“Kecap” Nuga

Penulis: Redaksi

Kamis, 20 September 2012 | 05:30 WIB

Dibaca: 13 kali

Nuga? Ya, Nuga. Sebuah kata usang yang kami pilih dengan sengaja untuk penamaan portal berita. Kata yang tidak memiliki bunyi maupun greget di perbendaharaan bahasa lokal atau Bahasa Estonia sekali pun di kawasan Baltik, Eropa Utara sana, dimana kata yang sama kami temui. Kata yang mungkin juga punya arti atau pun tidak punya makna sama sekali.Tapi itulah pilihan final kami untuk mengakikahkan situs berita online terbaru di pasar portal yang gaduh ini.

Pilihan kata ini untuk sebuah nama produk atau logo, tak biasanya dalam keramaian ketika banyak teman memilih kata “Aceh” dalam setiap kelahiran portal sebagai kata pertanda prestise. Kami menyadari kasus ini menyimpang dari pakem. Dan kami juga sadar ketika kata “Aceh” ternyata tak disisakan oleh para pendatang terdahulu. Untuk itulah kami memutuskan untuk memilih kata lokal yang tidak terpakai. Dan “Nuga”-lah pilihannya.

Kami sadar, untuk menalarkan kata itu di mindset pembaca tentu tidak mudah. Butuh waktu. Kami tidak tahu berapa lama ia akan menancap dan tinggal dalam ingatan pembaca. Entahlah. Dan yang kami sadari pula, sejak awal, Nuga ingin kami jadikan alternatif portal berita di tengah majemuknya keinginan pembaca. Untuk itulah ia kami “kecapkan” dalam pengantar versi beta ini. Tentu dengan nada rendah tanpa mengabaikan bahwa inilah “kecap” nomor 1. Memangnya ada “kecap” nomor 2?

Nuga yang secara harfiah, dalam bahasa Aceh, berarti tongkat pemukul. Tentu sulit untuk dijelaskan secara gamblang apa kepentingan nama itu kalau dikaitkan dengan portal berita yang sedang kami bangun ini. Tapi ia sudah jadi sebuah nama. Dan bagi seorang Shakespeare, seorang sastrawan Inggris, nama juga tak punya arti. Apalah arti sebuah nama. Kami juga menyadari, apalah arti sebuah nama.

Sebuah kata, bagi kita bisa tidak memiliki kepentingan. Tapi jangan lupa ia bisa juga punya harga selangit seperti Yahoo, Google, Facebook, Macintosh, atau Microsoft. Siapa yang pernah mengenal nama-nama itu sebelumnya. Mereka, kini, dengan mudah hinggap di otak kecil kita. Apakah Nuga seperti itu? Kami tidak berharap, karena tahu batas kemampuan kami.

Selain tak punya bunyi yang spesifik, kata itu, Nuga, bukan pula sebuah kata yang mengapung di sebuah panggilan say hello. Ia sudah lama tenggelam dalam lalu lintas percakapan sehari-hari Ia bukan seperti kata-kata: peu haba, pajan troeh, ataupun, ka bereh, yang menjadi idiom dalam tabik sapa. Juga, kata Nuga, sepertinya sudah melewati masa pakai, kadaluarsa. Biarlah.

Untuk itu, ketika kami membuka literatur, seperti buku pelajaran Bahasa Aceh karangan Razali Cut Lani, yang menjadi standar kebahasaan lokal, kami tak menemukan kata itu. Padahal, buku karangan Razali itu sangat populer untuk mengeja kata-kata Aceh dan banyak dipakai sebagai rujukan.

Entahlah, ketika kami secara tak sengaja menyebutya di sebuah senja pada diskusi kecil, yang tak punya tema dan makna di sebuah kafe, kawasan Jalan Panglima Nyak Makam, Banda Aceh. Tak ada pretensi apa pun ketika Nuga menjadi pembicaraan selingan. Buktinya, usai pertemuan kami tak menyimpannya di masing-masing memori. Ia datang dan kemudian menguap entah ke awan mana tanpa meninggalkan jejak karena ia tak penting.

Di kesempatan lain, ketika kami duduk lagi dan entah kenapa masuk ke wilayah jurnalistik dan kemudian muncul gugatan untuk menghadirkan alternative news dengan membangun portal berita, kata nuga itu disodorkan mengisi daftar untuk nama portal oleh seorang kawan. Tak ada yang antusias, awalnya, dengan nama itu. Bahkan nama itu, kami anggap sepele karena tersedia banyak kata yang lebih lugas dan berada di keramaian percakapan.

Kata Nuga baru menguat sebagai pilihan setelah kami merampungkan pembicaraan untuk menghadirkan sebuah portal berita yang berbau Aceh dengan esensi jurnalisme yang mengedepankan informasi berkualitas dan pengabdian yang tuntas kepada publik.

Gombal! Ya, kami mengakui gombal untuk bisa bunyi di tengah dengung jargon independensi kehidupan pers yang sedang menghadapi wabah pengaruh kekuasaan, baik politik maupun ekonomi. Wabah ketika pemberitaan bisa diuangkan dengan melacurkan sajiannya dalam bentuk tricky. Sajian yang secara formasi dan kasatmata memenuhi persyaratan jurnalistik tapi tujuan akhir kepentingannya adalah bias karena ditukangi oleh kekuasaan.

