Sengkarut Sabang untuk Janji “Sail” Megah

Penulis: Darmansyah

Rabu, 19 Juli 2017 | 14:57 WIB

Dibaca: 4 kali

BULIR tempias di kaca jendela ruang tamu Sabang Hill, Kota Sabang, usai hujan pirang di ujung sore itu, tempat kami menginap, pertengahan Juli lalu, belum lagi tergelincir.

Dari teras hotel paling “mewah” itu, mosaik Teluk Sabang, dengan horison matahari magrib berkabut tipis, membentuk lengkungan pelangi dari uap air.

Sisa gerimis, di langit timurnya, yang bagaikan lukisan naturalis berlatar sunset di tabir awan.

Hamparan laut, di mulut teluk, beringsut, merambatkan riak gelombang kecil, ketika angin senja menampar permukaannya.

Angin senja yang berayun lirih itu menggelitik laut hingga kegelian dan membuat jingkrak  gelombang untuk melenggokkan alunnya yang bagaikan gemulainya tarian meuseukat.

Dari arah kota di bawah,  pantulan cahaya lampu mercuri yang berkolaborasi dengan hamparan kuningnya sinar  matahari di ufuk barat membuat “silheut” di rabun senja itu berpendar liar membuat kerlap-kerlip cahaya memanjang di laut teluk.

Dan di kesempatan lain cahaya berpender mengapung di langit teluk bak kunang-kunang terbang, dan kali lainnya membentuk garis cahaya memanjang seusai temaram menyapa dan menjadikan pantai Gapang, di kejauhan, tempat homestay berbanjar, bersalin warna menjadi kelabu untuk menandai malam telah  datang.

Pulau Rubiah, yang menyihir para dive dunia, dengan decak kaguman, karena keindahan coral tuf marina dari karang atol yang  membentuk taman lautnya, hingga tak tertandingi indahnya di muka bumi ini, berangsur redup dan mengendap menunggu pergantian waktu, di relung senja itu.

Sedangkan pulau Klah, gunung karang, di sisi lain dari Rubiah, bergegas memasuki masa metamorfosanya dalam gurat abu-abu.

Pulau di belangong teluk, yang menjulang bagaikan onggokan bebatuan itu, mulai  mengedap-ngedipkan suar dari tower di dinding batunya untuk memaklumatkan bahwa tugas jaga malamnya sebagai pemandu laut bagi kapal-kapal yang singgah telah tiba.

Sabang Hill, gunung kecil yang dicacah pinggangnya untuk tapak penginapan elite di tahun tujuh puluhan, oleh otoritas administrasi pelaksana pengusahaan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas Sabang atau pop dengan sebutan KP4BS, hingga kini, masih utuh sebagai “heritage” kejayaan “vrij haven” setengah hati

Sabang Hill, bangunan bergaya klasik, dan  menjadi frame untuk memotret panorama pulau di pucuk barat nusantara itu adalah saksi bisu dari ketidakseriusan pusat memberi ruang kepada Sabang untuk benar-benar menjadi kolen station guna mengganjal laju pertumbuhan ekonomi Tamasek, nama lain dari Singapura, yang seabad sebelumnya menyimpan dendam karena letak strategisnya kalah dibanding Weh.

Ketika Sabang sudah menjadi pelabuhan dagang, di abad kesembilan belas, Temasek, pulau yang dibeli Raffles, mantan Gubernur Jenderal Inggris di Batavia di abad itu, dari Raja Melayu Riau dengan pound emas, masih menjadi sarang penyamun.

Tamasek  masih tempat transit Cina miskin dengan kuncir menjuntai di belakangnya asal Kwangtung yang diimpor perkebunan Deli Maatschaappij, atau menjadi penarik rikshaw di Malaka hingga buruh rodi rekonstruksi Aceh pasca perang penaklukan.

