“Kami Kabarkan Negeri Eksotik Ini ke Dunia”

Penulis: Darmansyah

Rabu, 4 September 2013 | 16:04 WIB

Dibaca: 1 kali

Seolah ingin meneguhkan permintaan penghuni negeri di belahan Barat-Selatan Aceh, menjelang sore, Rabu, 4 September 2013, “Santos” kembali mengontak kami dengan pernyataan,”Kalau begini kekayaannya kenapa negeri ini harus melata dengan kemelaratan. Saya tidak sudi melihat jelaga kemiskinan berkelindan di sini.”

“Santos,” yang nama aslinya kami lumuri dengan panggilan popularnya, yang berasal dari Bekasi, dan salah seorang pengayuh gowes di Jelajah Sepeda Kompas-PGN, Sabang-Padang sepanjang 1.539 kilometer, pantas sentimentil.

“Saya menyaksikan pohon pala dan jemuran biji dan fulinya di pinggir jalan Blang Pidie – Tapaktuan. Saya menyaksikan bentangan sawah dengan saluran irigasi yang tertata. Dan yang lebih hebatnya lagi sepanjang perjalanan dari Meukek ke Tapaktuan ada laut dan tempat pendaratan ikan,” katanya tentang “gowes’ yang ia kayuh.

Bahkan, “Saya tidak mengatakan pantainya berlipat-lipat indahnya di banding dari Kuta di Bali, dan mengalahkan landai pesisir Flores, tapi itu sebuah kenyataan. Ada air terjun di pinggir di pematang pantai. Air Dingin namanya.”

“Santos” melanjutkan lagi,”Ini negeri bertuah, tapi kenapa tidak diasah menjadi ‘berlian’ dunia. Saya akan kabarkan ke seluruh ‘donya,’ inilah negeri terbaik yang pernah saya temui.”

Sentimentil. Bahkan emosional. “Santos,” kami tetap menempatkan namanya dalam tanda dua petik, seakan berseru ketika berhenti di Lhok Pawoh. Ia sengaja membiarkan rombongan terus melaju. “Saya ingin menikmati ‘ngon.’ Laut, pantai landai dan gelombang berjingkrak. Saya ingin melihat perahu kegelian di tubir pantai di gelitik gelombang.”

Ya, Lhok Pawoh, 16 kilometer dari Tapaktuan memang pantai landai, berpasir putih dan membentuk teluk setengah lingkaran. Untuk itu ia di namakan “lhok.”

Kepada “Santos” saya mengabarkan, dulu ada seorang anak negeri itu yang menjadi “sastrawan” sekaligus wartawan di Banda Aceh yang tak pernah kering-keringnya mendapat inspirasi untuk menulis “cerpen” dan puisi tentang Lhok Pawoh.

Seniman itu bernama Hasyim KS. Ia lahir di sana dan juga minta mati di sana. Dikabulkan. Ia telah berpulang dan meninggalkan banyak penggalan karya tentang “keping” pecahan kerikil surga yang dicampakkan Tuhan ke Bumi. Dan Lhok Pawoh-lah namanya.

“Gowes” Jelajah sepeda Kompas-PGN sudah tiba di Tapaktuan. Kota ini dulunya menjadi “kutub” selatan dari Aceh yang ditelantarkan dari akses pembangunan. Mungkin sampai kini.

“Tapa” dan “Tuan,” adalah legenda “Tuan” dan “Tapa” di sebuah Teluk yang kemudiannya menjelmakan sebuah nama Tapaktuan. Entahlah. Itu hanya legenda yang sulit dicarikan pembuktian empirisnya.

Tapi Tapaktuan adalah sebuah teluk yang juga menjelmakan nama bagi kota ini menjadi “Taluak” untuk sebutan anak negerinya.

Untuk diingat, Tapaktuan pernah menjadi “sentra” kota di Aceh Selatan yang membelah diri atas nama otonomi menjadi empat kabupaten dan kota. Pembelahan ini diyakini, secara retorika, akan bisa mendekatkan kemakmuran bagi anak negerinya. Otonomi kemakmuran itu menjadi “utopia” ditengah “perampokan” anggaran yang berjelaga di birokrasi pemerintahan.

Menurut “joke” teman saya yang dulu menjadi petinggi di negeri itu, sebelum di pecah atas otonomi Basri Emka, “Aceh Ketelatan” itu memang kabupaten “miskin.” Tapi setelah membelah menjadi Aceh Singkil, Aceh Barat Daya, Kota Subulussalam dan Aceh “Ketelatan,” ee… eehh.. Aceh Selatan keempatnya “bertambah” miskin. Melarat.

Untuk itu ketika “Santos” mengusik memori saya dengan Lhok Pawoh dan “Taluak” kami seperti diterjang untuk mengingat kembali bagaimana jelaga selingkuh “cabul” birokrasi di keempat kabupaten dan kota itu menukangi anggaran untuk menikmati belanja kemewahan ke Medan.

Di ujung pembicaraan saya dengan “Santos” saya mengingatkan, negeri itu adalah tanah atsiri. Tanah rempah-rempah. Di sana ada pala dengan biji dan fuli serta minyak atsirinya yang terbaik di seputar “donya.”
Di sana juga tumbuh nilam “kluet” yang rendemen dan wewangiannya tak pernah turun peringkat dari nomor satu. Baik pala maupun nilam, kini menjadi “hantu” dari fluktuasi kehidupan penduduknya.

Semuanya “kemewahan” rempah-rempah dari jejak peradaban negeri “Ketelatan” telah raib bersama ketidak pedulian para “punggawa”nya yang lebih suka bermain anggaran ketimbang yang memiskinkan kehidupan dan moralitas penduduknya tinimbang member akses bagi pengembangan produk perkebunan itu.

Kepada “Santos” saya ingatkan, kabarkanlah kepada “Dunia” tentang negeri “Ketelatan” itu. Dan saya akan menangkap gaungnya untuk kemudian menuliskannya bersama Jelajah Ketulusan.

Komentar