Rawa Tripa I
Jelaga Hitam Bau Apak

Penulis: Darmansyah

Kamis, 20 September 2012 | 08:55 WIB

Dibaca: 0 kali

(Dok. Rizki Affiat)

Rawa Tripa, hutan gambut yang dulunya eksotis, menunggu punah akibat pembukaan lahan perkebunan. Telah raib dengung uir-uir, hilang bersama siamang, gajah dan harimau. Jelaga hitam dan bau apak menyapa ketika kami menapaki areal di sudut Nagan Raya.

Darmansyah, penulis kami, mencoba membangkitkan kembali ingatan pada kisah rawa yang menjadi kebanggaan anak asoe lhok sepanjang aliran Krueng Tripa. Tulisan panjang ini dimuat dalam beberapa seri, berkisah tentang rawa dan anak negerinya.

***

Hamparan lahan gosong itu masih centang-prenang. Sisa pepohonan yang hangus, teronggok dan bersilangan baru saja dibasuh hujan malam menyisakan jelaga hitam berbau apak yang diterbangkan angin ke awan hingga mengusap kampung-kampung di sepanjang aliran Krueng Tripa sana. Di kejauhan kaki langit timur, masih tersisa banjar pohon tegakan meranggas, kerontang, dalam jumlah hitungan jari, menanti sakratul maut.

Hari kami datang, di ujung dhuha, akhir Mei 2012 lalu, tak ada lagi sisa hutan eksotis dengan pohon yang dahannya bersilangan dan merambatkan udara lembab hingga ke pemukiman penduduk. Dan, telah raib pula entah kemana rimba rotan yang dulunya menghiasi hutan Tripa. Rimba rotan yang memanjatkan akar berdurinya kepepohonan seumantok, menyembulkan pucuknya di ujung meuranti untuk menyapa langit. Hutan rotan yang selama ratusan tahun menghidupi anak-pinak turunan Tripa.

Juga telah lama raib dengung uir-uir yang lengkingannya mengiris gendang telinga, dan bersamaan dengan itu telah hengkang cericit belibis hutan yang menari dengan genit ketika mengepakkan sayapnya di celah teratai danau kecil yang airnya tak pernah kering sepanjang tahun.

Jangan pernah bertanya ke anak asoe lhok sepanjang aliran Krueng Tripa, sejak dari Gampong Lamie hingga ke Kuala Tripa, bagaimana musik berirama kletak-kletuk yang dikibaskan sayap bangau rawa berbulu putih mengiringi nyanyian riang balam hutan yang lamat-lamat bisa mendatangkan halusinasi. Bahkan tak pernah ada jawaban sepatah pun dari Si Karman, anak Rantau Kepala Gajah, tentang riwayat siamang, orangutan, uwak-uwak dan beruang madu berumah.

Lelaki berbadan tegap, berwajah lugu yang ketika hari kami melintas sedang berangkat kerja menenteng parang, hanya terpana, kelu serta menggeleng ketika disergap tanya ke mana rumah hutan yang telah menghancurkan masa depan hidupnya di tanah rawa itu. Karman hanya bisa berucap lirih, “suram. Semuanya telah musnah.”

Rumah hutannya telah gosong bersama kiamat land clearing. Api yang disulut dengan pemantik oleh bapak-bapak yang mengantongi lembaran kertas berstempel Hak Guna Usaha (HGU) itu telah membunuh tumpuan hidup Karman dan sahabat hutannya.

Karman sendiri kini terusir dari ladangnya di ujung kampung karena tanah warisan ayahnya itu tak memiliki sertifikat dan masuk dalam peta areal konversi pemegang HGU. Empat tahun terakhir ia harus beranjak meninggalkan sawah dan kebun sayurnya tanpa ganti rugi untuk memulai hidup baru, lebih ke barat menebas hutan kosong dan menanam dua hektar sawit, yang katanya, cukup untuk menopang makan sehari-hari.

