“Si Rubah” Yang Bikin Liga Primer Nanar

Penulis: Darmansyah

Selasa, 3 Mei 2016 | 10:05 WIB

Dibaca: 0 kali

Si “Rubah,” julukan untuk klub  Leicester City, yang keluar sebagai juara Liga Primer,  usai Tottenhamp Hotspur bermain imbang, dua gol berbanding dua, melawan Chelsea di Stamford Bridge, Senin malam WIB, 03 Mei 2016,  mengingatkan  banyak orang ketika  Blackburn Rovers membuat keajaiban serupa di dua puluh satu tahun silam.

Dan untuk dicatat keajaiban The Foxes nama tenar Leicester,  lebih hebat dibanding sukses Blackburn.

Leicester memastikan gelar Liga Primer Inggris setelah Tottenham Hotspur hanya mampu bermain imbang dua gol berbanding dua melawan Chelsea.

Hasil laga Chelsea versus Spur itu membuat Leicester unggu tujuh poin dan sudah tidak mungkin dikejar Tottenham dengan dua laga tersisa.

Leicester merupakan tim underdog pertama sejak Blackburn  yang mampu merebut gelar Liga Primer.

Namun, sukses Leicester kali ini terbilang lebih ajaib daripada Blackburn.

Hampir terdegradasi musim lalu, Leicester sukses mengalahkan klub-klub besar dan lebih kaya seperti Manchester United, Arsenal, Manchester City, dan Chelsea dalam perebutan gelar Liga Primer.

Sementara Blackburn berhasil menjadi runner-up Liga Primer, sebelum sukses mengalahkan Manchester United dalam perebutan gelar Liga Primer pada musim berikutnya.

Ketika itu Blackburn diperkuat sejumlah legenda sepak bola Inggris mulai dari Tim Flowers, Tim Sherwood, Graeme Le Saux, Chris Sutton, hingga Alan Shearer. Selain itu masih ada nama Colin Hendry dan Henning Berg.

Berbeda dengan Blackburn, Leicester justru dibangun bukan untuk menjadi juara Liga Primer Inggris. Manajer Claudio Ranieri hanya ditarget untuk bertahan di Liga Primer musim ini.

Skuat Leicester berisikan pemain-pemain buangan. Bahkan penyerang Jamie Vardy baru menjadi pemain profesional pada Agustus lima tahun lalu sebelum dibeli Leicester setahun kemudian

Leicester merupakan klub keenam berbeda yang sukses merebut gelar Liga Primer Inggris. Prestasi terbaik The Foxes sebelumnya adalah ketika menjadi runner-up Liga Inggris  di delapan puluh enam tahun lalu.

Kehebohan seputar gelar juara yang diperoleh Leicester itu wajar.

Alasannya tim tersebut sama sekali tak diunggulkan saat musim ini digelar, dan hampir degradasi pada musim sebelumnya.

Bursa taruhan pun menempatkan Leicester juara dengan peluang lima ribu berbanding satu pada awal musim ini.

Namun, skuat asuhan Claudio Ranieri itu membuat publik sepak bola dunia tercengang.

Leicester mengulang kejutan Nottingham Forest

Kala itu Forest yang diasuh Brian Clough membuat terkejut publik Inggris dengan mengangkat klub promosi menjadi juara liga kasta teratas.

Namun, bukan itu saja fakta mencengangkan dari gelar Liga Inggris yang berhasil diraih Leicester musim ini.

Selain yang pertama bagi Leicester, ternyata gelar liga itu pun menjadi yang pertama diraih Ranieri bersama sebuah klub.

Manajer asal Italia itu menjadi manajer ke delapan berbeda yang berhasil mengantar sebuah klub jadi juara Liga Primer era modern.

Dan, sebelum bersama Leicester, Ranieri ternyata identik pula dengan julukan Mr Runner up.

Hal itu terjadi karena selama ini Ranieri hanya mampu mengantar tim-tim yang diasuhnya menjadi runner-up Liga.

Adapun Leicester adalah tim kedua puluh empat yang berhasil memenangkan Liga Inggris atau tim kelima memenangkan kompetisi era modern di negara tersebut.

Adapun dua tim yang paling banyak memenangkan trofi ini adalah Manchester United  dan Liverpool).

Berbeda dengan Manchester City, Chelsea, Manchester United, ataupun Arsenal yang disokong modal besar, Leicester City memiliki suntikan modal yang kecil.

Suntikan modal kecil itu membuat Leicester menjadi skuat termurah keempat pada musim ini di Liga Inggris.

Berdasarkan statistik yang dirilis CIES Football Observatory pada awal tahun ini, Leicester merupakan tim dengan skuat termurah keempat musim ini.

Ranieri hanya memiliki skuat dengan harga senilai tujuh puluh dua juta euro.

Leicester hanya unggul dari Norwich City, Watford, dan Bournemouth.

Sementara itu tim termahal di Liga Inggris musim ini adalah Manchester City, Manchester United, Chelsea, Liverpool, dan Arsenal.

Pemain termahal Leicester musim ini adalah Shinji Okazaki yang dibeli dari Mainz 05 dengan harga sebelas juta euro.

Sementara pemain termahal ManCity adalah Kevin de Bruyne, yang diboyong dari VfL Wolfsburg dengan harga tujuh puluh tujuh juta euro.

Jadi harga seorang De Bruyne lebih mahal dari seluruh skuat Leicester saat ini

Dan, terakhir, Eden Hazard yang membuat Leicester menjadi juara Liga Inggris musim ini juga menjadi penentu titel juara bagi timnya, Chelsea pada musim lalu.

Tahun lalu, gol Hazard ke gawang Crystal Palace membuat Chelsea mengunci gelar juara Liga Inggris di kandang sendiri.

Uniknya, setelah gol ke gawang Palace itu, Hazard belum pernah lagi mencetak gol di Stamford Bridge selama kompetisi Liga Inggris.

Dan, akhirnya gol itu tercipta kembali setahun  kemudian saat Hazard membantu Leicester menjadi juara lewat satu gol di hadapan publik Chelsea.

Komentar