Ketika “Hoax,” Kini, Jadi Musuh Bersama

Penulis: Darmansyah

Jumat, 30 Desember 2016 | 14:55 WIB

Dibaca: 1 kali

Hoax?

Ya berita palsu.

Kini “hoax” menjadi trending topic dan menjadi musuh bersama karena “kebohongannya” sudah liar dan tidak terkendali.

Contohnya, hari ini, Jumat, 30 Desember 2016, “hoax” mencapai puncaknya dengan mengabarkan kematian Ratu Inggris, Elizabeth II.

Dan itu “bohong.”

Mmemang, di internet terdapat banyak situs hoax atau scam yang berniat menipu pengguna internet.

Tujuan pembuatnya macam-macam, mulai dari mencuri uang seperti situs bank palsu, mencuri informasi pribadi, hingga mempengaruhi pandangan politik seperti yang dilakukan situs berita hoax.

Peredaran situs web hoax dan scam marak karena tools untuk membuat situs web semacam itu tersedia lengkap dan mudah untuk digunakan.

Dia mencontohkan sebuah layanan yang bisa menjiplak tampilan sebuah website, hanya dengan memasukkan nama domain website yang ingin ditiru.

Untuk itu langkah pertama yang paling mudah adalah dengan melihat nama domain situs yang bersangkutan.

Situs resmi pasti menggunakan domain sesuai nama perusahaan atau jasa.

Apabila menggunakan domain umum seperti Blogspot, maka kesahihannya diragukan.

Banyak orang yang tidak paham bahwa Blogspot itu domain blog, bukan situs resmi.

Siapa pun bisa buat. Kalau bank misalnya, pasti pakai nama bank untuk website, tidak mungkin buat website lain seperti di Blogspot untuk membuat promosi.

Domain .id yang dikelola Pandit relatif lebih aman karena pemiliknya harus mendaftarkan diri dengan memakai kartu identitas dan alamat asli.

Meski demikian, tidak menutup kemungkinan ada juga situs palsu yang memanfaatkannya, mengingat Blogspot pun kini telah menggunakan domain .co.id.

Website resmi biasanya selalu mencantumkan informasi kontak pengelola situs yang bersangkutan.

Website tanpa kontak bisa dianggap tidak dapat dipercaya, apa pun isinya.

Contoh  situs berita hoax Pos-Metro.com yang baru-baru ini diblokir. Situs itu tidak mencantumkan informasi kontak ataupun alamat redaksi sehingga tak dapat dihubungi.

Kalaupun dicantumkan, masih ada kemungkinan pengelolanya memberikan nomor, e-mail, atau alamat palsu.

Cara paling ribet, ya coba saya telepon, apakah benar dia pemilik. Jika mengaku resmi (padahal bukan), biasanya kita pancing-pancing sedikit bisa terbongkar kedoknya.

Di internet ada berbagai tool “Whois” yang bisa digunakan untuk memperoleh informasi mengenai pengelola di balik sebuah domain website,

Dari sini bisa diketahui apakah sebuah website memang dijalankan oleh pemilik resminya atau tidak.

Apabila sebuah situs tidak menampilkan identitas lengkap pengelola, maka website tersebut bisa dibilang meragukan.

Buat apa disembunyikan kalau tidak ada tujuan tertentu yang jahat.

Untuk situs yang mengharuskan pengguna memasukkan data username dan password, semisal e-commerce, disarankan untuk memeriksa apakah website menggunakan enkripsi SSL untuk melindungi trafik data.

Hal ini bisa dilihat dari prefix “HTTPS” yang menandakan bahwa enkripsi aktif. Apabila tidak ada, maka data yang di-input tidak aman.

Ada registrasi untuk para Penyelenggara Sistem Elektronik, termasuk website, di Indonesia yang bisa dikunjungi.

Di dalamnya terdapat daftar situs-situs resmi di Indonesia yang teregistrasi dan terverifikasi identitas pemiliknya.

Namun, jumlahnya masih relatif terbatas di kisaran ratusan situs.

Khusus untuk kategori toko online, sebagai alternatif referensi pengguna internet bisa mengunjungi PolisiOnline.com.

Di sini bisa ditemukan daftar situs resmi yang sudah teruji kesahihannya lewat sejumlah langkah verifikasi. Ada juga daftar situs-situs yang terindikasi melakukan penipuan.

Komentar