PKA dan Matinya Sebuah Gagasan Besar

Penulis: Darmansyah

Jumat, 20 September 2013 | 15:29 WIB

Dibaca: 11 kali

Aceh tidak mampu lagi mengusung gagasan besar untuk membangkit keagungan budayanya sebagai bagian dari cita-cita untuk menduniakan jati dirinya sebagai “bangsa” mulia ditengah-tengah proses akulturasi dan penetrasi cultural yang datang membantai “keasrian”nya.

Aceh juga sedang menghadapi problem pengikisian kesejatiannya sebagai “bangsa” berbudaya bersamaan dengan mengedepannya :”hedonisme” perilaku yang menghalalkan kekerasan sebagai jawaban kebutuhan kehebatannya sebagai orang yang tak ingin dikalahkan.

Aceh mengalami pasang surut kebudayaannya lewat miskinnya gagasan terhadap pengembangan “cultural” santu, menghargai orang lain, dan berperilaku merendah serta terdegradasinya pendidikan sebagai puncak dari perpecahan akibat pengotak-kotakan geografis dan demografis yang menakutkan.

Aceh, paling tidak, hanya menunggu terbelah dengan munculnya egoisme daerah, egoisme kepejuangan mau pun egoisme kesukuan yang meremukkan seluruh tonggak “makmue beusare” dalam kehidupan riel.

Itulah rangkuman pendapat yang bisa dituliskan bersamaan dengan dibukanya Pekan Kebudayaan ke- Enam oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Jumat pagi di Taman Sri Ratu Safiatuddin, Banda Aceh.

Pekan Kebudayaan yang sering disebut dengan PKA, dulunya, lima puluh lima tahun lalu, atau tepatnya 12 Agustus 1958 digagas dengan menancapkan harapan besar menaiknya harakat Aceh ke pusaran nasional dan internasional ditengah pergolakan berdaran pembrontakan DI-TII.

Gagasan besar itu tidak lagi menjadi tema di Sri Ratu Safiatuddin. PKA, kini, hanyalah simbolis dari seremonial empat tahunan, sejak PKA-Ke-5, 2009, dan sepi dari kehendak untuk mengangkat seni dan budaya Aceh secara menyeluruh.

PKA, seperti yang dibuka oleh SBY, hanya “peh tambo” untuk keramaian tanpa diikuti dengan upaya mencari jati diri Aceh dalam berkesenian dan berkebudayaan. Seremoni ini hanya menampilkan sisi fisik dari tarian, ada penganten atau kesenian lainnya yang tidak mencakup bagaimana “manusia” Aceh menempatkan diri dalam kesejatian pergaulan atau bertatakrama secara insane yang “Islami.”

Makna dari budaya telah disampirkan dengan kehura-huraan. Sebuah sikap yang tidak dimiliki ketika gagasan ini muncul, dimana saman, seudati, kasab, bou, kekarah sampai sie reboh menyatu dengan rapai pasee menjadi symbol kehidupan dengan keramahan penduduknya yang luar biasa.

Tak ada yang harus disalahkan selain semua kita, ketika SBY datang ke Taman Sri Ratu Safiatuddin dan mengucapkan lafadh “Bismillahirrahmanirrahim,” sebagai pra kata resminya acara cultural itu.

PKA yang menurut rencana akan berlangsung hingga 29 September itu ditandai dengan pemukulan tambo oleh SBY dan Ani Yudhoyono, tampak bersahaja mengenakan pakaian adat Aceh. Keduanya disambut dengan tarian selamat datang.

SBY di dampingi sejumlah menteri kabinetnya, di antaranya Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh, Menteri PAN Azwar Abubakar, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, Kapolri Jenderal Timor Pradopo, Panglima TNI Jenderal Moeldoko, dan Gubernur Aceh Zaini Abdullah.

“Atas nama pemerintah, negara, dan pribadi, saya mengucapkan terima kasih atas diselenggarakan perhelatan budaya yang megah ini,” kata SBY dalam sambutannya.

Menurutnya, PKA harus menjadi ajang untuk menampilkan dan melestarikan khasanah budaya dan adat Aceh. Pasalnya, provinsi ini dinilai memiliki banyak peninggalan sejarah dan peristiwa tsunami yang bisa ‘dijual’ untuk menarik wisatawan.

SBY mengatakan bahwa Aceh sejak abad ke-16 dikenal sebagai pusat pemikiran dan peradaban. Banyak karya besar monumental lahir dari Serambi Mekkah, salah satunya Tari Saman yang sudah diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia Tak Benda. Dia berharap karya-karya besar terus lahir dari Aceh. Presiden mengajak semua pihak terus membangun Aceh dilandasi kultur dan nilai-nilai Islam.

Usai membuka PKA, SBY dan para rombongan disuguhkan tarian massal Aceh “Satu Bersama” yang merupakan kolaborasi beberapa tarian dari Aceh. Tarian ini menceritakan keberagaman, kreativitas, dan kekayaan tradisi budaya Aceh.

Seakan tak mau melewatkan begitu saja, Ani Yudhoyono terlihat asyik mengabadikan para penari dengan kameranya. Sebelum meninggalkan arena PKA, SBY besama Ani Yudhoyono menyempatkan diri berkunjung ke anjungan Kabupaten Aceh Selatan. Usai melihat-lihat benda-benda yang dipamerkan di dalam, SBY mengaku takjub dengan peninggalan sejarah itu.

“Luar biasa peninggalan sejarah dan peninggalan budayanya. Saya minta untuk terus dirawat dan dijaga,” ujarnya.

Komentar