Lempanglah Jalanmu Kini, Ali

Penulis: Darmansyah

Senin, 6 Juni 2016 | 10:11 WIB

Dibaca: 0 kali

*Tulisan ini kami kutip dari CNN Indonesia

 

Kalaulah ada satu pertarungan dari Muhammad Ali yang bisa dijadikan miniatur kisah hidupnya, maka pertarungan melawan George Foreman di Kinshasa, Zaire tahun 1974 layak nominasi. Sebuah uji kekuatan fisik, nyali, keyakinan, dan kecerdasan mengurai situasi.

Anda tahu, tinju bagi Ali bukan sekadar persoalan adu kekuatan fisik. Bukan berarti Ali lemah sebagai petinju.

Di masa puncaknya Ali memiliki segalanya. Kelincahan tanpa tanding. Jab setajam sembilu. Kombinasi pukulan beruntun bak mitraliur. Koordinasi mata, tangan, dan kaki layaknya pebalet. Bakat tinju berlebih.

Tinju bagi Ali adalah juga persoalan adu keyakinan. Bahkan ketika sekian macam bukti berkata sebaliknya.

Foreman yang kala itu baru berusia dua puluh lima tahun sedang di puncak kekuatannya.

Tinggi besar dengan pukulan yang mengerikan.

Dari empat puluh lawan yang dihadapi, tiga puluh tujuh ambruk KO. Sang juara dunia. Sementara Ali sudah berusia tiga puluh dua tahun. Dianggap, dan memang demikian kenyataannya, telah lewat masa puncaknya.

Hampir tidak ada di kalangan dunia tinju menjagokan Ali. Bahkan timnya sendiri diam-diam khawatir. Sedemikian tidak seimbangnya di atas kertas, beberapa kalangan malah mengkhawatirkan pertarungan akan berujung pada kematian.

Bertanding melawan Foreman, Ali harus menciptakan dialog dengan dirinya sendiri, ‘membohongi’ dirinya sendiri, membangun narasi bahwa ia superior. Ali harus melakukan itu semua agar bisa tiba di satu titik ketika ia teryakinkan ‘kebohongannya’ sendiri.

Ketika dalam sebuah latihan Foreman dengan kekuatan pukulannya membuat sandbag melesak kedalam, pukulan yang sama yang membuat Joe Frazier –yang di pertarungan sebelumnya mengalahkan Ali– secara brutal ambruk berulang-ulang dan mabuk pukulan, Ali hanya menertawakan.

“Anda tidak bisa memukul apa yang tidak anda lihat,” kata Ali sambil menari di ring latihan dan memamerkan Ali’s shuffle yang terkenal itu.

Satu dua bulan latihan menjelang pertandingan, Ali mengajak bicara siapa saja yang mau mendengarkan akan apa saja yang akan ia lakukan di atas ring untuk mengatasi Foreman.

Kalau ia mendengar Foreman menunjukkan bukti kehebatan di tempat latihan, setiap kali pula Ali mementahkanya. Meski hanya dalam kata-kata dan di benaknya sendiri. Lebih dari sekadar mencoba meyakinkan publik, ia sebenarnya sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Bukan hanya sampai di situ. Di dalam ring Ali juga harus membohongi lawan, meyakinkan lawan bahwa yang dihadapi lebih superior.

Adalah bohong kalau hujan pukulan dari Foreman di sekujur tubuhnya di tengah malam di Zaire itu tidak membuatnya sakit dan ingin berhenti.

“Rasa sakit dari pukulannya ke kepala terasa hingga ke ujung jempolku,’’ kata Ali beberapa tahun kemudian.

Di malam itu, Ali memang malah menyediakan diri untuk menjadi sandbag, berlawanan dengan ucapannya sebelum pertarungan bahwa ia akan menari, hilang dari pandangan, dan menghujani Foreman dengan jab yang menyengat.

“Kamu memukul seperti perempuan George,’’ bisik Ali berulang-ulang di telinga Foreman sambil sekali kayuh menciptakan taktik yang belakangan disebut rope-a-dope . Sebuah taktik penuh kebohongan yang sangat berisiko.

’’Hanya begitu saja pukulanmu George,’’ kembali Ali mengejek menanam keraguan. Foreman menggeram.

“Aku memukul dengan seluruh kekuatan yang ada padaku. Paling keras. Tetapi ia masih mengejekku,’’ kata Foreman di kemudian hari mengenang pertarungan itu.

Segala macam model pukulan dilepas oleh Foreman. “Pukul lebih keras George,” kata Ali dari balik kepalan sarung tinju yang melindungi muka dan kepalanya. Ali merunduk, mengayun ke kiri dan ke kanan. Membuat pukulan Foreman menerpa angin.

Saat pukulan Foreman tak lagi bisa dihindari, Ali seperti berubah menjadi ahli fisika yang mengerti hukum pembagian energi. Ia mengayun –berayun-ayun– ke belakang menjadi satu dengan tali ring tinju.

Seperti kokoh pohon yang berayun-ayun diterpa badai. Beban pukulan yang mendarat ke sekujur tubuhnya ia tanggung bersama ring tinju tempat ia bersandar.

