Inspirasi Pokemon Go Kini Jadi “Wabah”

Penulis: Darmansyah

Selasa, 30 Agustus 2016 | 09:25 WIB

Dibaca: 0 kali

Inspirasi sukses Pokemon Go menjalar kemana-kemana dan menyebarkan kreatifitas di banayk kalangan.

Salah satunya  seorang kepala sekolah dasar di Belgia mengembangkan permainan online berburu buku.

Permainan ini sukses menarik puluhan ribu pemain hanya dalam beberapa pekan.

Pada Pokemon Go, pemain memanfaatkan fitur peta digital, GPS, dan kamera di perangkat mereka untuk berburu monster virtual di berbagai pelosok.

Namun, permainan yang dikembangkan oleh Aveline Gregoire ini, hanya dimainkan lewat sebuah grup Facebook bertajuk “Chasseurs de Livres”.

Cara bermain game ini cukup dengan mengunggah gambar dan petunjuk dari tempat mereka menyembunyikan sebuah buku agar dapat diburu pemain lain.

Saat seorang pemain selesai membaca buku yang ditemukan, mereka harus ‘melepasnya’ kembali di tempatnya semula.

“Ketika saya sedang merapikan perpustakaan, saya sadar tak ada ruang cukup untuk semua buku saya. Setelah bermain Pokemon Go bersama anak-anak, saya terpikir ide untuk melepasnya ke alam,” ujar Gregoire kepada “Reuters.” Selasa, 30 Agustus 2016.

Meski baru dibuat beberapa pekan lalu, sudah lebih dari 40 ribu orang yang bergabung dengan grup Facebook Chasseurs de Livres.

Buku-buku tersembunyi yang meliputi buku anak-anak hingga karya horor Stephen King ini dapat ditemukan di seluruh penjuru kota dan desa di Belgia. Sering kali buku tersebut dilapisi plastik bening untuk menjaganya dari hujan.

Keluarga Detournay dari kota Baudour di selatan Belgia mengatakan permainan ini telah menjadi bagian jalan pagi mereka.

Sampai saat ini, mereka telah menemukan satu buku dan meninggalkan empat lainnya untuk ditemukan orang lain.

“Putriku bilang ini seperti berburu telur paskah, hanya saja telur tersebut adalah buku,” ucap Jessica Detournay.

Ketika keluarga Detournay kembali ke rumah, mereka menerima pemberitahuan di Facebook yang menginformasikan bahwa seseorang telah menemukan dua dari buku-buku mereka.

Gregoire saat ini masih mempertimbangkan untuk mengembangkan permainan ini lebih jauh dengan menciptakan aplikasinya untuk perangkat mobil atau komputer.

Sementara itu akibat posisinya sedang berada di atas, Game Pokemon Go  akan segera membuka fitur yang memungkinkan toko atau perusahaan mensponsori titik lokasi dengan tujuan mendatangkan para pemain Pokemon Go ke tempat usaha itu.

Langkah ini membuat Pokemon Go jadi “pengganggu” bagi perusahaan Internet yang sebelumnya memberi promosi serupa.

Ke depan, toko atau restoran, mungkin bisa membuat lokasi mereka sebagai Pokestop, sebuah tempat di mana para pemain bisa mengambil Pokeball atau bola untuk menangkap monster sampai telur Pokemon.

Ini menjadikan sebuah toko atau restoran sebagai “lokasi yang disponsori,” kata CEO Niantic, John Hanke, selaku salah satu pihak yang mengembangkan Pokemon Go bersama Nintendo dan Pokemon Company.

Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, Hanke telah memberi isyarat fitur iklan macam ini akan segera hadir di Pokemon Go.

“Pihak ketiga bisa membayar ke kami untuk membuat sesuatu yang virtual pada lokasi pasti mereka. Ini adalah bujukan untuk mendorong pemain datang ke lokasi tersebut,” kata Hanke.