Nuga yang kami sepakati dengan keraguan, juga dibayangi perasaan bias. Bias ketika nama itu muncul dalam dialek Estonia dan menjadi “blog” yang tidak populer. Syukur kami bisa sepakat setelah listing nama yang lebih pop dari kata-kata lokal sudah habis dikunyah menjadi nama portal atau blog oleh entitas dengan keragaman kepentingan.

Sejak awal, ketika kami “membual” untuk membuat portal berita, memang ada yang terganjal dalam benak kami tentang bagaimana menghadirkan jurnalisme yang sehat di negeri ini. Jurnalisme yang menempatkan integritas dengan kepala tegak dan berjalan di atas kebutuhan kepentingan publik tanpa harus menelikung pada isu-isu populer berisi jargon atas nama populis tapi pragmatis.

Apakah bisa? Mungkin, secara retorik. Tapi tidak mudah untuk sebuah konsistensi. Kami sadar, betapa banyaknya godaan yang beriringan bersama idealisme, independensi, integritas dan menenggelamkan banyak orang akan jebakan pragmatisme. Kami tidak tahu apakah juga akan tenggelam dalam iringan itu. Kami hanya ingin mencoba.

Nuga yang kami presentasikan di “kecap” ini hanya ingin memilih segmentasi yang biasa tapi tidak biasa dipilih para pendahulu portal berita di Aceh. Pilihan untuk bisa tampil dendi dengan mengadopsi portal-portal mapan. Tampilan yang pasti akan dituduh berbuat plagiat atau pun setengah plagiat oleh para pengeritik.

Untuk itu kami siap kok! Siap untuk dikatakan apapun. Kesiapan yang datang dari kesadaran bahwa tidak ada portal yang tidak menjiplak, atau bahasa kerennya mengadopsi portal lainnya. Dan kami tidak ingin berpolemik. Klik saja kalau mau membuktikannya.

Beruntunglah kami, hari ini, karena datang di ujung iringan migrasi itu sehingga kami bisa belajar sembari menertawakan diri sendiri. Seperti Aaron Sorkin menertawakan dirinya dalam serial terbarunya, Newsroom. Sebuah serial yang ditayangkan oleh jaringan televisi HBO tentang karakter jurnalis yang angkuh berebut populer dan menempatkan rating sebagai Tuhan-nya.

Sorkin, midas dalam serial televisi, telah menghebohkan jagat kewartawanan lewat The West Wing selama tujuh tahun (1999-2006) bisa dengan enteng menguliti isi pemberitaan yang berbau anyir hingga menyanjung kerja investigasi melelahkan, putus asa, pertengkaran tentang kebenaran juga semangat independensi.

Jurnalistik memang sebuah kerja dan karya yang sering disanjung dan diumpat. Tidak hanya oleh Sorkin. Tapi juga, bagaimana Bill Kovach dan Tom Rosenthiel membimbing kita lewat buku wajib The Elements of Journalism.

Jurnalisme jangan pula diartikan sebagai makian, pelampiasan dendam, pemujaan bahkan pertaruhan tentang siapa yang paling jujur. Jangan. Jurnalisme hendaknya menjadi adagium untuk mengatakan yang benar itu benar dan salah itu salah tanpa diselingi sikap permusuhan. Ia milik publik dan dikembalikan kepada publik. Dan ia bukan milik kita.

Jurnalistik juga bukan entitas yang harus ditinggalkan atau dilupakan ketika media content dipenuhi informasi gelap, gosip atau berita bohong maupun menyesatkan. Bahkan berita dangkal yang tak punya background dan tak mampu menjelaskan secara utuh setiap peristiwa. Jurnalistik harus menjadi loko ketika akal sehat satu persatu mati. Akal sehat ketika orang berebut yang bukan haknya, berebut ketika kemanusiaan dihardikkan atas nama pembenaran dirinya, berebut ketika cerita bohong menjadi kebenaran dan saat itulah kemajemukan terkubur.

Di tengah tantangan inilah kami hadir dengan jargon “Kecap No. 1” sebagai media yang memilih penyajian berita analisis komprehensif. Pilihan penulisan berita yang kami sepakati untuk mengisi content product di portal online kami, Nuga. Portal media seperti yang kami ikrarkan akan berjalan dengan semangat dasar membela kepentingan publik dengan mengemban legitimasi untuk melakukan tindakan yang tidak bisa dilakukan warga masyarakat biasa.

Pilihan media online yang kami sepakati tidak hanya didasari oleh pertimbangan murah meriah, ataupun trendi, tapi juga rasional. Rasional, kala terjadinya migrasi cetak ke web, baik portal berita maupun media sosial lainnya. Rasional juga dengan pertimbangan bahwa Aceh memiliki jumlah pengguna internet yang tergolong lumayan.

Maka, kami hadir dalam portal dengan sebuah kata usang, Nuga. Selamat membaca. []

Komentar