“Tipu Aceh” Dari Negeri Marjinal

Penulis: Darmansyah

Kamis, 5 September 2013 | 15:13 WIB

Dibaca: 0 kali

Semalaman, Rabu, 4 September 2013, tak ada dering nada panggil dan pesan pendek yang hinggap di “hand phone” kami. “Santos,” sang penjelajah yang sudah terbiasa “mem”basa”kan panggilan “ngon” atau “rakan” untuk kami, mengendap di Tapaktuan, etape kelima dari Jelajah Sepeda Kompas-PGN.

Kami, sepertinya, menunggu “godot” datangnya “senda” khas anak Bekasi itu lewat pesan pendeknya yang selama empat hari ini terus berkicau. Dan ketika nada dering itu datang menjelang siang, “Santos” mengabarkan kalau rombongannya sudah berada di tepian “Rantau Lembang,” 40 kilometer dari Tapaktuan, sebuah nama desa di Kluet Selatan, persisnya di ujung “jari kaki” Kawasan Leuser yang menjulur ke Samudera Hindia.

“Kami sudah di Lembang,”ngon,” ujarnya terbahak menyebut “Lembang.” Ia, semula ingin memanipulasi lokasi dengan menyebut “Lembang” dengan suara padat seolah-olah Lembang-nya Bandung Barat.

Saya membalas dengan ketawa cekikan, dan memetakan lokasinya berada di pinggir pantai, ada sungai kecil dan di depannya ada hutan lestari Kawasan Leuser. “Santos” tak berkutik dan meminjam “joke” sebuah kalimat pendek. “Tak mempan tipu Aceh kami rakan,” ujarnya di kegaduhan suara “hand phone”nya.

Ya, Santos sudah berada di sebuah desa bernama Lembang, persis seperti nama kota di Bandung Raya dan dibedakan oleh panoramanya yang ekstrim. Yang satu berbukit, sejuk dan “hinterland” pertanian dan peternakan, sedangkan yang Lembang tempat “Santos” istirahat bernuansa laut biru, pepohonan kelapa dan sungai kecil dengan hutan Bukit Barisan.

“Santos,” setelah kami berhaa… hhiii… mengakui, sengaja tak menelepon kami semalaman karena keasyikan dengan “indah”nya Taluak alias Tapaktuan. Semalaman ia menghapus jam istirahat dan mengitari kota kecil di “Aceh Kemelaratan” itu. “Saya ngopi dan mendengar kisah legenda dari seorang tukang ‘kaba’ bernama Daniel. Dia katakana kenal dengan ‘ngon.’ Pokoknya koncoan,” jelas “Santos.”

Saya mengiyakan. Dan Daniel adalah tukang “teluh” yang bisa menenung pendatang dengan kisah legenda perkelahian Tuan Tapa dan Naga. Ia juga bisa merangkai asal muasal Kota Naga untuk kemudian disalinnya ke Tapa’ Tuan hingga menguncinya dengan sebutan “Taluak” bagi anak negeri.

Tapaktuan memang pesona dan menyihir pendatang. Kota di ceruk bukit dengan tanah selebar tapak tangan itu berlekuk pantai. Sulit dicarikan tandingannya untuk sebuah kota di nusantara. Ia bisa dekat dengan alam Sabang atau Jayapura. Atau mirip kedua-duanya.

“Santos” sudah menikmati Kota Naga. Ia mengatakan tak akan melupakannya sepanjang hayat. “Saya banyak mengabil foto sebagai koleksi sejak tiba di sore harinya.”

Itulah sepenggal kisah “Santos” di Tapaktuan yang kemudian terdampar ke Lembang dalam “gowes” jelajah sepedanya sepanjang 155 kilometer dari tapaktuan-Subulussalam. Saya mengingat, etape itu sangat berat. Ada pendakian dan “rolling” begitu meninggalkan Bakongan.

Dan di wejangan singkat saya mengatakan kepada “Santos” bahwa dia telah melewati negeri “paling kaya” dengan tingkat kemiskinan paling tinggi. Ia telah melewati sebuah wilayah bernama “kluet.”

