan gangguan jiwa itu berharap bisa terbuka pada orang lain mengapa sikapnya “tidak sopan”, tetapi tidak bisa.

Mereka takut terhadap stigma dan diskriminasi yang akan diterimanya.

Kasus-kasus gangguan jiwa seperti kecemasan, depresi, bahkan gangguan bipolar, sebenarnya bisa disembuhkan.

Namun, hanya sedikit pasien yang mendapat penanganan dan pengobatan yang tepat

Banyak orang mengaitkan perilaku kejahatan atau kekerasan dengan gangguan jiwa.

Tapi melalui studi tentang kejahatan yang dilakukan orang dengan gangguan mental, ternyata hanya tujuh koma lima persen yang langsung terkait dengan gejala sakit jiwa.

Para peneliti menganalisis kejahatan yang dilakukan tersangka, dengan tiga jenis penyakit jiwa berbeda.

Mereka menemukan, dari keseluruhan tersangka, tiga persennya terkait dengan depresi besar, empat persen terkait schizoprenia, dan 10% mengacu pada penyakit bipolar.

“Saat kami mendengar tentang kejahatan yang dilakukan penderita sakit jiwa, hal tersebut menjadi berita besar dan masyarakat selalu mengaitkan hal tersebut, berulang-ulang.” Ujar pimpinan penelitian, Jillian Peterson, PhD.

“Mayoritas orang yang menderita sakit jiwa tidak bersifat kasar, tidak kriminal, dan berbahaya.”

Penelitian ini dilakukan bersama mantan terdakwa dari pengadilan jiwa di Minneapolis. Studi ini, yang juga dipublikasikan dalam jurnal APA, Law and Human Behavior, merupakan penelitian yang pertama kali menganalisis hubungan antara kejahatan dengan penyakit jiwa.

Studi ini tidak menemukan pola yang menghubungkan perilaku kriminal, dengan gangguan jiwa.

Hanya dua pertiga dari tersangka yang melakukan kejahatan karena mengalami sakit jiwa, juga melakukan kejahatan dengan alasan yang berbeda, seperti kemiskinan dan pengangguran.

Peterson mempertanyakan, “apakah ada sekumpulan kecil orang dengan penyakit jiwa, melakukan kejahatan berulang-ulang, karena penyakitnya itu?”

Penelitian ini nantinya akan menjadi acuan untuk mengurangi residivis untuk para tersangka dengan penyakit kejiwaan.

Mereka akan diberi terapi kognitif, manajemen amarah, dan isu tingkah laku lainnya. Program ini sangat penting untuk mencegah para penderita setelah penahanan

Komentar