Jejak Kejayaan Arun di “Point A”

Penulis: Darmansyah

Rabu, 27 November 2013 | 16:22 WIB

Dibaca: 3 kali

Point A larut malam, Desember 1979. Lampu sorot. Menara bor. Slang air, dan gelombang api dari sembuan gas di sumur nomor tiga. Semburan liar yang menghasilkan suara, jet “concorde” lepas landas yang mendengung hingga ke Lhok Sukon, Landing dan Geudong.

Malam itu sebuah kerja besar dimulai. Sebuah kerja campuran, teknologi, otak dan keberanian. Kerja menjinak “blow out” semburan gas dari lading gas terbesar di lokasi pengeboran Syamtalira Arun, yang akrab di tulis Syamtalira A.

“Blow out,” yang berasal dari jatuhnya besi penahan bor dari pucuk menara yang kemudian memercik api dan lantas membakar salah satu sumur di point A. Kebakaran yang membesar menjadi semburan liar dan baru bisa padam setelah enam bulan kerja ekstra berat “Addair.”

Kerja, yang dikatakan, Thomas Riedl, rekan wartawan “reuter.” Yang pernah menyaksikan “Red Addair” bekerja menjinakkan api di lading minyak Laut Utara sangat spektakuler

Larut malam itu, saya satu-satunya wartawan lokal Jakarta, bersama lima wartawan asing dari “reuter, afp, ap, dan dua lainnya dari media perminyakan, yang bisa menyaksikan bagaimana aksi “Red Addair,” penjinak api asal Texas, dengan reputasi terbaik di dunia, saat itu, dan mungkin sampai sekarang, melakukan adaptasi dengan semburan liar gas dari perut Arun.

Tak ada catatan saheh berapa banyak gas itu terbuang dan dilahap api. Kami dibatasi dengan informasi yang sangat tertutup dari manajemen “mobil oil,” dengan alasan, bisa menganggu terganggunya kontrak pengapalan gas ke Osaka, Jepang, dan Busan, Korea Selatan terganggu dan bisa mendatang klaim.

Kami mengerti untuk tidak mem”pressure” penjelasan berdasarkan etika, bahwa yang berhak memberi presentase adalah manajemen puncak.

Kami tidak tahu spesifikasi pekerjaan yang dilakukan “Red Addair,” kemudiannya. Yang kami tahu api mampu semburan liar mampu dijinakkan untuk kemudian padam lewat pemboran miring, sembilan puluh derjat dari empat sisi dengan menyuntikkan lumpur hasil olahan yang didatangkan dari Texas. Bukan main!

Ketika November minggu kedua kami menapaki jejak perjalanan kembali ke point A, setelah tiga puluh empat tahun berlalu, rangkaian memori tentang lapangan gas Arun, yang Berjaya di ujung tahun tujuh puluhan meleleh lagi.

Rangkaian memori ketika kami bersentuhan langsung dengan lapangan gas Arun. Kenangan ketika kami “menikmati” privelese jurnalis untuk bisa mendekat ke dalam “isi perut” perusahaan perminyakan dengan “security” amat ketat itu.

Tidak hanya bisa bertemu, menyaksikan dan menganalisa lewat pemberitaan kerja “Red Addair,” yang pesonanya menjulang setelah berhasil menjinakkan semburan liar minyak di Laut Utara milik Norwegia, kami juga disuguhkan dengan pesona dari pont A yang sangat Texas. Suasana kerja yang sangat Amerika dengan gaya dan disiplin serta “fighting” tinggi.

Sebuah etos kerja bagaimana jadwal disusun dengan sistem matrik untuk kemudian diimplementasi melalui jalinan birokrasi yang pendek serta diadaptasikan secara personal oleh masing-masing person.

Point A memang sebuah contoh konkret waktu itu bagaimana cara kerja “bule” diadaptir para tenaga Indonesia yang terkadang termehek-mehek melakukannya.