Wilayah itu memiliki bahasa tutur sendiri. Bahasa tuturnya dekat dengan konsonan Alas dan sulit dikatakan bagian dari Gayo. Kedekatan ini dimungkinkan karena “pucuk” sungai yang mengalir di “kluet” berasal dari Alas. Sama dengan konsonan tutur “Hulu Singkil.”

Kluet, yang kini terbelah menjadi enam kecamatan, yang dulunya hanya dua kecamatan, Kluet Utara dan Kluet Selatan, adalah pengasil nilam dan minyak atsiri terbaik di dunia. Harga nilam ini bisa menjadi megalomania keberuntungan di satu periode dan membuntungkan di periode yang lain.

Nilam “kluet” kini sudah mengerut. Seperti mengerutnya penyakit “daun” yang membangkrutkan kehidupan petaninya. Tak ada sisa kejayaan selain dari peta kemiskinan yang menyertainya negeri itu.

Kejayaan nilam “kluet” mencapai puncaknya di pertengahan tahun “enam puluhan” ketika harga satu kilonya bisa bisa tiga puluh gram emas. “Dan zaman itu tidak akan pernah terulang lagi.”

Kluet kini melata sebagai wilayah paling miskin dengan penduduk terpadat dan produksi pertanian terbaik. Wilayah ini yang menjadi penyangga pertanian dibelahan selatan Aceh menjadi marjinal oleh rendahnya mutu pendidikan dan tertutupnya akses perdagangan akibat terlalu lama di penjarakan oleh ketiadaan
infrastruktur jalan. Selama hampir empat puluh tahun kemerdekaan negeri ini kehidupannya nyaris terbelenggu oleh kemiskinan struktural.

Dan selama duapuluh terakhir ada akses jalan ke Medan. Dan masyarakatnya mengidentifikasi diri mereka sebagai anak kluet lewat keberangan, Dan ketika terjadi konflik Aceh sepuluh tahun lalu, anak-anak kluet di kawasan marjinal Manggamat menyatukan dirinya dengan GAM.

Mereka ramai-ramai menjadi bagian dari “aceh dalam” padahal secara akar kesejarahan mereka termasuk dalam peta “aceh luar.” Hingga kini pun eksistensi anak-anak ”kluet” masih berada di latar belakang panggung “aceh dalam.” Padahal dalam konflik yang lalu mereka terkenal sangat “heroik.”

Secara spesifikasi kewilyahan “kluet” sangat sulit diidentikkan dengan “aceh.” Mereka memakai baha tutur sendiri. Adat istiadat sendiri. Bahkan secara kehidupan mereka mengingatkan banyak orang pada kultur Alas atau Gayo sebagai petani tulen.

Kita tak usah larut dengan kondisi “Aceh Ketelatan” ini.

Kepada “Santos saya pesankan, seusai ia melewati Bakongan dan Seuelekat, ia akan kehilangan garis pantai. Perjalanan akan menuju “pedalaman.” Dulunya, pedalaman Singkil ini adalah penghasil kayu terbesar di Aceh. Di sana bergelimang dolar. Kini sisanya hanya hamparan tanah mengelupas yang di sepanjang mata memata memandang hanya dihiasi tanaman sawit.

Kawasan itu, mulau dari Krueng Luas, Gelombang hingga ke Subulussalam adalah hutan lestari yang sudah punah dimakan “sinshaw” atau gergaji baja. Tak ada yang tersisa dari hutan tegakan. “Semuanya sudah punah.”

Saya mengirim pesan kepada “Santos” sebelum berangkat dari Lembang, “Kabarkan kepada anak cucu kita di nusantara ini ‘rakan,” Anda telah melewati sebuah negeri yang kaya dan kini bergelimang duit otonomi khusus tapi tak pernah keluar dari belitan kemiskinan karena paceklik pemimpin pintar, jujur dan mumpuni.”

Komentar