Gencatan Senjata Kemenangan Hamas

Penulis: Darmansyah

Jumat, 1 Agustus 2014 | 12:12 WIB

Dibaca: 0 kali

Sebuah gencatan senjata berdurasi tujuh puluh dua jam, atau tiga hari, akan menjadi stasion pemberhentian perang “brutal” antara pejuang Hamas dengan Israel, dan menjadi jeda pertempuran terpanjang setelah keduanya saling bunuh selama tiga pekan setengah, sejak 08 Juli 2014.

Bagi Hamas gencatan senjata ini menjadi perlambang kemenangan setelah secara simbolis pejuang Palestina paling radikal dari Jalur Gaza itu berhasil membunuh enam puluh satu tentara Israel.

Jumlah tentara Israel yang terbunuh dalam “perang Gaza” ini merupakan hasil fenomenal dari pejuang Hamas dan tercatat sebagai korban terburuk bagi negara Yahudi itu selama invasinya ke Gaza atau pun ke Lebanon Selatan.

Pejuang Hamas di Jalur Gaza keluar dari sarangnya dengan mengacungkan senjata dengan menutup wajah dengan kafiyeh sembari berteriak “Allahu Akbar.”

Jaringan televisi Al Jazzera dalam siaran “breaking news”nya Jumat subuh WIB, 01 Agustus 2014, menuliskan di “running-teks”nya “hari kemenangan bagi Gaza.”

Dengan suara terbata-bata, reporter Al Jazzera yang menyiarkan langsung suasana gencatan senjata ini dari sudut distrik Beith Hanum, Gaza City, mengatakan, Ini kemenangan paling spektakuler dari Hamas.

Surat kabar “Middle East Monitor” dalam edisi onlinenya juga memberi kutipan kata “kemenangan” bagi Hamas dalam perang brutal di Gaza. “Mereka menutup hari gencatan senjata ini dengan membunuh enam puluh satu tentara Israel. Sebuah angka paling fenomenal dalam sejarah perang yang tak berimbang,” tulisnya.

Gencatan senjata Israel dan Hamas, yang dinamakan i gencatan senjata kemanusiaan, akan berlangsung selama tiga hari atau tujuh puluh dua jam.. Kesepakatan itu diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry dan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon di Kairo, Mesir, Jumat, 01 Agustus, 2014.

Gencatan senjata diterapkan setelah berlangsung pertempuran selama tiga setengah pekan yang menewaskan lebih dari 1.400 warga Palestina, sebagian besar warga sipil, dan puluhan ribu orang lainnya mengungsi.

Korban di pihak Israel 61 orang tentaranya, dan tiga penduduk sipil.

Israel mendapat kecaman keras atas penembakan roket ke pemukiman penduduk yang berujung dengan banyaknya korban tewas di pihak Palestina.

Amerika Serikat menyatakan operasi militer Israel di Gaza telah membunuh dan melukai terlalu banyak warga sipil Palestina.

Seorang juru bicara mengatakan, Israel harus berusaha lebih keras dalam usaha melindungi warga sipil.

Gedung Putih menyatakan penembakan Israel terhadap sekolah PBB, yang dipakai sebagai tempat berlindung warga sipil Palestina, sangat tidak bisa dibela dan tidak bisa diterima.

Amerika adalah sekutu terdekat Israel dan memasok sebagian besar senjata yang digunakan di Gaza.

Sebelumnya, pada sebuah pertemuan Dewan Keamanan, pejabat senior PBB untuk masalah kemanusiaan mendesak pemberian bantuan untuk Gaza.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Jhon Kerry mengatakan kedua pihak akan melakukan perundingan pukul 08.00 pagi waktu setempat.

“Gencatan senjata ini sangat penting bagi warga sipil tak berdosa untuk mendapatkan bantuan kemanusiaan,” kata Kerry.

“Selama periode ini, warga sipil di Gaza akan menerima bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan, dan kesempatan untuk melaksanakan hal-hal penting, termasuk menguburkan orang mati, merawat yang terluka, dan menyimpan persediaan makanan,” tambahnya.

Pihak Hamas sudah mengkonfirmasi gencatan senjata tersebut. Melalui juru bicaranya, Fawzi Barhum mengatakan kedua belah pihak akan menghormati gencatan senjata yang disepakati.

“Hamas menerima gencatan senjata untuk bantuan kemanusiaan selama 72 jam,” katanya.

Komentar