Point A disahehkan temuan gasnya 24 Oktober 1971. Sebuah temuan berbentuk tapak kuda, yang diprediksi ada dua lokasi keberadaannya. Satu lokasi lainnya, hingga hari ini belum ditemukan.

Gas alam poin A, persis berada di Gampong Arun yang saat diuji jumlah cadangannya memilikii 17,1 trilyun kaki kubik. Pengukuran elektronik setelah dilakukan uji coba seismic, mealui film-film yang diambil di lapangan dan dianalisis di pusat analisis Mobil Oil di Dallas, Amerika Serikat , ladang gas Arun terletak di dalam lapisan batu gamping pada kedalaman 10.000 kaki atau setara dengan 3.048 meter.

Dari analis itu pula diketahui kandungan bertekanan 499 kilogram per centi meter, suhu 177°C, dan ketebalan 300 meter. Jumlah tersebut diperkirakan akan dapat mensuplai enam unit dapur pengolahan atau istilahnya kilang atau juga train dengan kapasitas masing masing 300 juta Standard Cubic Feet Day untuk jangka waktu 20 tahun.

Ladang gas di point A, yang kemudiannya kita tahu, terdiri dari empat buah kluster gas dan kondensat, yang dikemudian harinya setelah dibangun kilang di Blang Lancang, gas dan kondensat dikumpulkan ke unit pengumpulan di Point “A” yang selanjutnya dikirim ke kilang LNG Arun dengan memakai pipa gas berdiameter 42 inch.

Hari itu Minggu, 10 November 2013, kami datang lagi ke point A usai mengikuti “fiesta” seremoni pembangunan regasifikasi, pembangunan terminal dan dimulainya pipanisasi di Blang Lancang.

Kami datang dengan langkah terseok menyaksikan telah luruhnya semua .hamparan kejayaan “mobil oil.” Mess ekslusif, rumah sakit lapangan, kantor bedeng dan keriuahan yang tak pernah tidur. Semuanya sudah pergi.

Bangunan komplek “mobil,” begitu kanak-kanak menyapa perusahaan raksana dunia yang mereka tidak tahu kerjaannya, telah bersalin rupa. Ketika kami dekati di hari libur itu, kami baru tahu properti telah menjadi milik Kabupaten Aceh Utara. “Jadi kantor pemerintahan,” ujar seorang lelaki yang bertugas sebagai penjaga bangunan.

Kami tak mau memanjangkan mukadimah tentang bersalinnya fungsi bangunan. Walau pun kemudian kami tahu perkantoran “mobil” itu telah diserahkan kepada pemerintah untuk kemudian dipinjampakaikan ke pihak kabupeten untuk persiapan kepindahan pusat pemerintahan dari Lhokseumawe.

Langkah kami memang tergagap ketika menelusuri seluruh areal point A, perkantoran, bahkan menyaksikan bandara khusus milik “mobil” yang kini menjadi belukar. Ketergagapan kami berasal dari sebuah pengalaman masa lalu. Masa ketika “securiti” campuran tentara dan satpam yang terus mencek setiap pengunjung. Menanyai tetek bengek dan minta kartu atau surat keterangan.

Bahkan tiap kali berkunjung ke Arun, dan mendapatkan “identity card” yang merupakan tiket bebas bergerak, kami masih ditanyai kepentingan apa datang ke sana.

Hari itu, kami “merdeka” berkunjung ke point A setelah porak poranda akibat ditinggalkan usai dana gasnya di perut buminya dihisap dan menyisakan jelaga kemiskinan bagi pemiliknya. Jelaga kemiskinan yang hadir di warung-warung kopi lewat kisah yang mendera dari penduduknya setelah dihempaskan konflik bersenjata dan dituliskan dibenak mereka tentang separatis di dada “pejuang.”

Point A, Arun, Blang Lancang dan PT Arun, menyalin nama ladang gas di Gampong Arun itu telah berakhir. Para “pejuang” juga telah menang di posisi penguasa negeri. Dan setelah delapan tahun, sejak pejuang eksis Arun masih seperti dulu. Masih miskin dan dimiskin.

Komentar