close
Nugatama

Tahu Jumlah Situs Hoax di Negeri Ini?

Anda tahu berapa jumlah situs “hoax” di negeri ini.

“Delapan ratus ribu,” tulis data pemefrintah

Jumlah ini terindikasi sebagai penyebar berita palsu dan ujaran kebencian.

Angka tersebut merupakan data terbaru yang dimiliki

Sayangnya, data itu tidak dibarengi dengan jumlah pemilik akun di media sosial yang juga menyebarkan hoax.

“Situs itu hampir delapan ratus ribu ya, data terakhir tujuh ratus ribu,” ujar Menteri Rudiantara .

Menurut priai yang akrab disapa Chief RA ini, untuk melakukan monitoring ataupun penyaringan terhadap media sosial dan situs-situs tidak bisa menggunakan cara yang sama.

Penanganan dua medium tersebut, dijelaskannya, dipastikan berbeda satu sama lain.

Untuk situs, Rudiantara mengatakan pemerintah bisa langsung melakukan pemblokiran. Namun untuk media sosial, kerjasama dengan penyedia layanannya harus dilakukan terlebih dahulu.

Khusus ujaran kebencian yang tersebar di media sosial, tentu saja konten yang ada di dalamnya menjadi prioritas. Siapapun pihak yang menyebarkan itu lebih dulu maka dialah yang akan diincar paling awal.

“Kami melihat konten, siapapun pemiliknya jika kontennya bertentangan dengan regulasi ya selesai. Penegakan hukum itu urusan aparat,” kata dia.

Sementara cara untuk mencari pemilik akun media sosial yang mempublikasikan ujaran kebencian atau berita hoax bisa berdasarkan laporan warga ataupun pengawasan.

Jika ada akun media sosial yang tertangkap atau ketahuan menyebarkan berita hoax, maka bisa langsung mengambil tindakan tanpa harus ada pelaporan.

Dengan kata lain, situs yang berindikasi menyebarkan ujaran kebencian dan hoax akan diblokir, sedangkan pada medium media sosial akun-akun yang bertanggung jawab tersebut akan ditutup.

Lebih lanjut, jika ada akun media sosial yang sudah masuk ranah hukum maka urusannya akan dipegang langsung oleh penegak hukum terkait.

Kata-kata serta kalimat yang digunakan dalam media sosial pun beberapa ada yang kasar, provokatif, mengandung fitnah, dan tak jarang terdengar seperti ujaran kebencian yang sebenarnya bukan bagian dari kebudayaan Indonesia.

Ada dua penyebar berita hoax yang prestise.

Adapun kedua situs yang berhasil diidentifikasi  menikmati profit dari berita palsu berasal dari Sumatera dan dikelola oleh mahasiswa.

Meski sebelumnya kedua laman tersebut tak banyak dikenal, namun kemudian mampu menjaring trafik pengunjung yang lumayan besar.

Namanya Posmetro dan Nusanews.

Itu yang ngelola siapa?

Anak kuliah di Sumatera sana.

Tapi yang lain masih banyak sekali.

Dari keterangannya, jumlah profit yang ia sebut tadi baru berasal dari satu situs.

Sedangkan jumlah situs yang kerap menyebarkan informasi palsu menurutnya sangat banyak sehingga perputaran uang yang terjadi dari “bisnis” berita palsu cukup besar.

Untuk melawan penyebaran konten tersebut,  akan dicoba memutus sumber pendapatan situs berita bohong dengan menutup AdSense mereka.

Dengan cara itu, motif ekonomi yang melandasi tindakan mereka jadi hilang.

“Situs-situs itu sumber pendapatannya harus ditutup segera,” tambahnya.

Namun upaya pemberantasan berita palsu  masih penuh kendala. Selain soal literasi, pertumbuhan sumber-sumber penyebar kebohongan berlipat ganda lebih cepat ketimbang mereka yang berniat menghentikannya.