Nantinya, toko atau restoran bisa jadi dibebankan “biaya per kunjungan,” mirip dengan “biaya per klik” pada iklan digital Google.

Menurutnya, langkah ini akan memberikan aliran pendapatan baru, selain pendapatan dari pembelian konten digital atau kekuatan untuk para monster imut Pokemon Go.

Cara yang dijelaskan Hanke ini tampaknya akan mengancam perusahaan Internet macam Groupon, LivingSocial, dan Foursquare, yang selama ini menyebarluaskan promosi berupa potongan harga atau kupon agar konsumen mendatangi sebuah toko atau restoran.

Situs daily deals Groupon dan LivingSocial tak bersedia memberi komentar. Sementara Foursquare kepada Reuters, berkata terlalu dini untuk mengatakan dampak Pokemon Go.

Ahli pemasaran mengatakan pelaku usaha kecil mungkin akan beralih ke Pokemon Go dan mengarahkan beberapa biaya pemasaran ke game untuk perangkat mobile tersebut, namun pengeluaran terbesar mungkin masih dialokasikan ke Facebook.

Menurut Christophe Jammet, direktur perusahaan konsultan media sosial dan mobile DDG di New York, selama ini belum ada platform sosial geolokasi yang dapat memikat begitu banyak orang sekaligus untuk datang ke lokasi.

Dengan permainan Pokemon Go ini, Jammet berkata perusahaan konvensional yang selama ini melewati begitu saja strategi pemasaran digital, bisa jadi tertarik untuk memakai Pokemon Go, mengingat permainan ini juga sedang ramai dibicarakan di segala penjuru.

Perusahaan analis pasar SimilarWeb melaporkan, saat ini banyak pengguna menghabiskan lebih banyak waktu memainkan Pokemon Go ketimbang membuka jejaring sosial Facebook, WhatsApp, dan Snapchat.

Popularitas Pokemon Go saat ini nampaknya merupakan hasil dari nostalgia para penggemar Pikachu yang hadir 20 tahun lalu. Para pemain berlomba menjadi pelatih dengan menangkap sebanyak mungkin monster-monster imut.

Kesuksesan Pokemon Go tak lepas dari cara bermain yang menawarkan interaksi baru antara manusia dengan permainan ponsel, karena ia melibatkan pencarian objek monster-monster virtual di dunia nyata. Game ini memanfaatkan teknologi GPS, augmented reality, dan kamera ponsel.

Kehebohan permainan Pokemon Go yang mewabah di kalangan anak muda tercatat mampu menyaingi jejaring sosial Snapchat dan Twitter.

Pokemon Go yang memanfaatkan teknologi augmented reality ini memungkinkan para gamer seolah-olah menjadi trainer dan memburu Pokemon virtual di dunia nyata.

Game yang dikembangkan oleh Niantic Inc. asal San Francisco ini sejatinya baru resmi diluncurkan di Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru pada 4 Juli kemarin.

Data lain yang lebih mencengangkan adalah dari segi pemakaian waktu. Aplikasi Snapchat hingga pesan instan WhatsApp berhasil ditaklukan Pokemon Go.

Permainan Pokemon Go sejatinya memungkinkan pemain untuk menangkap Pokemon yang menghuni di taman, pusat perbelanjaan, trotoar, dan pedesaan di tempat-tempat seluruh dunia.

Hal ini mampu membuat para gamer ‘tenggelam’ di dunia augmented reality untuk mencari Pokemon di segala sudut lokasi.

Banyak pihak yang memperingatkan para pengguna Pokemon Go agar tetap fokus terhadap dunia nyata dan waspada dengan lingkungan sekitar demi terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Banyak yang melaporkan sejumlah kejadian berbahaya, seperti dirampok, terjatuh, hingga tertabrak mobil.

Semuanya terjadi karena para gamer tersebut terlalu asyik bermain dan fokus pada ponsel, sehingga banyak yang lalai tidak memperhatikan situasi sekitar.

Komentar