Hari itu, telah menguap pula rezeki Sutarmin, anak turunan koeli kontrak di Kebun Seumayam, yang sejak mengakhiri pekerjaannya sebagai buruh tanam di PT Socfindo, Seumayam, bermukim di tanah lhok, di Desa Pulo Kruet. Kini tanah lhok itu sudah dipatok atas nama HGU Kalista Alam dan blang-nya digusur dan telah ditanami, sebagiannya anakan sawit. Rezeki Sutarmin sama dengan Karman, telah kandas. Dulunya dari membubu di sungai kecil di ujung kampung ia sudah bisa survive. Bubu yang setiap pagi menghasilkan limpahan lele rawa, ia tukarkan dengan rupiah di Ujong Fatihah untuk lauk kuliner eungkut paya. Kini Sutarmin terlunta-lunta.

Lain lagi dengan Bustamam anak asli negeri Pasie Keubeo Dom, yang dulunya bernama Kuala Bungkok. Ketika kami berpapasan dan bertanya dengan nyinyir tentang hutan rawa gambut yang hilang, bibirnya menggigil menceritakan kebuntuan jalan hidupnya setelah tak ada lagi pohon tempat lebah bersarang. Berpuluh tahun Bustamam menjalani ritual sebagai pengumpul madu dari dahan pohon tegakan Tripa. Sarang lebah yang mengalirkan madu, di suatu hari 18 tahun lalu, pernah diperebutkan lewat perkelahian dramatis dengan beruang yang nyaris membuatnya jadi almarhum

Dulunya, lelaki itu mengenang dengan isak kecil, ia tak pernah alpa menenteng jerigen plastik. Jerigen ukuran sepuluh liter yang mengantarkannya ke Meulaboh hingga ke Koetaradja menjajakan madu hutan gambut berwarna hitam kekuning-kuningan. Lelaki itu, tiba-tiba, dengan suara parau terpaksa menghentikan sejenak kisahnya, untuk menghirup lelehan air hidung dan menyeka derai air mata, untuk kemudian meminta maaf, “Saya terharu. Saya teringat bagaimana sumber rezeki itulah yang membiayai sekolah anak saya hingga ke Meulaboh dan membangun sebuah pondok sederhana.”

Semuanya, hari-hari sekarang, bagi Karman, Sutarmin dan Bustamam, sudah punah. Punah ketika “kiamat” api menghanguskan “rumah” rimba mereka sepanjang duapuluh tahun terakhir. Rumah rimba seluas 62.000 hektar bernama hutan rawa gambut, kini tinggal hikayat untuk diceritakan lewat oral di pelanta kedai kopi reot sepanjang perkampungan Krueng Tripa hingga terdengar ke Bina Graha, Jakarta sana.

Hutan rawa gambut, ketika kami berpapasan di hari takziah itu, yang sebagiannya telah bersalin rupa menjadi banjar memanjang pohon sawit dalam blok dan petak serta baris monoton. Membosankan.

Hutan sawit, yang seperti dituturkan Parno, tetua kampung Pulo Kruet, yang awalnya dijajakan bagaikan “angin surga” kesejahteraan. Angin sejahtera yang dalam hitungan tahun berbalik menyengsarakan mereka, usai rawa gambut yang dulunya diyakini oleh para ahli botani sebagai salah satu yang terbaik di dunia dan terluas hamparannya di Pulau Sumaterca, berkedalaman tiga hingga tujuh meter, telah musnah. Rawa gambut yang merupakan rumah bagi karbon penyumbang oksigen yang sulit ditemukan padanannya, yang menurut penelitian Paneco Foundation berpotensi mendinginkan bumi.

Kini, karbon di rumah Rawa Gambut Tripa sudah menguap sejak berlangsungnya tahun-tahun pemusnahan. Dekade panjang deforestasi lahan sejak pengalihan peruntukkannya, kini hanya tersisa 11.504 lagi dari luas awal 62.000 hektar. Sisa lahan gambut ini adalah angka paling mutakhir setelah update dari pemotretan citra satelit, 12 April 2012. Menurut sebuah survei independen, kalau tidak ada upaya yang sangat garang dalam satu dekade mendatang, Rawa Gambut Tripa akan musnah dan meninggalkan hikayat yang hanya bisa ditangisi.

Di hari kami datang, matahari menyengat ke ubun-ubun, dan hamparan hutan gambut seluas 1.200 hektar sedang menangisi petaka pembakaran, dari manusia tak bertanggungjawab atas kehancuran habitat yang ayah moyangnya tak punya saham di atas tanah asoe lhok itu. Entah dari kuasa mana ia peroleh, mengalihfungsikan peruntukan lahan atas nama investasi, mengubur sebuah peradaban yang ujung kebiadabannya itu pasti mendatangkan petaka kemanusiaan.

