Prihatin Melanda Korban Gempa

Penulis: Darmansyah

Kamis, 8 Desember 2016 | 09:13 WIB

Dibaca: 0 kali

Sehari setelah gempa “besar” melanda Pidie Jaya, plus kabupaten Pidie dan Bireuen,  hingga hari, Kamis pagi ini  WIB, 08 Desember 2016,  belum ada kepastian dari jumlah korban yang meninggal, luka-luka dan bangunan yang roboh serta hancur.

“Masih simpang siur dan membingungkan,” tulis sebuah media independen yang menginginkan akurasi dari dampak yang ditimbulkan gempa Rabu subuh WIB, 07 Desember 2016, kemarin.

Berita yang diumbar berbagai media, cetak, elektronik dan web, sepertinya jalan sendiri-sendiri dengan sumber yang terkadang sangat tidak layak.

Bahkan, di antara media ada yang “ngarang” untuk memberitakan gempa itu agar memberi kesan “bombastis.”

Tidak hanya itu, media prestise, seperti televisi nasional juga sempat membingungkan tentang rencana kedatangan Jokowi, sang presiden. Ada yang terang-terangan memberitakan Jokowi akan ke Aceh hari ini, Kamis.

Dan ada pula yang menyiarkan belum ada kepastian.

Semua pemberitaan itu sangat sulit untuk dikonfirmasi karena ketidakjelasan sumber.

Namun begitu, kondisi lapangan dari pertolongan dan penyalamatan korban terus berlangsung ditengah situasi aliran listrik yang padam pada Rabu malam hingga Kamis dinihari WIB.

Di tengah upaya ini penyelamatan korban ini,  Rabu malam itu pula terjadi gempa susulan dengan guncanagan lima skala richter.

Gempa  susulan itu, tepatnya terjadi Rabu  malam pukul 23.05 WIB

Menurut informasi,  pusat gempa terjadi  di arah Timur Laut Kabupaten Aceh Besar.

BMKG menyatakan, gempa bumi di Aceh Besar tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Hingga saat ini belum diketahui dampak dari gempa tersebut.

Upaya penyelamatan, di sebagaian besar lokasi terus berlangsung dalam suasana gelap gulita akibat  terputusnya aliran listrik pasca-gempa

Banyak tiang yang tumbang dan kondisi ini membuat suplai arus listrik terganggu di kabupaten itu.

“Dari pagi hingga sore, kami berhasil mengatasi ini di Pidie dan Bireuen,” kata Bob Sahril petinggi PLN Aceh yang terus berada di lapangan

“ Di dua kabupaten itu, listrik normal. Malam ini, kami berusaha dan bekerja keras untuk menghidupkan minimal ibu kota Kabupaten Pidie Jaya di Meureudu,” kata Bob.

Dia menyebutkan, tim PLN dari Lhokseumawe dan Banda Aceh telah didatangkan ke Pidie Jaya untuk membantu perbaiki tiang yang tumbang.

“Kami perkirakan malam ini, paling telat subuh nanti sudah hidup di Meureudu. Selebihnya kita upayakan terus. Kondisi medan membuat kami susah, hujan deras dan angin kencang,” ujar Bob.

Walau pun dalam situasi sulit, pencarian korban yang tertimpa reruntuhan di Ulee Glee, Kecamatan Banda Dua, Kabupaten Pidie Jaya, terus dilakukan oleh tim Brimob Lhokseumawe, dibantu TNI dan masyarakat.

Mereka menggunakan senter dan mobil penerangan milik Brimob.

Kondisi para pengungsi juga tak kalah menyedihkan

Ratusan di antara mereka terlihat mengungsi ke Masjid Al Munawarah, Desa Bie, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya.

Mereka berasal dari Desa Lueng Rimba, Jurong, Buayan, Beuringen, dan Desa Pante Beree, Kemukiman Kuta Simpang, Kecamatan Meurah Dua.

Satu-satu mereka berlarian ke dalam masjid saat hujan mulai turun. Sebagian duduk melamun di teras masjid dan tiga ruang kelas Taman Pengajian Al Quran  di kompleks masjid tersebut.

Dua tenda berukuran sedang di depan masjid. kaum ibu dan anak-anak berteduh di bawah  hujan mengguyur deras dan membuat mereka sulit berteduh.

Koordinator pengungsian di lokasi itu, Ramli M Nafi, menyebutkan, saat gempa terjadi, mereka berlarian ke luar rumah. Sebagian rumah mengalami rusak berat dan rusak ringan. Tidak ada korban jiwa. Mereka memilih mengungsi karena khawatir peristiwa tsunami tahun 2004 lalu kembali terjadi.

“Kami bertahan di sini karena lokasi desa juga parah. Air keluar dari tanah yang terbelah,” katanya.

Bantuan bahan makanan di lokasi itu sangat minim.

Terlihat hanya sepuluh karung beras dan lima kardus mi instan.

“Itu bantuan dari Kapolsek Meurah Dua. Ada juga bantuan pengusaha dan anggota DPRK Pidie yang datang kemari,” ujarnya.

Saat ini, mereka kekurangan tikar dan bahan makanan. “Apalagi obat-obatan belum ada sama sekali. Mungkin tim kesehatan juga sedang bekerja ekstra untuk warga yang meninggal dunia dan masih tertimbun,” katanya.

Kondisi di pengungsian itu memprihatinkan. Sebagian besar pengungsi adalah bayi yang harus diayun. Sesekali tangis mereka pecah dan orangtuanya sibuk berusaha mendiamkan jabang bayi itu.

“Kami berharap jika memungkinkan diberikan tambahan beras, ikan kalau ada, ikan asin pun bisa,” kata pria paruh baya itu.

Dia membawa istri dan semua anaknya mengungsi.

“Kalau ada air keluar dari tanah yang retak itu sangat mengkhawatirkan kami. Ingat tsunami, lebih baik waspada dan bertahan di sini dibanding bertahan di desa,” ucapnya.

Perlahan, hujan semakin deras.

Matahari tenggelam tak terlihat lagi, berganti malam nan pekat.

Malam itu mereka dibekap hujan dan dingin angin yang menerabas ke lokasi pengungsian.

Komentar