Di ujung jari-jari kaki kiri hill, di sudut lainnya, masih tegak dermaga tua, sebagai bagian dari infrastruktur kejayaan bangunan hasil kerja Firma Delange milik Sabang Haven,yang ditahun 1895 ditetapkan sebagai pelabuhan bebas, dan di hari kami ziarah, hanya dilabuhi dua kapal perang jenis fregat dan landing milik angkatan laut.

Di beranda barat tubir dermaga ada jejeran gudang-gudang setengah gosong berwarna usang yang dimakan keropos dan selama puluhan tahun terakhir tak pernah lagi  disentuh komoditas ekspor maupun impor.

Gudang kusam yang semasa “free port” jilid dua dijadikan sebagai tempat transit sarung palekat, pecah belah dan rokok Dunhill merana menunggu hari akhir untuk digusur.

Gudang yang mengantarkan  kenangan kita  ke masa jayanya Sabang Maatchaappij, dengan buruh bongkar muat berseliweran dan suara menjerit lori yang berlarian ketika roda besinya bergesekan dengan rel baja menuju ujung dermaga.

Ketika melanjutkan takziah, menyusuri pinggir talud, untuk mencari sepenggal  news story, di ujung barat pelabuhan, pandangan kami menyergap barisan tukak tiang pancang berbesi ulir yang rencananya dijadikan sebagai dermaga baru, dan menjadi gembar-gembor cet langet pengelola pelabuhan sebagai bakal tempat penumpukan peti kemas hasil kesepakatan gosong dengan Dublin Port Authority.

Dan kini, dermaga itu ditelantarkan karena kekurangan duit akibat cicilan anggaran asal APBN tak kunjung lunas membiayai penyelesaiannya.

Cicilan anggaran, seperti diungkapkan seorang kawan yang pernah bekerja di badan perencanaan, hanya  janji basa basi tentang kemurahan hati Jakarta.

Janji dari mereka yang tahu persis bahwa free port dan free trade Sabang tidak pernah akan laku sebagai jualan untuk lokasi investasi walaupun sudah dijajakan lewat road show yang menghabiskan duit espeje ke seantero donya dengan meneken banyak memorandum of understanding bersama spekulan proposal berlabel internasional.

Untuk itulah, mungkin, Jakarta tak pernah mau melunasi janji utang cicilan anggarannya karena tahu kucuran dana APBN akan mubazir, dan membiarkan pemerintah lokal dan otoritas Sabang mengepit bundel rencana anggaran  sebagai pertanda masih adanya hari kerja yang disisakan oleh proyek Weh.

Seperti hiburan terakhir, ketika sebuah peraturan pemerintah yang membuat personil di otoritas Sabang bersorak dan pengamat lokal berebutan mengomentarinya di headline koran terbitan Banda Aceh, seolah-olah seluruh persoalan Sabang sudah selesai.

Padahal banyak orang yang tahu peraturan turunan undang-undang itu hanya mainan sekejap dari sengkarut banyaknya persoalan yang melilit  Sabang dan sengaja digantung untuk tidak akan pernah diselesaikan.

Ditumit hill lainnya, agak ke timur, terdapat pelataran memanjang dari tapak gunung kecil yang diratakan, dan penduduk Sabang menamakannya Pantai Kasih dengan taburan bangunan gedung setengah mubazir akibat terbengkalainya ambisi pemerintah kota untuk menjadikannya sebagai pusat arena promosi dagang.

Di senja itu, Pantai Kasih sedang bergegas menyiapkan diri sebagai pusat jajanan malam dengan raungan musik bersuara sember yang dimuntahkan  loudspeaker ukuran  besar yang  merobek gendang telinga.

Tukak Sabang tidak hanya kerangka besi ulir di dermaga dan bangunan mubazir di Pantai Kasih.

Tapi juga luka yang tak pernah sembuh dari pergesekan panjang di antara berbagai otoritas, siapa sebenarnya owner maupun user atas status Sabang sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas.

Pemilik dan pemakai yang tak pernah tuntas dilegitimasi oleh berbagai legislasi selama empat dasawarsa terakhir.

Padahal Weh memerlukan legitimasi  seperti vrij haven-nya Sabang Maatschaappij

Komentar