Tak percaya? Cobalah melintas dengan pesawat terbang di atas hamparan tanah gosong itu ketika cuaca cerah. Akan ada kepedihan menyayat ketika menyaksikan lahan hutan perawan yang porak poranda berwarna hitam. Kepedihan ketika kami datang melihat kedurhakaan manusia atas hancurnya kehidupan bumi.

Di hari terik awal kemarau itu, kami bergerak dari satu kampung ke kampung lain mencari tahu bagaimana kebiadaban telah menyengsarakan penduduk Tripa usai tanahnya dirampas. Menelusuri kampung-kampung indatu, mulai dari Desa Ujong, Desa Sukarame, Desa Sumber Bakti dan Desa Pulo Kruet di Tripa Makmur yang di hari-hari itu sudah ditinggalkan hiruk pikuk dan dengus “kuda beko” yang biasanya merangkak sepanjang rawa dan mengirimkan bunyi gemeretak belalai baja dan putaran roda besinya yang bersuara kraakkkhh… kruuukkhh…… menggali kanal berkilometer, hingga ke mulut kuala, nun di pinggir laut.

Bersama hilangnya gemeratak buldoser itu, raib pula iring-iringan panjang buruh bersepatu bot, bertopi helm dengan pikulan bibit sawit di pundaknya sepanjang pematang kanal. Buruh bergaji harian yang biasanya, terseok-seok menari di titian kayu setengah hangus mencari lubang galian untuk menugalkan anakan sawit. Lubang galian, yang hari itu hanya berisi air hujan, berjajar lurus, berpetak-petak, menurut blok dan dipisahkan oleh kanal-kanal memanjang.

Ketika kami keluar dari pintu Desa Pulo Kruet dan menyusuri jalan setapak menuju sebuah base camp tak berpenghuni, serombongan anak muda menghentikan langkah kami. Seorang diantaranya mengisyaratkan dengan menudingkan telunjuknya ke langit, pertanda untuk tidak melayani pertanyaan. Rombongan anak muda itu melengos ketika kami mulai menyapa dan membuka tanya usai melepaskan salam.

Mereka hanya bengong dan berpandangan sesamanya sembari mengeluarkan suara setengah medok dengan kata iki maupun kowe secara berbisik, tak jelas apa maksudnya. Gelagat anak muda itu seolah-olah memberitahu kepada kami bahwa mereka bukan anak-anak asoe lhok di negeri Tripa itu.

“Kami buruh harian di sini. Tapi, sejak sebulan lalu, sudah diberitahu mandor untuk istirahat. Pehaka. Ada campur tangan Jakarta,” bisik seorang anak muda bertampang sangat njawani.

Belakangan, kami tahu nama anak muda itu, Si Liek, setelah teman-temannya mendesak untuk tampil sebagai jurubicara. Jawaban Si Liek persis sama dengan penjelasan seorang pejabat Nagan yang kami temui di sebuah kedai kopi di Ujung Fatihah, kota kabupaten, beberapa jam sebelumnya. Pejabat itu berkata, seluruh kegiatan di lahan Kalista Alam dan Panen Subur yang dibakar itu di hentikan. “Ini perintah bupati. Tak ada tawar menawar,” katanya bersungut ketika kami minta penjelasan lebih detil.

Si Liek usai memberi jawaban ringkas, bersama “gang”-nya menuntun beberapa motor bebek tua tanpa plat nomor untuk menjauh, kemudian berlalu sembari meninggalkan sebuah senyum “misteri” ketika kami masih berusaha untuk bersinyinyir.

Di hari sunyi itu, usai mereka berlalu, kami masih terlunta-lunta di tumit hamparan lahan beribu hektar itu. Sisa tunggul pepohonan yang masih meninggalkan arang bekas perapian di pangkal pahanya. Kelupasan tanah yang melukai permukaan rawa gambut, bekas pijakan “kuda beko,” menyisakan kubangan dan membentuk danau kecil berisi air payau sepanjang pinggiran kanal pengeringan yang menyerupai sungai kecil.