Akhirnya Foreman benar ragu dengan kekuatan pukulannya, teryakinkan dengan superioritas lawan, lemas kehabisan tenaga, dan lama kelamaan sarung tinjunya seperti bertemu dengan awan.

Kalaupun Ali ragu akan bisa mengatasi lawan, ia selalu bisa menyerap energi dari sekitar untuk membubungkan keyakinannya.

Setelah ronde pertama, setelah merasakan betapa kerasnya pukulan Foreman, sebelum ronde kedua dimulai, Ali berdiri, matanya memandang jauh seperti merenung, mulutnya komat-kamit layaknya berdoa. Ia seperti mencari jalan keluar dari situasi yang rumit.

Tiba-tiba ia berbalik dan bak konduktor okestra tangannya bergerak memimpin penonton untuk beteriak bersama-sama “Ali bomaye, Ali bomaye atau Ali bunuh dia.

Ia menjadi teguh,’’ kata novelis, wartawan, dan penggemar tinju Norman Mailer yang kemudian menuangkan pengalamannya meliput pertarungan itu dalam novel tinju legendaris The Fight.

Melawan sesuatu yang lebih superior, lebih besar, lebih kuat adalah perjalanan hidup khas Ali. Baik itu yang bersifat personal maupun sistemik.

Ia menyikapinya sama dengan ketika bertinju: bukan persoalan fisik semata –apa yang terlihat dengan kasat mata—tetapi juga persoalan keteguhan keyakinan.

Tekanan para politisi, penguasa dunia tinju, dan juga masyarakat umum Amerika agar ia tak bergabung dengan organisasi segregasionis kulit hitam kontroversial Nation of Islam ia lawan.

Tak peduli kalau itu mengancam impiannya untuk menjadi petinju profesional. Begitupun ketika ia kemudian memeluk agama Islam dan harus meninggalkan Nation of Islam.

Serupa terjadi ketika ia menolak wajib militer untuk pergi berperang ke Vietnam. Ia harus berhadapan dengan negara dengan segala kekuasaan dan pengaruhnya.

Ancaman penjara, pengasingan sosial, dan pencabutan ijin bertinju yang membuatnya kehilangan pemasukan dengan tegar ia lawan.

Dunia tinju kehilangan Ali di masa puncak kekuatan fisiknya, tetapi dunia mendapatkan seorang Ali yang menyuarakan soal kemanusian dan hak asasi.

Ia aktif berceramah dari satu universitas ke universitas lain, dari satu komunitas ke komunitas lain.

Dari awal karier, Ali memang bukan hanya persoalan tinju. Ia mampu mentransendesikan tinju ke kehidupan yang lebih luas.

Tinju hanyalah kendaraan. Bahkan setelah karier tinjunya selesai, suaranya malah lebih berpengaruh lagi.

Kisah ia membebaskan lima belas warga Amerika yang disandera Irak menjelang Perang Teluk di tahun  seribu sembilan ratus sembilan puluh menjadi legenda.

Ia menjalin persahabatan dengan para pemimpin dunia yang dianggap musuh dan tidak bisa ditembus pemimpin Amerika untuk mengupayakan perdamaian.

Ia bersahabat dengan siapa saja. Ia dermawan. Ia menghadirkan kegembiraan kemana pun ia pergi.

Kata orang, Muhammad Ali tidak pernah memilih tinju tetapi tinjulah yang memilih Muhammad Ali. Tanpa tinju Ali akan bisa menjadi apa saja yang diinginkan dan menjadi hebat, tetapi tanpa Ali tinju tidak akan pernah menjadi olahraga sebesar yang dikenal dunia sekarang.

Bukan berarti Ali manusia tanpa cacat.

Egois, penuh kontradiksi, playboy –termasuk meninggalkan keluarga untuk perempuan lain–, adalah beberapa hal yang sering disebut orang.

Ucapan-ucapan, terutama saat masih aktif bertinju, merendahkan dan menghina meninggalkan luka yang sulit disembuhkan.

Salah satunya, yang paling terdokumentasi karena mereka bertarung tiga kali, adalah kepada Joe Frazier yang disebutnya tolol, gorilla, dan menjadi anjing buduk orang kulit putih.

Padahal Frazier adalah salah satu petinju yang paling gigih membela Ali agar pencabutan ijin tinjunya dibatalkan dan memberi bantuan finansial.

Namun simak pula ucapan George Foreman ketika Ali berulang tahun yang ke tujuh puluh empat tahun silam: “Lupakanlah gelar petinju paling hebat. Kalau untuk yang satu itu berikanlah kepada Joe Louis atau yang lain. Ali lebih dari sekadar itu. Ia adalah salah satu manusia terhebat yang pernah saya temui. Aku mencintainya.”

Ketika Anda menjadi bagian dari sebuah kisah hidup yang telah menjadi semacam cerita rakyat seperti Zaire  bagi pecinta tinju, dan Anda menjadi kecundang dalam cerita itu, masih juga Anda memuji orang yang mengecundangi anda, itu adalah penghormatan puncak.

Hidup memang penuh kontradiksi. Susah untuk selalu lempang. Selamat jalan Muhammad Ali. Lempanglah jalanmu kini.

Komentar