Dari tumpukan kayu yang berhimpitan dengan sisa abu di ketiaknya menyembulkan pelepah kecil batang sawit yang baru dalam hitungan minggu dicocokkan. Berjajar, memanjang, dan membentuk garis simetris yang teratur dalam petak-petak dengan pancang papan kecil bertuliskan penomoran berhuruf merah. Kami tak pernah mafhum maksudnya, hingga ribuan meter. Yang kami mafhum, bentangan porak poranda bak suasana usai perang, mengenaskan.

Dari bentangan itu pula, perasaan miris menyelusup, merambat dan kemudian mengundang gumam kemarahan ketika pandangan, ke nun jauh di sana, di tepian kaki langit, tak ada lagi pohon tegakan yang utuh.

Lihatlah kanal-kanal memanjang berkilometer yang dikeruk untuk membuang air dari pilinan serabut gambut guna menyamankan pertumbuhan bayi kelapa sawit. Gambut berpilin akaran yang membentuk spons dan menghidupi berbagai jenis eungkot paya. Rawa yang melimpahkan rezeki bagi penduduk dan menyebarkan hawa sejuk ke rumah rangkang mereka bagaikan uap pendingin, kini lenyap…

Hari itu, kami baru saja bertandang ke Gampong Keubeu Dom, Kerbau Tidur, dan menulusuri ujung Desa Pulo Kruet di Kecamatan Tripa Makmur, Nagan Raya, untuk mencari jejak salah pejabat negeri ini yang telah menorehkan sebaris tandatangan guna mengubah peruntukan lahan rawa gambut Tripa.

Kami terpana menyaksikan sebuah siklus jahat berdurasi panjang, dengan setting yang subhanallah sadisnya di atas tanah kemakmuran. Setting penghancuran peradaban berusia ribuan tahun bernama keseimbangan lingkungan dengan investasi alam bernama rawa gambut, dan kelak, entah duapuluh lima tahun lagi, akan menenggelamkan seluruh isinya menjadi lautan air.

Ujung keserakahan ini, siapa pun bisa memprediksinya, kelak, akan melahirkan anak pinak benturan kepentingan atas nama konflik berkepanjangan yang semua kita tak pernah tahu bagaimana jalan akhir skenarionya. Yang pasti tidak ada pihak yang diuntungkan di sana.

Di Pulo Kruet, sebuah kampung udik, kami tak menemukan aroma kemakmuran walaupun di ujung perbatasan kampungnya sebuah perusahaan bernama PT Kalista Alam, yang tahun lalu, datang dengan pongah mengepit selembar perizinan untuk mengoyak hutan rawa gambut dan menggantikannya dengan baris memanjang pohon sawit. Hutan rawa gambut seluas 1.605 hektar itu yang kami tahu pasti bagian terbaru yang akan mendegradasikan lagi sepuluh desa di Kecamatan Tripa Makmur, pecahan dari Kecamatan Darul Makmur, ke lembah kesengsaraan hidup.

Hari kami datang kegaduhan pemberitaan penghancuran rawa gambut Tripa sedang marak mengisi lembaran koran dan laman berbagai website akibat perubahan peruntukannya. Kegaduhan setelah kezaliman berbau keserakahan mengangkangi regulasi moratorium untuk mendegradasikan luas rawa gambut Tripa hingga ke tingkat terendah 11 ribu hektar lagi. Dari luas awalnya 62.000 hektar.

Berita rawa gambut Tripa ini menjalar dari ujung Gampong Pulo Kruet, hingga Ke Jeuram, kota Kabupaten Nagan, singgah ke Koetradja dan jadi pemantik keberangan segelintir petinggi di Jakarta. Puluhan statements, yang tak selamanya akurat, datang dan pergi bersama retorika kepentingan. Mulai dari buruh tanam Si Liek, LSM seprestisius WALHI, perusahaan perkebunan, sampai ke camat, bupati, gubernur, menteri dan menjadi benderang setelah campur tangan bernada perintah pengusutan datang dari mulut Kuntoro Mangkusubroto, Kepala UKP4, yang juga menjadi penanggungjawan REDD+, sebagai pemangku kepentingan untuk keselamatan hutan alam dan hutan gambut sesuai dengan kesepakatan Kyoto, Bali, Kopenhagen, dan kini Rio de Janeiro. []

Komentar